Give a Time for My Nerve to Heal

Ini adalah update dari kisah operasi gigi gw Desember lalu. Setelah melewati masa-masa pahit dan kelam, akhirnya gw udah bisa makan dengan normal. Walaupun ba’al dibagian bibir kiri gw belum sepenuhnya hilang.

Oke, mari kita mulai ceritanya dari post-surgery ya.

Jadi seminggu awal post surgery, makan adalah hal yang paling menyiksa. Disitu gw baru sadar, bahwa ketika makan, selain ngunyah, mulut melakukan aktivitas penarikan makanan untuk masuk ke tenggorokan. Dan karena daerah operasinya kayaknya belum bener-bener kering,  setiap mau narik makanan sakitnya bukan main. Akhirnya gw cuma makan bubur sambil ndangak (posisi kepala menengadah ke langit) supaya buburnya masuk straight into my throat. Bahkan untuk minum pun gw perlu ndangak, karena bibir dideket area operasi ga bisa merapat kegelas, wal hasil kalo ga ndangak airnya akan berceceran.

Kayaknya gw memang meremehkan kasus gigi gw. Memang impaksi yang di dagu bukan impaksi biasa. Bahkan pas gw searching tentang kasus impaksi gigi pre-mollar (gigi di depan gigi geraham), mostly yang keluar adalah jurnal. “Metode bla bla bla untuk menangani impaksi gigi pre-mollar” dan lain sebagainya. Gw pikir emang rare case dan sekalinya ada layak to be published. Tapi gw ga nyangka aja akan segininya proses post surgerynya. Gw sampe mendadak cuti kerja 2 hari gara2 proses recovery ini.

Setiap makan gw nangis. Ya selain sakit gw sedih aja. Ngebayangin sampe kapan gw kayak begini. Nyokap gw sampe gemes ngeliatin gw nangis terus.

“Kamu kenapa sih ning? Cowok masih banyak kali” Celetuk nyokap gw yang mengira gw nangis gara-gara putus cinta.

“Bukan ma.. ini gigi yang sakit. Itu juga sakit, tapi ini lebih sakit.. Hiks hiks” ujar gw

“Yaudah minum pain killernya kalo udah sakit gitu. Jangan kayak anak kecil lah masa nangis sampe sesengukan gitu”

Lalu gw pun minum pain killer untuk meredakan rasa sakit.

Akhirnya di hari keempat gw udah bisa makan dengan kepala tegak. Masih sakit buat nyedot. Tapi jauh lebih mending daripada sebelumnya.

Kira-kira di hari kedelapan, setelah rasa sakit mulai menghilang perlahan, gw pun mulai menyadari bahwa bibir gw sebelah kiri bawah (dekat area operasi) mati rasa. Gw coba taro es batu ga berasa. Pas pake gincu juga ga berasa, jadi gw ga bisa gincuan tanpa ngaca lagi, soalnya bisa belepotan.

Gw mulai mencari-cari info di Internet how could that happen. Dan ternyata mati rasa itu kemungkinan besar diakibatkan trauma atau kerusakan saraf saat proses operasi bedah mulut. Kalau trauma katanya sih bisa sembuh, kalo rusak, harus operasi apa gitu. Gw langsung panik, amit-amit kalo sampe rusak. Mesti cuti kerja terus dong gw buat operasi.

Gw pun dateng ke dokter orto gw buat menceritakan tentang bibir kiri gw yang mati rasa. Dengan santai dia bilang bahwa itu normal. Gw disuruh sabar dan nunggu sambil rutin minum Vitamin B12 (200mcg), yaitu neurobion warna biru. Setelah itu gw pun menunggu. Sampe 2 minggu-an ga ada perubahan yang signifikan, akhirnya gw ke dokter lain untuk minta second opinion. Gw ke Siloam Semanggi, dan ketemu dokter bedah mulut. Setelah gw cerita keluhan gw, jawabannya sama aja ternyata. Gw disuruh nunggu sarah gw pulih. Baiklaah. Emang kayaknya gw aja yang kurang sabar. Tapi kali itu gw dikasih obat yang dosisnya lebih tinggi dari yang dokter orto gw kasih. Gw dikasih Methycobal dan Neurobion warna merah (B12 5000mcg). Setiap habis minum itu, rasanya ada kesemutan di daerah operasi dan sedikit kedutan. Kalo kata dokternya itu tandanya obatnya bekerja,

Sekarang obat dari dokternya udah abis. Bibir gw juga udah lumayan bisa ngerasain sesuatu walau rasa kesemutannya masih ada. Tapi karena belum sembuh total gw tetep minum neurubion yang biru sesekali.

