Primbon

Mungkin sebagian besar dari kita tahunya primbon adalah website yang isinya postingan foto-foto ghaib. Namun bagi orang yang berasal dari tanah Jawa mungkin tahu bahwa primbon adalah sebuah buku yang dipercaya layaknya sebuah kitab. Ya kitab layaknya Al-qur’an dan Hadits.

Primbon berkembang dari kebudayaan Islam kejawen di tanah Jawa. Islam kejawen sendiri adalah akulturasi ajaran agama islam, kepencayaan hindu budha, dan adat Jawa itu sendiri. Primbon dipercaya sebagai petunjuk yang menjelaskan karakter orang dari tanggal lahirnya, kecocokan jodoh, tempat unuk mencari rezeki, perhitungan hari baik pernikahan, jual beli dan lain-lain.

Lalu bagaimana primbon ini dibuat?. Konon, primbon dibuat berdasarkan tanda-tanda alam yang sebenarnya bisa menjelaskan sesuatu. Agak mirip dengan astrologi kalau dipikir-pikir. Kalau Astrologi pseudoscience nya Astronomi, primbon seperti pseudoscience nya Islam.

Sebenarnya sedikit banyak alam memang memberikan tanda-tanda pada manusia. Misalnya seperti bulan purnama yang ditafsirkan dapat meningkatkan energi negatif pada manusia (pasti yang nonton Ganteng-Ganteng serigala tahu lah ya). Hal ini sebenarnya juga tecatat dalam Islam. Dimana Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk berpuasa pada tiap bulan purnama, alias Ayyamul bidh, yaitu puasa pada setiap pertengahan bulan-bulan Hijriyah. Tidak lain agar umatnya lebih dapat mengontrol energi negatif yang meningkat.

Kembali ke Primbon. Sebuah kitab karangan manusia yang tidak ada garis sanadnya sama sekali. Apakah kita boleh mempercayai nya?. Pertanyaan ini sama seperti, apakah kita harus percaya zodiak?. Well, namanya pseudo, hanya kelihatannya saja meyakinkan bagi yang mempercayai tapi sama sekali tidak bisa dijadikan pegangan.

Penulis sendiri memiliki orang tua yang percaya primbon. Anak-anaknya sudah berkali-kali kena getahnya. Dekat dengan seseorang, namun ketika dihitung kecocokan tanggal lahirnya, ternyata tidak cocok. Akhirnya harus putus. Kesal dan sedih iya. Namun bagaimanapun orang tua adalah orang yang telah membesarkan penulis sampai sebesar ini. Termasuk pernah menyekolahkan penulis di pesantren sehingga sedikit banyak tahu ilmu agama.

Nabi Muhammad sendiri tidak pernah menggunakan kekerasan dalam berdakwah. Kepada ibu, ayah dan paman beliau, beliau tidak pernah berkata kasar yang menyinggung perasaan mereka. Bahkan beliau menganjurkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, terutama kepada Ibu.

Namun, penulis bukannya diam saja dan membiarkan itu semua terjadi terus-menerus. Penulis dan saudara-saudara penulis sudah mencoba membicarakan baik-baik namun belum ada hasilnya. Tidak apa. Berarti memang usahanya belum cukup.

Orang tua penulis pernah berpesan, menurut primbon, penulis yang lahir pada Jumat Pon ini untuk mencari rezeki harus ke arah utara dan barat, dan tidak boleh ke arah selatan dan timur karena akan mengalami kesengsaraan dan kesulitan.

Tapi yang penulis lakukan justru sebaliknya. Saat memilih kampus untuk kuliah S1 dulu, penulis sengaja memilih kota Bandung sebagai tempat kuliah karena posisinya yang ada di timur agak selatan dari tempat tinggal penulis. Saat itu kelihatannya orang tua penulis agak tidak sadar bahwa Bandung berlokasi demikian. Lalu apakah penulis sengsara?. Wah bisa dibilang itu adalah masa-masa keemasan. Penulis mendapat beasiswa, memenangkan perlombaan-perlombaan nasional, mengikuti konferensi internasional, dan aktif diberbagai organisasi, baik internal maupun eksternal kampus. Penulis juga dipertemukan dengan teman-teman hebat yang banyak meng-influence sudut pandang penulis dalam memaknai hidup. Selepas kuliah, Alhamdulillah IPK penulis adalah yang tertinggi di satu fakultas.

