Confession

Memang sudah saatnya aku lelah.. membuat semua menjadi kabur.. Menutup diri.. Pura-pura tersenyum tegar dan berkata “I am okay”

Rasanya hidupku terlalu singkat jika semua kesempatan yang Allah berikan padaku hanya kusimpan sendiri.

Tidak ada kehidupan yang sempurna di dunia ini. Manusia akan selalu merasa kurang, yang mana Allah menciptakannya agar kita tahu bagaimana caranya bersyukur. Karena itu aku ingin mengucapkan Alhamdulillah sebelum aku menulis lebih lanjut untuk bersyukur sebesar-besarnya atas segala yang Tuhan berikan.

Layakya berlian yang semakin berkilau setelah ditempa berkali-kali, aku percaya kualitas seseorang akan semakin baik seiring orang tersebut menerima pembelajaran berharga. Dan aku merasa Tuhan memberikan aku kesempatan lebih dibanding orang lain.

Saat lahir, Allah memberiku tato di tangan kiriku. Karena tato ini dari Allah, tentu saja ini Tato halal, walaupun bukan merek Hena. Layaknya tato yang melekat di lengan preman, tato dari tuhan ini juga membentang panjang sepanjang lengan kiri dan membuat orang yang pertama kali melihatnya terkejut. “what happen with your hand?” “are you alright?” “did you get an accident?”, sering sekali aku mendengar pertanyaan itu. Walaupun sampai sekarang masih terdengar offensive di telingaku, namun aku lebih senang jika orang bertanya. Tandanya mereka sudah tidak sungkan untuk bertanya hal sebenernya juga tidak nyaman mereka tanyakan. Aku pernah bercanda pada salah satu teman baikku di Sydney “Oh this is Tattoo mate”, dan dia pun terkejut seketika “Impossible!”. Aku tertawa dan melanjutkan “LoL yes this is Tattoo, I will tell you the full story later”. Tapi sayangnya karena saking banyaknya tugas, aku belum sempat menjelaskan padanya.

Ya.. Nama tato dari Tuhan ini adalah Port Wine Stain. Sejenis tanda lahir berwarna merah keunguan, mirip bercak anggur. Tidak ada gangguan kesehatan yang ditimbukan tato alami ini padaku. Namun orang yang memiliki ini dibagian wajah bisa mengalami Sturge Weber Syndrome yang dapat cukup mengganggu kesehatan, kesempatan lebih yang diberi Allah untuk mereka yang mengidapnya dan untuk orang lain sebagai kesempatan untuk beribadah menolong sesama.

Terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara, membuatku terjangkit sindrom anak tengah. Apa lagi adikku lahir kurang dari dua tahun setelah aku lahir. Membuat orang tuaku tidak memberikan cukup perhatian pada anaknya yang berbeda dan selalu diliputi tanda tanya sejak kecil mengenai perbedaan pada dirinya. Orang tuaku tidak pernah membawaku ke dokter untuk memeriksakannya. Bahkan hampir tidak pernah membicarakannya denganku. Aku kadang merasa sangat sedih karena aku tidak punya seorang pun yang mau berbicara tentang ini. Tentang apa ini, apa resikonya, apa bisa hilang, apa harus dihilangkan dan seterusnya. Kebimbangan ini adalah satu tepaan yang sangat keras yang membentuk karakterku. Yaitu bagaimana aku harus berjalan sendiri tanpa ada seorangpun menuntunku dan menunjukan jalan. Tapi sejujurnya ini juga menggoreskan luka yang mungkin tidak akan sembuh. Yaitu perasaan bahwa mungkin aku bukan orang yang cukup berharga untuk dicintai. Sedikit banyak merendahkan self-esteemku. Tapi setidaknya saat ini aku sudah sadar, dan sedikitnya bisa menyikapinya secara lebih bijak. Masih sedikit kurasa.

Aku tidak mau membahas itu lebih lanjut mengenai apa yang telah orang tuaku perbuat. Manusia berbuat salah, manusia sebenarnya egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri, manusia sebenarnya cukup diskriminatif terhadap apa yang mereka rasa cantik dan tidak. Setidaknya aku tahu itu. Tapi dari hal itu aku sadar, bahwa aku tidak boleh menjadi manusia seperti itu, dan setidaknya aku bisa mengubah orang-orang disekelilingku agar lebih bijak untuk menyikapi kekurangan yang ada pada dirinya maupun orang lain.

Usiaku hampir menginjak seperempat abad. Akhirnya orang tuaku khawatir padaku. Kekhawatiran yang sudah kutanyakan pada diriku sendiri semenjak aku berusia kurang lebih 12 tahun. Yaitu bagaimana aku bisa menikah. Namun memang pada dasarnya aku yang harus menentukan langkahku sendiri.

Beberapa orang berkata, jika cinta, harusnya tato natural ini tidak jadi masalah. Namun, menurutku tidak adil juga jika aku memaksakan kehendakku. Memaksakan pada siapa yang menjadi suamiku kelak, untuk menerima apa yang kufikir benar padahal menurutnya sangat salah. Membuatnya kecewa seumur hidup mungkin akan lebih menyakitkan untukku daripada sakitnya upaya natural tattoo removal.

Sejujurnya, tato ini sudah menjadi bagian hidupku yang sangat berharga selama 24 tahun aku hidup di dunia ini. Tato ini menjagaku dari kemaksiatan, dan menuntunku ke jalan yang lurus. Tato ini membuatku lebih pandai bersyukur dan selalu tergerak membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Mungkin aku menyukainya dan membutuhkannya. Namun itu baru pemikiranku. Aku tetap harus memeriksakan lebih lanjut, mengenai apa yang mungkin terjadi ketika ini tetap kupertahanku.

Aku tahu kau pasti terkejut membaca ini. Karena Mahaning yang kau kenal mungkin terlihat sangat kuat dan ceria. Bukannya aku ingin mengenakan topeng di depan kalian. Aku hanya merasa ada hal lain yang lebih berharga yang perlu kubagikan selain kesedihan. And please, dont feel sorry for me after reading this. I am not 100% OK. But I am still alive and I am learning to make my life and life of everyone I love be better and more meaningful.

Alhamdulillah. I finally can write this in my blog. Do not hesitate to leave comment or contact me if you have any thought regarding this post. I will really appreciate that 🙂