Pengalaman kecil namun menyadarkan gw pada hal penting. Bahwa sometimes I need give a time to my trauma to heal. Whatever trauma is that. I cannot just drink pain killer all the time to camouflage the feeling.

If it is hurt, let be honest that it is hurt.

So that when I say that I am healed. I am totally heal.

Sometimes God give us hurdles because he want to see if we are strong enough

Sama seperti ketika Allah memberi gw gigi lebih yang posisinya cukup rumit.

Kalo ga dioperasi bisa kista (udah ada yang mengalami dan harus operasi yang lebih kompleks). Kalo dioperasi ya kayak gw sekarang, mesti melewati tahap-tahap yang painful.

I feel like there is no good deal for me, huh?

Tapi itulah rahasia Tuhan ketika ingin menguji hambanya agar menjadi pribadi yang lebih kuat.

Semoga kita semua selalu lulus ujian dariNya

Advertisements

I want my kids proud to have well educated person as their best teacher

Well, that is quite long sentence to be a Title.. and definitely quite bold right?

Yupp, I want to make it as clear as possible.

I don’t mean to be offensive. I just want to share some of my experiences and a little bit of my view towards women and education.

When I was in junior high school, my parents put me in Islamic School. It is not so-modern school. Most of we learned is about religion. So we a little bit left behind in science, math and other general studies. The mindset of the student is really shaped by the teaching. Most of my friends believe that their biggest success is actually to marry after they finished high school and soon having a children. I just like “Whaaat?.. Is it just me who disagree with that?!”. I am thinking.. why it sounds so silly for me. I am really sorry if one of my junior high school friend read this. But I totally do not get it.

Ok, let me share one of my experience that actually quite fresh.

Around a month ago I met my friend’s younger sister-in-law. She is 18 years old. Her husband, which is my friend’s older brother, is far older than her. She married just after she graduated from senior high school, and have a baby girl already right now. She said to me

“We need to differentiate the way how we raise a girl and boy”.

“Like what?” I asked

“We should not give a girl an option, because they will follow her husband. But we need to always give a boy option, so that they can learn to take decision”

I actually really want to criticize her view. I totally disagree. But I think, it will just trigger a never ending debate. So I just silent at that moment.

And in a short, like a week after that. She watsapp me.

“Hi Haning. How are you?. Last time you told me that you are interested in makeup stuff. I would like to offer you a lipstick if you are interested to buy”

I replied “Sure! What brand is that?”

She sent me a picture. It is Kylie lipstic

“Wow. How much is that?”

“It is 200K rupiah each” She answered

And I just like “That is impossible!” The original one should be arround 550K rupiah! And if she sell the imitation version, it is too expensive anyway. If she know that I have interest in makeup she should know that i have quite good knowledge about makeup and its price. But what she does is selling it to me without check the price on the internet. Alright. And to make her to not feel bad, finally I said that Kylie lipstick is too dry on my lips, so i cannot take that.

But seriously. This makes me worried about how she will raise her children. She perhaps does not need to think about financial matter as her husband works. She could register her daughter to a good school. But I think, the education it self is not enough if the mother build mindset which hold the daughter for the advancement.

I remember the question that is really often asked to women in my country

“Why do you study until high degree? You will take care of your children anyway”

Please remember my answer!

“That is why! Because I will take care of my children, i would be the best teacher for them!. I will teach them how to be excellent student and work as best and as smart as they can to achieve their dream!”

And I can prove my answer. I have seen, most of successful student in my school is raised by well educated parents, include well educated mother. It is easier for children to success when they have reliable adviser to help them make a decision.

For example, from what I see, most of LPDP (scholarship from Indonesia Ministry of Finance) awardee have well educated mother. Their mother graduated from Master degree, or a specialist doctor, or successful career woman.

Yes there is also outlier case. Me is an example. Same with my friend’s case, my mother married just after she graduated from high school. Honestly, I feel I need to do extra work to study, get a good mark and decide what’s next. When I graduated from high school and thinking what university, what study should I take, and how to get there, I didn’t have good adviser from my family. I need to ask my friends, ask my teacher, googling it myself. So yeah, if the children does not have enough willingness, they cannot compete the children who raised by well educated mother.

Yes, i am still single. Perhaps you think it is not my capability to say this. However this is just my view as a girl who has a dream.

I would like to point out a thing for you to remember

There is no teaching in Islam that prohibit women pursue the education. Prophet Muhammad’s wife, both Khadijah RA and Aisyah RA, are very smart woman. Khadijah is one of the most successful entrepreneur, and Aisyah is the best transmitters (perawi).

Because, if you let women to be educated, you safe entire generation.

Father – The one who want to be loved too.

