Who am I without Islam? (PART I)

Ask my parents, who I was around 10-15 years ago?

Ask my childhood friend, who I was when we were in elementary school or in junior high school?

Ask my sister, ask my brother… You will get similar answer

I was rebellious, ignorant, vandal, and unstoppable

I did what I want to do, without limit

I never realize that I am a woman. I never realize that I am a Muslim.

I can’t count anymore how often my parents getting trouble because of my mistake

It is very long story to be at this stage, to be this kind of person.

But it is a collection of Allah’s help that save me when I almost falling to the abyss

The first help is when I was in Junior High School

It is still really clear for me. The memory when my parents put me in an Islamic boarding school. They hope me to be a better person that has good Aqidah & Ahlaq. But I did not get and did not feel anything anyting joining that school. It felt like a very un-modern and outdated education.

I learned about Tafsir, Hadits, Nahwu, Sorof, Fiqh, Faro’id, etc.. but i don’t know the meaning of each teaching. I just learned for the sake of good mark because I like to compete. And at least my parents still proud of me despite of my bad behavior.

I was a person who got punishment a lot from the school because I often run away from the school to watch movie in the cinema, skip school activity, dating, and so on.

I just did not feel that I was belong to that place at that time.

 

So in short… I ran away from there and did not want to come back

Literally ‘ran away’. If you watch Shawshank Redemption, that is exactly what I mean.

 

Everyone in school was looking for me. They though i was kidnapped or something

My parents was really really mad at me. They were ashamed.

They did not want to speak to me. And act like they did not care anymore.

 

So, I once was trying to kill myself with kitchen knife. I thought  it is better to die rather than live without love from my parents, from anyone

I was crying..

“No one care about me and no one love me. I don’t have reason to live anymore”

But luckily suddenly my father came and stop me. He shouted at me

“Do you think killing yourself will solve all of your problem?! Allah will cursed people who is killing herself! You will have no place except Hell! Forever and ever!. Open your eyes! Do not despair of God help!”

And I was just crying and crying

Then my father asked me to take wudhu (ablution) and pray Taubat. I went to ablution room and locked myself there in about 2 hours crying.

 

I cannot imagine how if my father is not a Muslim?

How if he does not tell me that killing myself is an unforgivable sin and I will be in hell forever?

I definitely killed myself at that time, or if I couldn’t.. I will continue to hate my life, never believe that actually Allah never sleep, and will help me right away when I was down

 

So it is not me who is the strong girl, but Islam teach me..

That when I was down, I need to wake up and believe that God has beautiful plan

 

Alhamdulillah

 

 

Advertisements

Confession

Memang sudah saatnya aku lelah.. membuat semua menjadi kabur.. Menutup diri.. Pura-pura tersenyum tegar dan berkata “I am okay”

Rasanya hidupku terlalu singkat jika semua kesempatan yang Allah berikan padaku hanya kusimpan sendiri.

Tidak ada kehidupan yang sempurna di dunia ini. Manusia akan selalu merasa kurang, yang mana Allah menciptakannya agar kita tahu bagaimana caranya bersyukur. Karena itu aku ingin mengucapkan Alhamdulillah sebelum aku menulis lebih lanjut untuk bersyukur sebesar-besarnya atas segala yang Tuhan berikan.

Layakya berlian yang semakin berkilau setelah ditempa berkali-kali, aku percaya kualitas seseorang akan semakin baik seiring orang tersebut menerima pembelajaran berharga. Dan aku merasa Tuhan memberikan aku kesempatan lebih dibanding orang lain.