Lalu saat melanjutkan S2, penulis juga sengaja memilih lokasi yang dianggap membawa sial, Sydney. Letak Sydney jelas-jelas di sebelah selatan dan timur dari Bekasi. Saat itu orang tua penulis bertanya “Kamu ga mau ke Inggris atau Eropa gitu?” . Lalu dengan beralasan ranking kampus dan suhu udara yang cukup stabil (karena penulis agak intoleran dengan suhu dingin) akhirnya mereka pun pasrah dengan keputusan anaknya yang cukup berwatak keras ini.

Di Sydney, bisa dibilang tidak segemilang saat di Bandung dulu, karena kompetisinya juga jauh lebih ketat. Namun Alhamdulillah target GPA Distinction masih terpegang.

Yang penulis sadari adalah, adanya penurunan ibadah penulis saat di Sydney. Terutama karena lingkungan yang kurang mendukung. Selain sulit untuk mencari teman yang tertarik mengikuti kajian-kajian rutin, sarana ibadah pun kurang mendukung. Tidak ada adzan, sulit untuk menemukan tempat sholat. Salah satu pengalaman penulis. Saat belanja ke Mall dan hendak sholat, karena tidak menemukan tempat sholat seperti biasa penulis mencari sudut-sudut yang sepi. Tapi karena hari itu hari libur dan ramai sekali, penulis tidak menemukan spot sepi. Ada satu sudut yang lumayan sepi yang belakangnya adalah emergency exit. Namun saat sholat ada yang keluar masuk, sampai penulis batak shalat 4X. Akhirnya penulis pun mencari tempat lain. Penulis pun shalat diatas rerumputan di sebuah taman yang ramai orang-orang bersantai, terutama orang-orang pacaran. Walaupun seorang teman pernah berkata bahwa berbahaya sholat ditengah keramaian seperti itu, karena bisa saja ada muslim-haters yang berbuat jahat, namun Sholat adalah tiang agama, rukun islam, wajib mutlaq yang tidak bisa ditinggalkan kecuali saat berhalangan dan sakaratul maut. Sepertinya penurunan inilah yang akhirnya berimbas kepada penurunan performa penulis karena tidak ada yang bisa benar-benar menjaga motivasi penulis.

Kembali lagi ke Primbon, jadi saat ini ketika orang tua penulis mencoba mengarahkan penulis pada primbon, penulis mengangkat dua kisah diatas. Dan sering orang tua penulis hanya terdiam dan berkata “Ya terserah kamu ning”.

Namun untuk urusan perjodohan masih agak berat. Pertama, belum ada kasus konkrit seperti diatas. Contoh-contoh sebelumnya memihak pada primbon (karena kebetulan contoh yang diangkat adalah contoh dari mereka). Kedua, bagaimana pun Ayah adalah orang yang akan menjadi wali nikah anak-anaknya. Walaupun memaksa seperti apapun namun jika tidak ada persetujuan dari Ayah, tidak akan nikah juga.

Pada kasus terakhir penulis, ayah penulis berkata bahwa hasilnya kurang bagus. Jika ada urutan terburuk, maka kecocokan kali itu adalah terburuk kedua. Menurutnya, nantinya penulis dan pasangan akan terus bekerja banting tulang, namun hasilnya akan sedikit. Jadi kalau tidak salah urutan kecocokan itu seperti : Duka –> Sulit –> Pangan –> Sandang –> Bahagia. Dan penulis dapat posisi sulit, yang artinya untuk dapat pangan (makan) saja sulit. Tentu saja penulis tidak percaya. Berulang kali penulis meyakinkan orang tua penulis, menyebutkan kebaikan -kebaikan pasangan. Awalnya ayah penulis luluh dan mengiyakan “Terserah kamu ning. Kamu yang menjalani. Papa cuma bisa mendoakan”. Namun entah kenapa gerangan lama-lama seperti berubah dan tidak yakin. Entah karena terlalu lama beliau menunggu entah karena apa. Beliau menyarankan penulis agar penulis mencari yang lebih baik. Setiap bertemu hanya itu pesan beliau.

“Papa khawatir ning. Papa ga mau liat kamu susah. Ya walaupun kamu bilang dia anaknya baik, tapi papa harap kamu dapet yang lebih baik. Coba kamu instropeksi ibadah kamu. Mungkin kamu dapet yang susah gini karena ibadahmu yang ga maksimal” Ujar beliau

Kata-kata itu menohok penulis. Penulis langsung tersadar. Sejak dekat dengan dia. Ibadah penulis cenderung mengalami penurunan. Dulu penulis rutin puasa sunnah senin-kamis, tahajjud dan dhuha. Namun saat itu, untuk bayar puasa wajib pun penulis menunda-nunda, jangankan tahajjud, shubuhpun tidak pernah on time. Ya agak sulit untuk shubuh on-time kalau baru tidur jam 12 atau jam 1 malam karena harus chat-chatan.