Bandara Internasional Soekarno Hatta, 2015

Akhirnya saat itu tiba. Saat dimana akhirnya aku harus berpisah dengan keluargaku untuk merantau ke negeri kangguru guna mencari ilmu.

Rasa sedih karena harus meninggalkan orang yang kucintai untuk waktu yang tidak singkat, khawatir karena aku harus beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar baru, dan senang karena akhirnya cita-citaku berkuliah diluar negeri hanya tinggal menunggu hari. Semua bercampur aduk jadi satu.

Aku ditemani Ayah, Ibu, dan kedua adikku, Seli dan Tatah. Kami berangkat cukup awal untuk menghindari kemacetan Bekasi-Jakarta yang tidak terduga.

Saat aku hendak masuk untuk check-in bagasi dan berpamitan dengan semuanya. Mata ibuku berkaca-kaca. Terlihat kesedihannya melepaskan salah satu anaknya ke negeri nan jauh sana.

“Jaga diri baik-baik ya ning. Jangan lupa sholat 5 waktu dan berdoa supaya selalu dimudahkan dalam mencari ilmu” Ujar ibuku yang membuatku jadi ikut berkaca-kaca. Setelah itu aku bersalaman mencium tangannya. Kemudian beralih menyalami ayahku. Dengan tegar dan tidak menunjukan kesedihan sedikitpun ia berpesan.

“Belajar yang rajin. Selalu sabar kalo ada kesulitan. Jangan gampang emosi. Jangan tidur habis subuh. Jangan boros-boros” Ujarnya simple. Seperti biasa. Banyak kata-kata ‘jangan’ pada kalimatnya.

“Iya. Haning ga pernah boros kok” Ujarku sambil cengengesan.

Lalu aku bersalaman dengan adik-adikku dan bergegas izin untuk masuk pintu checkin bagasi.

Sepanjang jalan aku teringat wajah ibuku. Matanya yang berkaca-kaca. Juga ayahku, yang kelihatannya selalu tegar dan keras, namun sebenarnya selalu mendoakan anaknya diam-diam.

Ya, dia yang sebenarnya juga ingin dicintai namun terlalu bingung untuk mengungkapkannya.

Harinya dimulai dari jam setengah tiga pagi. Ibuku bercerita, bahwa ayahku lah yang selalu membangunkannya untuk melaksanakan shalat tahajud. Namun karena tahu kalau ibuku lelah. Ayahku biasanya membangunkannya sekitar jam 4, setengah jam sebelum subuh. Setelah shalat biasanya ayahku berdzikir dan mengaji. Baru ketika hendak subuh ayahku bergegas ke masjid untuk shalat berjamaah.

Seusai shalat shubuh, ayahku mengadakan taklim keluarga di rumah. Dia biasanya membacakan 2-3 buah hadits dan menerangkannya. Aku sering sekali tertidur karena masih mengantuk akibat tidur larut malam. Begitu pula adik-adikku. Sesekali ia memanggil aku yang hampir tertidur dengan nada tinggi agar aku bangun.

“Makanya kalo tidur jangan kemaleman!. Rahmat Allah itu adanya di pagi hari!. Harusnya kamu jemput, bukan malah tidur habis subuh!” Ujarnya dengan nada galak seperti biasa. Mungkin karena sudah lelah juga setiap hari menegurku yang tidak kapok-kapok.

Setelah taklim, sekitar jam setengah 6 ayahku berangkat kerja. Karena memiliki usaha sendiri, ayahku bebas mengatur waktunya. Biasanya ia pulang sekitar jam 11 siang untuk Ishoma. Kadang setelah itu langsung kembali ke tempat kerjanya. Kadang kembali pada sore hari ketika usaha akan ditutup.

Biasanya ia tidur jam 9 malam agar bisa bangun tahajud. Namun tidak jarang juga tidur jam 11-12 karena harus mengurus beberapa hal. Namun aku selalu salut padanya. Tidur jam berapapun, ia selalu bangun jam setengah 3 pagi dan tidak tidur selepas subuh. Kadang aku malu. Aku masih muda. Namun sering sekali merasa waktu tidurku belum cukup dan karena itu butuh tidur seusai subuh.

Dia bukan robot atau malaikat. Tentu saja dia lelah atas perjuangannya sangat berat. Perjuangan untuk selalu memenuhi kebutuhan keluarganya. Agar istri dan anak-anaknya bisa makan makanan bergizi, berpakaian bagus dan tidak terhina di masyarakat. Perjuangan untuk menjadi sosok panutan bagi keluarganya. Untuk selalu konsisten beribadah dan berkerja dengan giat. Selelah apapun, ia selalu menjadi sosok yang kuat dan tegar. Ia tidak pernah berkata “lelah” sekalipun seumur hidupnya.