Saat lahir, Allah memberiku tato di tangan kiriku. Karena tato ini dari Allah, tentu saja ini Tato halal, walaupun bukan merek Hena. Layaknya tato yang melekat di lengan preman, tato dari tuhan ini juga membentang panjang sepanjang lengan kiri dan membuat orang yang pertama kali melihatnya terkejut. “what happen with your hand?” “are you alright?” “did you get an accident?”, sering sekali aku mendengar pertanyaan itu. Walaupun sampai sekarang masih terdengar offensive di telingaku, namun aku lebih senang jika orang bertanya. Tandanya mereka sudah tidak sungkan untuk bertanya hal sebenernya juga tidak nyaman mereka tanyakan. Aku pernah bercanda pada salah satu teman baikku di Sydney “Oh this is Tattoo mate”, dan dia pun terkejut seketika “Impossible!”. Aku tertawa dan melanjutkan “LoL yes this is Tattoo, I will tell you the full story later”. Tapi sayangnya karena saking banyaknya tugas, aku belum sempat menjelaskan padanya.

Ya.. Nama tato dari Tuhan ini adalah Port Wine Stain. Sejenis tanda lahir berwarna merah keunguan, mirip bercak anggur. Tidak ada gangguan kesehatan yang ditimbukan tato alami ini padaku. Namun orang yang memiliki ini dibagian wajah bisa mengalami Sturge Weber Syndrome yang dapat cukup mengganggu kesehatan, kesempatan lebih yang diberi Allah untuk mereka yang mengidapnya dan untuk orang lain sebagai kesempatan untuk beribadah menolong sesama.

Terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara, membuatku terjangkit sindrom anak tengah. Apa lagi adikku lahir kurang dari dua tahun setelah aku lahir. Membuat orang tuaku tidak memberikan cukup perhatian pada anaknya yang berbeda dan selalu diliputi tanda tanya sejak kecil mengenai perbedaan yang ada pada dirinya. Orang tuaku tidak pernah membawaku ke dokter untuk memeriksakannya. Bahkan hampir tidak pernah membicarakannya denganku. Entahlah, apa mungkin karena pendidikan mereka yang kurang tinggi sehingga mereka parno akan hal-hal buruk yang mungkin terjadi, atau alasan lainnya, yang jelas aku tidak mendapat cukup support psikologis dari orang tuaku. Namun aku bersyukur ada beberapa orang, ada beberapa hal dalam hidupku yang membuatku belajar bahwa dibalik kekurangan, ada dorongan kuat yang membuatku menjadi pribadi yang lebih tangguh dan lebih bijaksana.

Usiaku hampir menginjak seperempat abad. Akhirnya orang tuaku khawatir padaku. Kekhawatiran yang sudah kutanyakan pada diriku sendiri semenjak aku berusia kurang lebih 12 tahun. Yaitu bagaimana aku bisa menikah. Namun memang pada dasarnya aku yang harus menentukan langkahku sendiri.

Beberapa orang berkata, jika cinta, harusnya tato natural ini tidak jadi masalah. Namun, menurutku tidak adil juga jika aku memaksakan kehendakku. Memaksakan pada siapa yang menjadi suamiku kelak, untuk menerima apa yang kufikir benar padahal menurutnya sangat salah. Membuatnya kecewa seumur hidup mungkin akan lebih menyakitkan untukku daripada sakitnya upaya natural tattoo removal.

Sejujurnya, tato ini sudah menjadi bagian hidupku yang sangat berharga selama 24 tahun aku hidup di dunia ini. Tato ini menjagaku dari kemaksiatan, dan menuntunku ke jalan yang lurus. Tato ini membuatku lebih pandai bersyukur dan selalu tergerak membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Mungkin aku menyukainya dan membutuhkannya.

Aku tahu kau pasti terkejut membaca ini. Karena Mahaning yang kau kenal mungkin terlihat sangat kuat dan ceria. Bukannya aku ingin mengenakan topeng di depan kalian. Aku hanya merasa ada hal lain yang lebih berharga yang perlu kubagikan selain kesedihan. And please, dont feel sorry for me after reading this. I am not 100% OK. But I am still alive and I am learning to make my life and life of everyone I love be better and more meaningful.

Alhamdulillah. I finally can write this in my blog. Do not hesitate to leave comment or contact me if you have any thought regarding this post. I will really appreciate that 🙂