Kalau hal seperti ini terus berlanjut, bisa jadi masa depan akan sulit. Bukan hanya sulit lahiriyah tapi juga sulit batiniyah. Tidak ada kekayaan hati yang akan didapat. Padahal kekayaan hati itulah yang paling sulit didapatkan. Bukan karena primbonnya. Tapi memang tujuan yang ingin kita capai berbeda. Sehingga bukan bahu membahu, malah pontang-panting mengejar tujuan masing-masing.

Ditengan kegalauan itu, penulis puasa ayyamul bid 3 hari berturut-turut dan shalat istikharah untuk meminta petunjuk. Lalu.. akhirnya penulis memutuskan untuk mengakhiri hubungan.

Keputusan yang sulit namun tidak pernah penulis sesali. Sedih, namun penulis  jadi belajar tentang keikhlasan.

Alhamdulillah.

Mungkin bukan ini kesempatan penulis untuk membuktikan kepada orang tua penulis. InsyaAllah ini akan jadi sarana perbaikan diri untuk penulis, dan harapannya juga untuk orang tua penulis.

Jangan lah berputus asa dari rahmat Allah. Terus berusaha dan berdoa. Entah kapan usaha dan doa kita akan berbuah, yakin lah Allah maha mendengar dan maha penyayang bagi hamba-hambaNya yang mau bersabar.

 

Advertisements

Visi

Mungkin ini yang sering dilupakan oleh orang-orang yang sedang dimabuk asmara.

Kalau sedang mabuk-mabuknya, rasanya apa saja jadi bagus, jadi indah.

Waktu itu gw lagi ngobrol sama rekan kerja gw yang seorang Chinese. Dia perempuan. Usianya sudah hampir menginjak kepala tiga. Dan sudah pacaran selama 10 tahun. Gw bertanya, gimana dia bisa bertahan dalam hubungan semacam itu dan selama itu. Dia menjawab

“Ya karena walaupun gw nunggu. Gw yakin penantian gw ga sia-sia. Gw udah bisa ngebayangin masa depan gw sama dia. Gw yakin lah kita punya cita-cita yang sama” Jawabnya. Gw amazed mendengar jawabannya.

Dia pun bertanya balik ke gw yang saat itu masih jaman-jamannya pacaran. “Lo gimana? udah ada bayangan belum masa depan lo kayak gimana sama dia?”.

Gw langsung terdiam sejenak memikirkan jawabannya. Dan ketika gw berfikir, to be honest, gw rasa ada banyak hal yang ga bersinggungan antara cita-cita gw dan dia. Lalu gw menjawab

“Ga terlalu sih”

“Nah itu sih yang mesti lo perjelas” ujarnya.

Lalu gw merenungi kata-kata temen gw itu. Gw jadi inget postingan kawan sewaktu kuliah S1 dulu di blognya https://azaleav.wordpress.com. Bahwa yang terpenting dari sebuah hubungan adalah kedua insan harus memiliki visi yang sama. Karena ketika keluarga tersebut sedang diterpa badai, masih ada visi yang masih harus dicapai bersama.

Lalu sebenernya, apa visi gw?

Simple, but need big effort.

Gw selalu bermimpi untuk bisa menjadi seperti Khadijah RA. Wanita mandiri pekerja keras, pengusaha sukses, yang membelanjakan hartanya di jalan Allah. Meskipun demikian, Khadijah RA tetaplah seorang istri yang berbakti pada suaminya dan ibu teladan yang mendidik anak-anaknya dengan penuh cinta dan kesabaran.

Pastinya ga mudah untuk menjadi seperti beliau. Gw yang saat ini cuma kerja dan belum berumah tangga aja kayak ngerasa capek banget. Tiap hari kerja dari pagi sampe malem. Gw lagi belajar gimana caranya untuk hidup lebih balance. Gimana caranya dengan jadwal kerja yang padat gw masih sempat menyisihkan waktu gw untuk berjuang di jalan Allah. Ga cuma berjuang untuk memenuhi nafkah pribadi.