Kelelahan yang dipendamnya memang kadang membuatnya keras dan kaku. Ia lupa waktunya liburan dan bersenang-senang dengan keluarga. Di pikirannya hanya ada kewajiban untuk mencari nafkah. Baginya itu lah kebahagiaan terbesar yang bisa ia berikan.

Kadang kami lupa jerih payahnya. Dan melabelkan bahwa beliau adalah orang yang kaku dan keras. Aku lebih sering berbicara dengan ibuku. Menceritakan hari-hariku kemudian bergantian mendengar ceritanya. Tidak pernah aku atau saudaraku yang lain curhat pada ayah. Karena jawabannya seringnya mengkritisi.

Tujuannya baik. Hanya saja mungkin ayah terlalu terfokus pada hal yang harus kami perbaiki, tanpa benar-benar memberi suport secara emosional terlebih dahulu. Ayah bingung, sebenarnya ia ingin menjadi seperti ibuku, bisa menunjukan kasih sayangnya dengan leluasa. Tapi ia selalu tidak tahu bagaimana caranya.

Ia yang mendidik anaknya supaya menjadi anak yang tegar dan pemberani. Baik anak laki-laki maupun anak perempuannya. Berbeda dengan ibuku yang mudah cemas dan kadang overprotektif. Aku ingat awal-awal aku belajar menyetir mobil. Ayahku menyuruhku menyetir mobil dari Bekasi sampai Malang. Ibuku langsung cemas.

“Pa, beneran si haning yang nyetir?” Tanya mamaku

“Iya. Pokoknya papa percaya sama kamu ning” Jawabnya santai

Dan kepercayaannya bukan hanya sebatas kata-kata. Sepanjang jalan ia tertidur lelap. Membiarkanku menyetir dengan berberkal GPS yang di pasang di mobil. Beberapa kali aku hampir menabrak. Jantungku mau copot rasanya. Ibuku sudah marah-marah supaya ayahku menggantikanku menyetir. Tapi ayahku bersikukuh agar aku tetap menyetir.

Rute Bekasi-Malang bukan rute yang mudah. Kadang untuk menghindari kemacetan di jalur pantura, aku harus mengambil jalur agak ke tengah yang biasanya mimin pencahayaan dan berkelok tajam. Kadang harus berhadapan dengan bis malam yang supirnya punya 7 nyawa. Membuatku terus beristighfar sepanjang jalan.

Seperti itulah ayahku mendidik anaknya sedari dulu. Pendidikan semi militer yang menuntut anaknya untuk super mandiri dan tidak mudah menyerah. Kadang anak laki-lakinya saja kewalahan mengikutinya. Bersyukur ada ibuku yang mengingatkan ketika sudah dirasa kelewatan.

Sesampainya di Malang aku tertidur seharian dengan jantungku yang masih berdetak kencang. Sampai dalam mimpiku, aku seperti menyetir di jalan yang di kelilingi jurang. Rasanya aku cukup trauma.

Sedari kecil hidupnya memang sulit. Kakek nenekku hanyalah petani di lahan milik orang. Kadang dari bekerja pagi hingga petang mereka mendapat upah berupa uang, kadang hanya hasil tani yang hanya cukup untuk makan 1-2 hari. Beruntung ayahku tidak perlu membayar biaya sekolah karena mendapat beasiswa. Sembari sekolah ia berjualan opak. Aku ingat, ketika sedang menyetir di kemacetan sering ada orang berjualan makanan. Ayahku berkata.

“Dulu papa jualan itu” ujarnya sambil menunjuk orang yang berjualan opak

“Wah iya?” tanyaku penasaran

“Iya. Dulu mbokmu tiap pagi goreng opak. Papa yang yang jual di sekolahan. Kalo libur papa jualan sampe sore sama mbah. Dari lemah duwur  sampe alun-alun kota Malang”

“Jauh banget jualannya. Naik apaan pa?”

“Jalan kaki”

“Ha?! Itu jauh banget pa. 10 kilo lebih kali”

“Ya makanya sampe sore” Jawabnya sembari mengenang  masa lalu.

Kami anak-anaknya terdiam mendengar kisahnya. Sungguh beruntungnya kami terlahir di keluarga sudah berkecukupan, ditopang seorang pekerja keras yang tak pernah mengeluh. Tak pernah hitung-hitungan atas apa yang ia berikan.

Ia tak pernah meminta apapun dari anak-anaknya. Baginya, yang penting anaknya bisa hidup mandiri dan sukses. Itu sudah membuatnya lebih dari senang.

Setelah aku lulus dari UNSW dan mulai bekerja di tempat kerjaku yang sekarang ayah berkata padaku

“Pendidikanmu tinggi. Kamu kerja di tempat yang bagus. Bisa dibilang papa udah cukup lega ngeliatnya. Tapi sepanjang apapun titel kamu, segede apapun gaji kamu, jagalah ahlaq kamu. Jangan sombong. Semua itu amanah yang dititipin Allah yang akan dimintai pertanggung jawaban” Ujarnya. Lalu dia menyambung “Jangan lupa, cari jodoh yang lebih baik dari papa. Yang selalu bisa menuntun kamu pada kebaikan”

Aku terharu mendengarnya. Cukup jarang ayahku bisa berkata-kata dengan nada lembut dan tatapan sayu seperti itu. Artinya ia memang benar-benar meminta dengan setulus hatinya.

“Aamiiin doain terus ya pa” jawabku.

 

Ayah..

Sikapku kepadamu tidak semanis sikapku pada Ibu

Aku kadang meragukan keputusanmu

Aku kadang tidak bisa melihat kasih sayang mu

Maafkan aku..

Aku sadar, pundakmu yang kuat kini mulai rapuh

Kau juga butuh kawan untuk bercanda tawa

Kau juga ingin anak-anakmu mencintaimu seperti mereka mencintai ibunya

 

Kami melihat semuanya.

Keringatmu. Kelelahanmu. Ketegaranmu.

Kau tidak peduli. Kau hanya selalu ingin kami semua mendapat yang terbaik.

Maafkan aku yang terkadang kurang sabar berhadapan denganmu. Aku lupa kau sedang kelelahan.

Terimakasih atas doa-doa dan kasih sayang yang selalu kau curahkan diam-diam untuk kami semua.

Semoga Allah selalu membalas semua ketulusanmu, mengijabah doamu.

Semoga aku selalu bisa menjadi anak sholehah kebanggaanmu. Semoga kita semua selalu menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah , warrahmah.

 

 

Mother – Revealing the Hidden Salary

Malam itu, selepas rapat dengan client aku kembali ke ruangan yang berisikan teman-teman tim dari kantor. Mereka mengerubungi satu orang yang kelihatannya sedang bercerita sesuatu. Aku mendekati mereka untuk nimbrung.

“Kenapa kenapa sih?” Tanyaku penasaran

“Ini kasian banget ada temen gw lahiran tapi salah ngejen. Eh kerobek” ujarnya

“Kerobek?” Tanyaku tidak paham

“Iya kerobek kebawah gt”

“Aaaa.. Astagfirullah!!” Aku berteriak histeris sambil menutup telinga

“Iya. Katanya sakit banget”

Lalu project managerku yang sudah memiliki 1 anak membalas

“Yang ga ada sobek aja sakit banget” ujarnya

“Iya ya?” tanya ku

“Iya. Padahal udah diajarin cara-cara ngejen yang bener. Tapi saking sakitnya lupa semuanya. Karena itu disaranin pas lahiran ada suaminya nemenin buat ngasih aba-aba harus ngapain” jawabnya

“Sesar aja apa ya mendingan?” tanya temanku

“Kalo sesar setelahnya yang sakit. Jauh lebih lama proses recoverynya” Jawab project managerku.

Aku jadi teringat. Ketika mamaku sedang sangat marah dengan anaknya dia perna berkata “Kamu ga tahu apa susahnya mama ngeluarin kepala kamu?!”. Hmm.. sama sekali ga tau sih. Kan belum pernah. Tapi kalo denger cerita-cerita gini sepertinya memang antara hidup dan mati.

Aku juga jadi ingat. Waktu itu aku pernah akan disuntik dokter di lengan atas. Dokternya bertanya apa aku mau tiduran atau duduk saja disuntiknya. Lalu aku bertanya kenapa aku harus tiduran. Lalu dokternya menjawab, biasanya pasien cowok sangat takut disuntik, dan karena takut pingsan mereka ingin disuntuk sambil tiduran. Hmm aku jadi tersadar, mugkin memang wanita lebih tahan sakit dibanding pria. Dan dalam hidupnya, ada beberapa momen dimana wanita akan tersakiti by nature. Misalnya hamil dan melahirkan. Semoga cukup dua itu saja ya.

Aku menelisik kembali pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang harus kita hormati di dunia yang pertama adalah ibu, yang kedua adalah ibu, dan yang ketiga juga ibu, baru yang keempat adalah ayah. Karena memang besar pengorbanan seorang ibu, mulai dari kita dikandungnya sampai bisa sebesar ini. Dan itu juga mengapa Surga ada di telapak kaki ibu, bukan ayah.