Sebagai cewek, gw berharap mendapatkan seseorang yang bisa menjadi imam. Yang punya satu tujuan. Yang lebih kuat dan tegas dibanding gw yang kadang-kadang terbawa arus pergaulan yang kurang tepat.

Supaya gw ga hanya menjadi budak dunia yang berlomba-lomba mengumpulkan harta agar dipandang orang. Supaya gw sadar, bahwa pada harta yang dimiliki ada hak-hak Allah yang dititipkan, yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak.

Lalu apakah gw akan menolak orang yang sedang belajar?

No

I really value a person who intend to be a better person. I give a time. I give a help. Yet, I really take a look seriously whether someone want to learn or not.

Kalau ternyata hanya di mulut belaka ya buat apa.

Karena sesuatu yang dari hati akan masuk ke hati. Ketulusan ga akan tertukar dengan kebulusan.

So, semabuk apapun, satu hal yang ga  bisa di negosiasi. Visi.

Rememeber where do you want to go. Jangan sampe mau pergi ke Australi tapi malah naik pesawat jurusan Jerman.

Mengeluarkan (Perasaan) Gigi yang Terpendam

Hari itu hari Sabtu awal bulan Desember

Entah akhir-akhir itu gw mulai menyadari bahwa gw tidak boleh memendam  perasaan gigi impaks terlalu lama.

Ya dulu sebelum gw pake braces saat masih kuliah S1 dari hasil rontgent gw udah tau kalo banyak perasaan gigi terpendam yang ga bisa keluar. Ada 6 gigi totalnya. Dan beberapa gigi posisinya parah banget. Dulu gw inget, selain scan panoramic, dokternya sampe minta gw scan kepala (lupa nama scannya) buat memastikan posisi gigi-gigi tersebut. Scannya saat itu ga available di Pramita. Di Bandung cuma ada di Unpad aja. Tapi saat itu kata dokternya giginya masih kecil (gw baru tau gigi itu ada fase perkembangannya) jadi katanya ga urgent banget. Dan akhirnya didiemin lah itu gigi.

4 Tahun kemudian, gw berencana lanjut pake braces yang sempet gw copot karena kuliah ke Ausi. Dan hasil scan panoramic saat ini menunjukan..

IMG_0467

Ngeri kan. Udah pada gede2 banget. Dan itu dua gigi dibawah.. salah alamat amat.

Saat ini sakit sih engga. Tapi kata dokternya most probably akan sakit kalo udah sampe dorong2an. Ternyata di dunia ini semua serba kompetitif. Gw pikir tanah aja yang direbutin, ternyata space buat gigi juga.

Oke jadi ceritanya hari itu gw memberanikan diri untuk operasi gigi. Sebenernya gw memanfaatkan momen. Kebetulah saat itu gw lagi sakit hati. Jadi ya sekalian lah, kalo mau sakit, sekalian aja lah semuanya.

Gw operasi di tempat praktik dokter gw pasang braces. Yang ngeoperasi temen dia yang spesialis bedah mulut. Sebelumya gw nanya ke dokter gw “Dok, ini bisa langsung di operasi semuanya?”. Kata dokternya “Semangat amat. Engga. Sebelah dulu. Jadi yang sebelah tetep bisa buat makan”. Gw nawar “Gapapa dok, makan gampang lah. Biar sekalian sakitnya”. Dokternya sampe heran ngeliat gw yang keliatan ga takut sakit. “Karena gigi nya banyak, separoh dulu aja ya. Kamu kan kerja juga. Nanti lama recoverynya” Jawabnya. Baiklah. Akhirnya rencananya gigi2 sebelah kiri dulu yang akan dibuang.

Dokter bedah mulutnya kelihatan udah tua dan berpengalaman. Walau kurang ramah tapi kerjanya cepet. Untuk ngeluarin 3 gigi dia cuma butuh sekitar 45 menit.

Karena gw cuma bius lokal dan mata gw ga ditutup gw bisa ngeliat bor, piso, benang jahit masuk ke mulut gw. Dan hampir aja mata gw kemasukan darah kalo ga gw buru2 merem. Sakit sih engga karena udah dibius. Tapi tetep aja horor. Apa lagi pas dokternya narik gigi yang posisinya mendem banget. Khawatir ada perasaan syaraf yang ketarikjuga. Setelah sekitar 45 menit operasi pun selesai. Gw pulang dengan diberi resep obat dan seplastik es batu buat ngompres pipi. Darah masih ngalir-ngalir di dalem mulut. Tapi karena ga boleh ngeludah akhirnya gw telen. Sebelum pulang dokternya pesen ke gw “Besok mungkin pipi kamu bengkak. Nanti dioles salep yang saya kasih dan istirahat yang cukup ya” ujarnya. “Waduh mana besok mau ke nikahan temen lagi”. “Udah istirahat dulu. Lagian kamu kerjaannya undangan ke nikahan temen mulu. Sekali2 kamu yang ngundang dong” kata dokter bercanda. Gw tiba-tiba jadi sedih “Yah dok baru putus ini”. Dokternya langsung kaget “Hah!.. Yaudah semoga cepet ada penggantinya deh”.