Allah memang sudah mengatur segalanya dengan sebaik-baiknya. Karena beban yang wajib ditanggung seorang ibu, ibu tidak dibebankan untuk menafkahi keluarga seperti ayah. Karena memang walaupun tidak ada nafkah secara penghasilan, ibu lah yang bekerja mengurus rumah tangga. Mulai dari mengurus anak dari bayi sampai dewasa, membersihkan rumah, dan termasuk mengurus bayi besar baca:suaminya. Tidak usah merawat bayi. Bahkan merawat anak yang sudah berakal saja sudah aku sudah kesusahan. Kakakku kadang menitipkan anaknya yang masih balita di rumah ibuku. Kadang aku yang kebagian merawatnya. Mulai dari memandikan, masak, memberi makan, menemani mereka bermain, belajar, dan seterusnya. Rasanya harus ekstra sabar dan mau berkorban waktu dan pikiran.

Walaupun tidak berpenghasilan, banyak pekerjaan seorang ibu yang luput dari perhitungan. Jika kita mau list down, berikut adalah jobdesk yang tidak terhitung dalam payroll bulanan PT. Rumah Tangga Sejahtera:

  1. Mengandung 9 bulan (Beraktivitas jadi lebih sulit dari biasanya)
  2. Melahirkan (antara hidup dan mati)
  3. Menyusui (harus siap bangun malam untuk memberi asi dan menidurkan bayi)
  4. Memandikan anak
  5. Masak untuk anak dan suami
  6. Memberi makan anak
  7. Menjadi teman bermain anak
  8. Membersihkan rumah (pembantu saja hanya beres2 tarifnya sudah sekitar 3.5 jt perbulan)
  9. Menyuci dan menyetrika
  10. Mengantar jemput anak kalau sudah sekolah
  11. Menjadi guru bagi anak

Dan lain-lain.. ditambah lagi masih harus merawat kecantikan supaya selalu sedap di pandang.

List diatas bukannya berarti aku perhitungan terhadap pembagian pekerjaan dalam rumah tangga. Namun seyogianya, semua pihak menyadari, dibalik profesi sebagai ibu rumah tangga, ada jobdesk yang tak kalah sulitnya dibanding wanita karir.

Aku pernah menjadi saksi dalam konflik yang disebabkan ketidak pedulian pihak laki-laki atas list pekerjaan diatas. Tersebutlah Bapak Y yang sedari dulu meminta istrinya, Ibu X untuk berhenti bekerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga. Namun, bukannya menyadari bahwa ia yang telah merebut kesempatan Ibu X untuk memiliki penghasilan sendiri, malah pada suatu ketika, saat ada masalah dalam keluarga, bapak Y tiba-tiba memutuskan jatah bulanan yang harusnya ia berikan pada ibu X. Dipikirnya semua hartanya adalah hartanya. Oleh karena itu saat ada masalah, ia tidak ingat bahwa ada hak yang harus diberikannya kepada wanita yang selama ini mengorbankan mimpinnya untuk menemani perjuangan hidupnya.

Tentu kasus ini tidak bisa digeneralisir. Banyak juga kasus yang kutemui dimana pihak laki-laki memberikan hartanya sepenuhnya pada pihak wanita, agar kemudian pihak wanita yang mengelola. Tentunya laki-laki yang seperti ini yang diidamkan semua wanita. Hehe.

Dulu kakak kelasku yang sudah berkeluarga pernah menasehatiku.

“Ning, aku liat kamu orangnya kayak aku. Mandiri, dan loyal sama orang. Tapi pesenku yang mesti kamu inget baik-baik.. Kalau kamu berkeluarga nanti, jangan tawarkan kamu mau ngasih persentase berapa dalam nafkah keluarga. Karena kamu sama sekali ga berkewajiban. Nanti suamimu jadi lupa kodratnya. Kamu lihat aja setiap bulan gimana kemampuan suamimu, baru kalau ada yang kurang kamu bantu” Ujarnya, which turns out really useful for me to filter out which guy is really responsible and which one is not.

Sebenarnya keputusan itu kembali kepada keputusan masing-masing. Kalau kamu wanita dan memang mau ikut memberi nafkah dari penghasilanmu, itu hakmu. Namun entah lah, jika kamu laki-laki dan kamu yang terang-terangan meminta pasanganmu memberi nafkah rasanya cukup membuat ill feel. Sounds ga gentle dan ga cukup confident dengan kemampuannya.

So girls,

It is all yours to decide mau jadi ibu rumah tangga atau wanita karir. Tapi let be wise. Kamu harus ingat list diatas. Bahwa kamu berkewajiban untuk memelihara rumah tanggamu dan menjadi madrasah bagi anak-anakmu. Carilah karir yang mengizinkanmu untuk tetap menjalankannya.