I could say, hari pertama post surgery is the most painful day. Gw yang emang agak nekat ini nyoba iseng nyikat gigi gw pelan-pelan. Padahal dokternya bilang selama 3 hari kumur2 dulu pake obat kumur khusus. Ya tapi gw mikir kayaknya kurang bersih aja kalo cuma kumur-kumur. Pas gw mulai nyoba sikat gigi sekitar area operasi, badan gw langsung gemeteran dan mata gw langsung berkunang-kunang. Gw langsung terjatoh, tapi untung gw masih pegangan westafel. Gw langsung mberangkang keluar kamar mandi dan tiduran di kasur yang untungnya posisinya ga jauh dari kamar mandi. Gw ga tau apa karena saking sakitnya atau karena jahitannya kena pasta gigi gw yang rasa mint extra strong ini, tapi badan gw ga bisa berhenti gemeteran sampe hampir semenit. Setelah agak mending gw berusaha bangkit lagi dari kasur dan kumur-kumur pake obat kumur khusus.

Selama 4 hari gw cuma bisa makan bubur aja. Baru setelah itu pelan-pelan bisa makan nasi, walau harus pake gigi sisi sebelah kanan (yang ga dioperasi)

Kalo kata orang “Lebih baik sakit gigi dibanding sakit hati”, gw ga setuju. Dua-duanya painful banget. Dan berkat itu, berat badan gw turun 3 kg dalam 7 hari. Sakit hati menurunkan nafsu makan, sakit gigi menurunkan kemampuan makan. Kombinasi yang sempurna buat orang yang pengen kurus.

Ya ini baru operasi sebagian. Masih ada 4 gigi yang mesti dicabut.

Ya Allah, Perjuangan hidup hamba memang agak  berat. Semoga segala sakit ini menjadi sarana untuk senantiasa mendekatkan diri padaMu dan tidak lupa bersyukur atas karuniaMu yang lain.

 

I know it is painful

But  I need to pass this way

There will be recovery time

And perhaps it takes long time

But I don’t want to regret anymore

At least I try and fight, not become a coward

Because wounds will heal

After that I will start and fight another battle

 

 

 

 

 

Bimbang

Kira-kira 6 tahun yang lalu, aku sakit hati, putus cinta

Saat itu aku sudah berjanji pada diriku, aku tidak ingin pacaran

Meski dulu aku belum terlalu religius

Aku sudah tidak nyaman dengan konsep itu

Aku tidak tahu seberapa Batasan aku boleh menunjukan rasa sayangku padanya

Juga tidak tahu seberapa Batasan aku harus tunduk dan memberikan kebebasanku

6 tahun sudah aku menjaga diri dari hubungan semacam itu

6 tahun aku terus memperbaiki diri agar aku layak mendapat ridho Allah atas pilihan terbaiknya

Namun entah kenapa, aku terjerat semak belukar yang sama

Walaupun kuubah namanya, tetap saja, hubungan tanpa kejelasan itu secara praktik adalah pacaran

Lagi-lagi, aku terjebak

Aku tahu aku sedang melakukan dosa. Setiap saat hati kecilku menjerit memintaku berhenti tapi perasaan sayang yang tumbuh tanpa melalui proses yang benar seakan menulikan nuraniku

Aku sebenarnya tidak meragukan rasa sayangnya. Tidak meragukan keseriusannya. Namun aku tahu kalau aku dan dia belum siap.

Hampir setiap malam aku menangis. Menyesali. Mengapa aku harus melalui proses ini kembali?

Setiap malam aku merenung, berfikir bahwa aku sebenarnya sedang menyerahkan kebebasanku pada hubungan yang semu

Iya, kebebasan.

Mungkin melihatku yang ambisius dan mandiri membuatnya berjanji bahwa dia tidak akan menghalangiku mengejar mimpiku

Tapi disisi lain gelagatnya mengisyaratkan agar aku tidak seleluasa itu

Jika tidak, kenapa dia memintaku agar tidak terlalu dekat dengan orang lain? Menunjukan sifat insecure ketika aku bercakap dengan orang lain?

Tak usah diumbar kata-kata kebebasan itu. Hal seperti itu tidak pernah ada dalam pacaran

Selamanya kedua insan akan selalu was-was. Berusaha memiliki walaupun tidak ada ikatan apapun.

Ayahku cemas.

Walau awalnya kelihatan pasrah dengan keputusan putrinya yang keras ini, lama-lama ia pun khawatir. Desakan kuatpun ia lontarkan padaku agar aku kembali ke jalan yang benar

Aku merasa mungkin aku hanya tinggal menunggu sebentar lagi sampai kita benar-benar siap. Namun penantian itu selalu diiringi dengan rasa takut atas dosa yang terjadi setiap detiknya

Ya, setiap detik

Bukankah pikiran dan perasaan yang berlebihan kepada yang bukan muhrim adalah pintu pertama dari zina?

Karena dengan tegas Allah berfirman bahwa mendekati zina adalah dosa. Karena tidak mudah untuk tidak tersulut api ketika pakaian kita tersiram minyak

Aku menyesal aku mengapa aku kurang tegar dalam pilihanku dulu. Berjanji kemudian kuingkari.

Namun harapanku. Aku berharap aku dan dia dapat berproses menjadi individu yang lebih baik di mata Allah dan di mata manusia lain

Jika jalan yang berduri itu terus kita sisiri, selamanya kita akan berjalan dengan kaki penuh luka, membasahi jalan dengan gelimangan darah

Aku hanya ingin putar arah, ke jalan yang dari dulu sudah kupilih

Dan mendoakannya agar ia juga sadar

 

Walaupun hati ini sakit,

Aku senang,

setidaknya aku sudah kembali.

 

Semoga Allah selalu menuntun hambanya yang beriman menuju jalan yang ia Ridhoi

Perspective

Dulu ketika lulus S1, seorang yang saya nilai sangat konservatif terhadap gender bilang gini

“Papa kuliahin kamu bukan supaya kamu setelah itu jadi cewek karir angkuh yang menyalahi kodrat” Ujar papa saya yang emang kalo ngomong cenderung njeplak dan sering menyebabkan perdebatan berkepanjangan.

“Terus?” Saya pun meminta beliau meneruskan.

“Ya kodrat seorang wanita itu ya menikah, ngurus rumah tangga, dan menghasilkan keturunan. Papa nguliahin kamu biar dapet jodoh yang selevel sama kamu”

What theee.. begitukah niatannya. Saya ga menampik sih, bahwa nikah adalah suatu sunah yang katanya akan membuka segala rezeki seseorang, menyempurnakan agama dan seterusnya. Tapi kalo tujuan saya kuliah itu doang.. Kapan saya bisa berpikiran maju. Disitu saya sedikit berargumen kepada papa saya

“Kalo menurut haning sih cewek lebih bagus lagi kalo selain ngurus rumah tangga sambil berkontribusi pada sosial pa”

“Jarang ada yang bisa begitu. Ngurus rumah tangga itu ga gampang”

“Ya jarang bukan berarti ga ada kan?”

“Ada juga pasti keluarganya ga kepegang”

Dan perdebatan pun berlanjut..

Sebenernya niatan saya bekerja sekeras ini bukan tanpa alasan. Di kehidupan saya, saya menemui laki-laki dominan yang meminta istrinya berhenti bekerja. Namun karena merasa istrinya selama ini cuma menumpang, kadang si suami ini semena-mena. Terus terang dari situ saya merasa sangat khawatir kalau itu terjadi pada saya. Dan karena itu saya bertekad ingin menjadi wanita mandiri yang tidak bergantung pada siapapun.

Saat ini saya sedang dalam perlajalanan menjadi wanita mandiri. Lulus S2 di Australia dan menjadi wanita karir. Walaupun bisa dibilang kerjaan saya kurang work life balance. Masuk jam 9 pulang sekitar jam 11-1 malam.

Kadang saya memikirkan kata-kata ayah saya. Mungkin memang sulit ya punya keadaan ideal dimana bisa dapat karir dan urus keluarga sekaligus. Tapi kekhawatiran saya atas cerita yang pernah saya temui membuat saya keep moving dan terus mandiri.