And boys,

If you see your wife works, does not mean that your obligation to fulfill family needs is gone. Karena kamu lah yang berkewajiban. Jika istrimu berbaik hati mau menyumbangkan penghasilannya, hukumnya sedekah. Kamu mau seumur hidup jadi penerima sedekah?.

 

 

Wallahu’alambissawwab.

Lesson from Central to Bankstown

Kereta bertingkat melaju cepat mengantar kami dari stasiun Sydney Central ke stasiun Bankstown. Di samping tempat dudukku, temanku sedang membaca Al-Qur’an dengan suara pelan. Tidak lama kemudian, seorang lelaki bule sudah beruban berjalan mencari tempat duduk. Dia pun duduk menghadap temanku. Aku memperhatikannya diam-diam yang sedang menatap temanku. Sepertinya penasaran dengan apa yang temanku lakukan. Temanku tetap melanjutkan bacaannya tanpa sungkan.

Aku terkesima dengan temanku yang satu ini. Dari sekian banyak orang Indonesia yang kukenal yang merantau sejenak ke Sydney untuk belajar, dia lah yang paling tegar untuk beribadah. Bahkan dia  adalah orang yang mengajariku untuk shalat di taman umum ketika sudah waktunya shalat.

Tidak lama kemudian, kereta akhirnya berhenti di stasiun Bankstown. Kami pun berjalan ke arah tempat kajian. Yang hadir di tempat kajian itu kebanyakan ibu-ibu. Mereka cukup kagum ada anak muda yang menyempatkan diri mengikuti kegiatan tersebut. Aku saat itu hanya diajak temanku ini, tapi kuharap semoga aku bisa istiqomah seperti beliau.

Aku yakin, setiap orang, baik yang tua maupun muda sebenarnya terpanggil untuk beribadah mendekatkan diri kepada Rabbnya. Walaupun saat itu seseorang meninggalkan kewajibannya, bermaksiat dan sebagainya, aku yakin sebenarnya hatinya mencari. Karena ruh pada hakikatnya akan selalu mencari pemiliknya. Hanya saja, sering panggilan itu terabaikan karena sibuk mencari kesenangan dunia. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan yang demikian.

Ilmuku memang masih sangat sedikit. Sampai saat ini ketika ada teman yang bertanya perihal hukum syariat, sulit rasanya memberikan referensi. Hanya menyampaikan apa yang kuingat, namun tidak ada validasi dimana sumber primer informasi itu. Memang sulit untuk menjadi master di segala hal,  master ilmu dunia dan ilmu akhirat. Namun dalam firman Allah dalam surat Al-Qasas ayat 77:

Carilah negeri Akhirat pada nikmat yang diberikan Allah kepadamu, tapi jangan kamu lupakan bagianmu dari dunia“.

Disebutkan bahwa sebenarnya yang harus kita utamakan adalah ilmu akhirat. Ilmu dunia memang penting, karena untuk menyambung hidup, mencari nafkah, bermasyarakat, kita harus paham ilmu dunia. Namun jika tidak diimbangi dengan ilmu akhirat, bisa-bisa kita hanya menjadi budak dunia yang selalu haus akan dunia, menghalalkan segala cara untuk sukses dari kacamata duniawi dan lupa bahwa setelah ini semua yang kita lakukan akan dimintai pertanggung jawabannya. Na’udzubillah.

Lalu sejauh apa kita harus belajar ilmu akhirat? Apa pengetahuan mengenai rukun islam dan rukun iman tidak cukup?. Misalnya pertanyaannya kuubah sedikit. Misalnya kamu seorang dokter gigi yang baru-baru itu mulai berpraktik menjadi dokter gigi. Misalnya kamu menemui satu kasus. Apa kamu puas dengan mempelajari satu kasus itu? Apa kamu sudah merasa cukup ahli?.

Kita mungkin sedikitnya sering tidak adil.

Kita sering sekali merasa bodoh ketika kita sedikit tertinggal dibanding teman-teman dalam hal duniawi. Namun ketika sering merasa aman jika kita jauh tertinggal untuk urusan akhirat.

Belajar sejatinya adalah proses berkelanjutan. Tidak ada kata cukup. Selama kita hidup, selama itu lah kita harus belajar.

Namun aku juga menyayangkan. Banyak orang yang sebenarnya terpanggil namun enggan mempelajari ilmu agama. Salah satunya hal ini disebabkan oleh isu radikalisme. Semenjak kejadian 9/11, dimana pada hari itu aku genap berusia 9 tahun, Islam diidentikan dengan sesuatu yang radikal, barbarik dan teror. Termasuk aku. Bahkan sampai aku lulus SMA, aku masih berfikir wanita yang berkerdung panjang atau laki-laki berjenggot bercelana cingkrang adalah orang-orang berfikiran sempit yang tidak terbuka pada modernisasi.