Walaupun begitu, entah kenapa ada yang terpatri dalam benak saya. Bahwa mungkin tidak selayaknya wanita melangkah sejauh ini. Bahwa mungkin saya tidak usah kerja terlalu serius and just let it flow karena nanti sebenarnya mencari nafkah adalah tanggung jawab suami, dan terlalu serius sama kerjaan bisa bikin rumah tangga ga keurus dengan baik.

Gimana pun lingkungan bisa mempengaruhi ternyata. Walaupun awalnya optimis sama prinsip sendiri. Akhirnya goyah juga. Ga cuma dari ayah saya. Di tempat kerja juga berasa. Kesannya cewek di ekspek kerja dibawah cowok. Cowok selalu mendapatkan penawaran lebih baik soal gaji dan peluang karir. Bukan tanpa sebab. Cowok emang terkesan sangat serius dalam bekerja dan berani ambil resiko. Cewek di lain sisi cenderung lebih main aman dan ga berani ngungkapin apa yang ada di pikirannya. “Men rule the work” keliatannya masih berlaku walaupun emansipasi terus digembor-gemborkan.

Sejujurnya saya ada perasaan ga enak ketika orang tua menanyakan “kapan kamu mau nikah? kamu sibuk kerja ga lupa nikah kan?”. Tentu engga kok. Cuma saya ngerasa belum siap. Untuk kerja aja saya kadang masih kelimpungan. Kalo kerja+keluarga. Hmm.. will be very greeaat challenge.

Makanya saya selalu berdoa semoga suami saya kelak adalah suami yang pengertian. Yang berfikiran bahwa rumah tangga bukan cuma kewajiban istri. Bahwa sama seperti laki-laki, wanita juga punya keinginan dan cita-cita yang patut didengar.

Upss jadi galau tengah malem gini. Yaa.. Daripada cuma disimpen di unek-unek nanti stress dan cepet tua. Hehe.

So girls, don’t mind about what they told you to be. Focus on your dream and be who you are 🙂

 

 

 

 

Confession

Memang sudah saatnya aku lelah.. membuat semua menjadi kabur.. Menutup diri.. Pura-pura tersenyum tegar dan berkata “I am okay”

Rasanya hidupku terlalu singkat jika semua kesempatan yang Allah berikan padaku hanya kusimpan sendiri.

Tidak ada kehidupan yang sempurna di dunia ini. Manusia akan selalu merasa kurang, yang mana Allah menciptakannya agar kita tahu bagaimana caranya bersyukur. Karena itu aku ingin mengucapkan Alhamdulillah sebelum aku menulis lebih lanjut untuk bersyukur sebesar-besarnya atas segala yang Tuhan berikan.

Layakya berlian yang semakin berkilau setelah ditempa berkali-kali, aku percaya kualitas seseorang akan semakin baik seiring orang tersebut menerima pembelajaran berharga. Dan aku merasa Tuhan memberikan aku kesempatan lebih dibanding orang lain.

Saat lahir, Allah memberiku tato di tangan kiriku. Karena tato ini dari Allah, tentu saja ini Tato halal, walaupun bukan merek Hena. Layaknya tato yang melekat di lengan preman, tato dari tuhan ini juga membentang panjang sepanjang lengan kiri dan membuat orang yang pertama kali melihatnya terkejut. “what happen with your hand?” “are you alright?” “did you get an accident?”, sering sekali aku mendengar pertanyaan itu. Walaupun sampai sekarang masih terdengar offensive di telingaku, namun aku lebih senang jika orang bertanya. Tandanya mereka sudah tidak sungkan untuk bertanya hal sebenernya juga tidak nyaman mereka tanyakan. Aku pernah bercanda pada salah satu teman baikku di Sydney “Oh this is Tattoo mate”, dan dia pun terkejut seketika “Impossible!”. Aku tertawa dan melanjutkan “LoL yes this is Tattoo, I will tell you the full story later”. Tapi sayangnya karena saking banyaknya tugas, aku belum sempat menjelaskan padanya.

Ya.. Nama tato dari Tuhan ini adalah Port Wine Stain. Sejenis tanda lahir berwarna merah keunguan, mirip bercak anggur. Tidak ada gangguan kesehatan yang ditimbukan tato alami ini padaku. Namun orang yang memiliki ini dibagian wajah bisa mengalami Sturge Weber Syndrome yang dapat cukup mengganggu kesehatan, kesempatan lebih yang diberi Allah untuk mereka yang mengidapnya dan untuk orang lain sebagai kesempatan untuk beribadah menolong sesama.

Terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara, membuatku terjangkit sindrom anak tengah. Apa lagi adikku lahir kurang dari dua tahun setelah aku lahir. Membuat orang tuaku tidak memberikan cukup perhatian pada anaknya yang berbeda dan selalu diliputi tanda tanya sejak kecil mengenai perbedaan yang ada pada dirinya. Orang tuaku tidak pernah membawaku ke dokter untuk memeriksakannya. Bahkan hampir tidak pernah membicarakannya denganku. Entahlah, apa mungkin karena pendidikan mereka yang kurang tinggi sehingga mereka parno akan hal-hal buruk yang mungkin terjadi, atau alasan lainnya, yang jelas aku tidak mendapat cukup support psikologis dari orang tuaku. Namun aku bersyukur ada beberapa orang, ada beberapa hal dalam hidupku yang membuatku belajar bahwa dibalik kekurangan, ada dorongan kuat yang membuatku menjadi pribadi yang lebih tangguh dan lebih bijaksana.

Usiaku hampir menginjak seperempat abad. Akhirnya orang tuaku khawatir padaku. Kekhawatiran yang sudah kutanyakan pada diriku sendiri semenjak aku berusia kurang lebih 12 tahun. Yaitu bagaimana aku bisa menikah. Namun memang pada dasarnya aku yang harus menentukan langkahku sendiri.

Beberapa orang berkata, jika cinta, harusnya tato natural ini tidak jadi masalah. Namun, menurutku tidak adil juga jika aku memaksakan kehendakku. Memaksakan pada siapa yang menjadi suamiku kelak, untuk menerima apa yang kufikir benar padahal menurutnya sangat salah. Membuatnya kecewa seumur hidup mungkin akan lebih menyakitkan untukku daripada sakitnya upaya natural tattoo removal.

Sejujurnya, tato ini sudah menjadi bagian hidupku yang sangat berharga selama 24 tahun aku hidup di dunia ini. Tato ini menjagaku dari kemaksiatan, dan menuntunku ke jalan yang lurus. Tato ini membuatku lebih pandai bersyukur dan selalu tergerak membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Mungkin aku menyukainya dan membutuhkannya.

Aku tahu kau pasti terkejut membaca ini. Karena Mahaning yang kau kenal mungkin terlihat sangat kuat dan ceria. Bukannya aku ingin mengenakan topeng di depan kalian. Aku hanya merasa ada hal lain yang lebih berharga yang perlu kubagikan selain kesedihan. And please, dont feel sorry for me after reading this. I am not 100% OK. But I am still alive and I am learning to make my life and life of everyone I love be better and more meaningful.

Alhamdulillah. I finally can write this in my blog. Do not hesitate to leave comment or contact me if you have any thought regarding this post. I will really appreciate that 🙂

 

 

 

 

24

Malam itu aku berjanji, aku tidak akan terjatuh di lubang yang sama, aku tidak akan berhenti sebelum berhasil, dan aku akan bangkit lagi ketika terjatuh.

Kira-kira setahun yang lalu, di tengah malam ketika fikiran masih juga sibuk.

Saat itu aku berharap, doa yang samar-samar dari jauh itu bisa kuupayakan.

Namun aku tidak sempurna.

Lagi-lagi aku terjatuh, bahkan kadang kedalam lubang yang sangat dalam. Sampai cahaya hanya terlihat seperti bintang, titik putih kecil yang  tidak cukup melubangi kegelapan.

Berat sekali pundak ini. Kaku sekali tubuh ini untuk bergerak. Kecil sekali nyali ini.

Kulihat luka-luka memar bekas perjuangan masa lalu. Masih terlihat jelas bekasnya. Namun sering kulupa.. Seberapa kuat aku telah berjuang keluar dari hutan rimba itu, mengalahkan binatang-binatang buas. Seberapa sering pahlawan tanpa diundang mengukulurkan tangannya ketika aku terjatuh, dan mengobati lukaku.

Kenapa mudah sekali kulupa.

Padahal setiap darah yang menetes dari luka adalah bukti keberanian melawan musuh-musuh besar. Setiap jahitan adalah cinta dari orang-orang yang mengajarkan agar kau juga bisa mencintai.

Aku tahu, sulit sekali untuk merangkak keluar dengan tubuh penuh luka. Tapi bukankah lebih sulit untuk menerima kenyataan bahwa kau telah dikalahkan nyali kecilmu.