Namun, semakin banyak aku mengenal orang yang berpenampilan seperti itu, semakin terbuka wawasanku. Mereka mengajarkanku bahwa muslim yang taat adalah muslim yang cerdas dan maju dalam hal duniawi namun hati mereka tetap bersih dan tidak terkotori ketamakan duniawi. Mereka sukses karena mereka memiliki tujuan yang lebih besar. Ingin berguna bagi keluarga, agama, nusa dan bangsa. Semoga kita juga bisa menjadi seperti itu. Aamiin.

Walaupun aku tahu, isu radikalisme itu sudah berhasil menciutkan nyali generasi Muslim saat ini. Seakan malu untuk menjalankan syariat. Malu untuk berkerudung, malu untuk sholat 5 waktu, malu untuk menolak ajakan minum-minum, malu untuk tidak berpacaran. Takut dibilang tidak gaul. Takut dibilang anak sholeh. Namun, Allah tidak pernah membiarkan cahaya Islam redup. Cahaya itu akan terus bersinar, dijaga oleh hamba-hambanya yang bertaqwa.

Alhamdulillah di setiap titik hidupku, selalu ada cahaya yang menerangi relung hatiku yang gelap. Semoga kedepannya aku yang menjadi cahaya itu.

Al-Furqan

Tidak ada yang salah dengan perkataannya

Semuanya terdengar sempurna

Tapi sebenarnya kau sadar

Bahwa kelakuannya tak berbanding lurus dengan perkataannya

Semua hanya fatamorgana di padang pasir

Mengelabuhi

Meninggalkan kekecewaan yang amat sangat.

 

 

Kau pun muak dengan benang rumit yang dibuatnya

Menutupi jati dirinya yang sebenarnya

Membuat mu hanya percaya apa yang kau dengar

 

Tapi memang kau tidak sebodoh itu

 

Apa yang kau lakukan sudah benar

Kau tidak akan menukar kotak harta karun yang kau simpan baik-baik

Dengan sebuah karung yang kau tidak tahu apa di dalamnya

Yang ia bilang itu lebih baik dari sebuah surga

 

Namun kau sudah hafal majaz hiperbola yang selalu dilontarkannya

Kau juga memiliki Al-furqon dalam hatimu

Dimana ketika kau hendak melakukan kesalahan,

Dadamu terasa sesak

Nafasmu terengah-engah

Kau merasa ketakutan yang amat sangat

 

Ketika kau sudah bertekad menjadi seseorang yang beriman

Dan bertekad untuk terus menjadi lebih baik

Tuhan sudah membekalimu dengan kendali itu

Yang mungkin tidak dimilikinya

Sehingga tidak mungkin kau mengikuti langkahnya

Tidak mungkin kau tetap menginjak gas penuh ketika dihadapanmu adalah jurang yang terjal

 

Kau selalu berusaha untuk tidak menghakimi orang

Kau selalu memberi kesempatan pada siapapun itu

Kepada penjahat, pembunuh, perampok

Yang kadang melukaimu

Seperti sekarang

 

Tapi kau adalah kau

Yang mungkin terlalu baik

Terlalu naif

 

Tapi tidak apa

Kadang kau tidak perlu memiliki ilmu bela diri untuk tidak terluka

Kau hanya perlu orang-orang baik disekelilingmu

Yang akan melindungi satu sama lain agar tidak terluka

 

 

 

Blackout

I am being told

If I dare to climb a mountain, passing through the cliff

I will be able to reach the star

A dot of light which seems so far away from my current place

Here is very comfortable

I am happy enough to see the star from my window

So why i need to move on?

I thought I will think that way.. but my other side of me tell different thing

It is a sickener of repetition between opening and closing my window in my bedroom

And is a desire to proof that actually I am really alive

So I get out of my bed and go to the mountain

And

It is worse than my bedroom, worse than anything that i’ve ever imagined

The roads are patterned in red of my bleeding

I could not really describe anymore which part is hurt

All the giant skyscraper trees surround me

No light permeated, no sounds heard

It is just a blackout

Just me who is lost

Just me who doubt if I will find the end of this blackout

Just me who is afraid how if after blackout is also blackout

I feel so low

I try to believe the sermont

About the children who hug the star

Yes

So at least I know that I am alive

I am not just dreaming but fighting for my dream

I will not stop here

The darkness cannot force me to give up

I do not care how many blackout I need to pass

But I will climb for my star