Father – The one who want to be loved too.

Bandara Internasional Soekarno Hatta, 2015

Akhirnya saat itu tiba. Saat dimana akhirnya aku harus berpisah dengan keluargaku untuk merantau ke negeri kangguru guna mencari ilmu.

Rasa sedih karena harus meninggalkan orang yang kucintai untuk waktu yang tidak singkat, khawatir karena aku harus beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar baru, dan senang karena akhirnya cita-citaku berkuliah diluar negeri hanya tinggal menunggu hari, bercampur aduk jadi satu.

Aku ditemani Ayah, Ibu, dan kedua adikku, Seli dan Tatah. Kami berangkat cukup awal menghindari kemacetan Bekasi-Jakarta yang tidak terduga.

Saat aku hendak masuk untuk check-in bagasi dan berpamitan dengan semuanya. Mata ibuku berkaca-kaca. Terlihat kesedihannya melepaskan salah satu anaknya ke negeri yang jauh di seberang sana.

“Jaga diri baik-baik ya ning. Jangan lupa sholat 5 waktu dan berdoa supaya selalu dimudahkan dalam mencari ilmu” Ujar ibuku yang membuatku jadi ikut berkaca-kaca. Setelah itu aku bersalaman mencium tangannya. Kemudian beralih menyalami ayahku. Dengan tegar dan tidak menunjukan kesedihan sedikitpun ia berpesan.

“Belajar yang rajin. Selalu sabar kalo ada kesulitan. Jangan gampang emosi. Jangan tidur habis subuh. Jangan boros-boros” Ujarnya simple. Seperti biasa. Banyak kata-kata ‘jangan’ pada kalimatnya.

“Iya. Haning ga pernah boros kok” Ujarku sambil cengengesan.

Lalu aku bersalaman dengan adik-adikku dan bergegas izin untuk masuk pintu checkin bagasi.

Sepanjang jalan aku teringat wajah ibuku. Matanya yang berkaca-kaca. Juga ayahku, yang kelihatannya selalu tegar dan keras, namun sebenarnya selalu mendoakan anaknya diam-diam.

Ya, dia yang sebenarnya juga ingin dicintai namun terlalu bingung untuk mengungkapkannya.

Harinya dimulai dari jam setengah tiga pagi. Ibuku bercerita, bahwa ayahku lah yang selalu membangunkannya untuk melaksanakan shalat tahajud. Namun karena tahu kalau ibuku lelah. Ayahku biasanya membangunkannya sekitar jam 4, setengah jam sebelum subuh. Setelah shalat biasanya ayahku berdzikir dan mengaji. Baru ketika hendak subuh ayahku bergegas ke masjid untuk shalat berjamaah.

Seusai shalat shubuh, ayahku mengadakan taklim keluarga di rumah. Dia biasanya membacakan 2-3 buah hadits dan menerangkannya. Aku sering sekali tertidur karena masih mengantuk akibat tidur larut malam. Begitu pula adik-adikku. Sesekali ia memanggil aku yang hampir tertidur dengan nada tinggi agar aku bangun.

“Makanya kalo tidur jangan kemaleman!. Rahmat Allah itu adanya di pagi hari!. Harusnya kamu jemput, bukan malah tidur habis subuh!” Ujarnya dengan nada galak seperti biasa. Mungkin karena sudah lelah juga setiap hari menegurku yang tidak kapok-kapok.

Setelah taklim, sekitar jam setengah 6 ayahku berangkat kerja. Karena memiliki usaha sendiri, ayahku bebas mengatur waktunya. Biasanya ia pulang sekitar jam 11 siang untuk Ishoma. Kadang setelah itu langsung kembali ke tempat kerjanya. Kadang kembali pada sore hari ketika usaha akan ditutup.

Biasanya ia tidur jam 9 malam agar bisa bangun tahajud. Namun tidak jarang juga tidur jam 11-12 karena harus mengurus beberapa hal. Namun aku selalu salut padanya. Tidur jam berapapun, ia selalu bangun jam setengah 3 pagi dan tidak tidur selepas subuh. Kadang aku malu. Aku masih muda. Namun sering sekali merasa waktu tidurku belum cukup dan karena itu butuh tidur seusai subuh.

Dia bukan robot atau malaikat. Tentu saja dia lelah atas perjuangannya sangat berat. Perjuangan untuk selalu memenuhi kebutuhan keluarganya. Agar istri dan anak-anaknya bisa makan makanan bergizi, berpakaian bagus dan tidak terhina di masyarakat. Perjuangan untuk menjadi sosok panutan bagi keluarganya. Untuk selalu konsisten beribadah dan berkerja dengan giat. Selelah apapun, ia selalu menjadi sosok yang kuat dan tegar. Ia tidak pernah berkata “lelah” sekalipun seumur hidupnya.

Kelelahan yang dipendamnya memang kadang membuatnya keras dan kaku. Ia lupa waktunya liburan dan bersenang-senang dengan keluarga. Di pikirannya hanya ada kewajiban untuk mencari nafkah. Baginya itu lah kebahagiaan terbesar yang bisa ia berikan.

Kadang kami lupa jerih payahnya. Dan melabelkan bahwa beliau adalah orang yang kaku dan keras. Aku lebih sering berbicara dengan ibuku. Menceritakan hari-hariku kemudian bergantian mendengar ceritanya. Tidak pernah aku atau saudaraku yang lain curhat pada ayah. Karena jawabannya seringnya mengkritisi.

Tujuannya baik. Hanya saja mungkin ayah terlalu terfokus pada hal yang harus kami perbaiki, tanpa benar-benar memberi suport secara emosional terlebih dahulu. Ayah bingung, sebenarnya ia ingin menjadi seperti ibuku, bisa menunjukan kasih sayangnya dengan leluasa. Tapi ia selalu tidak tahu bagaimana caranya.

Ia yang mendidik anaknya supaya menjadi anak yang tegar dan pemberani. Baik anak laki-laki maupun anak perempuannya. Berbeda dengan ibuku yang mudah cemas dan kadang overprotektif. Aku ingat awal-awal aku belajar menyetir mobil. Ayahku menyuruhku menyetir mobil dari Bekasi sampai Malang. Ibuku langsung cemas.

“Pa, beneran si haning yang nyetir?” Tanya mamaku

“Iya. Pokoknya papa percaya sama kamu ning” Jawabnya santai

Dan kepercayaannya bukan hanya sebatas kata-kata. Sepanjang jalan ia tertidur lelap. Membiarkanku menyetir dengan berberkal GPS yang di pasang di mobil. Beberapa kali aku hampir menabrak. Jantungku mau copot rasanya. Ibuku sudah marah-marah supaya ayahku menggantikanku menyetir. Tapi ayahku bersikukuh agar aku tetap menyetir.

Rute Bekasi-Malang bukan rute yang mudah. Kadang untuk menghindari kemacetan di jalur pantura, aku harus mengambil jalur agak ke tengah yang biasanya mimin pencahayaan dan berkelok tajam. Kadang harus berhadapan dengan bis malam yang supirnya punya 7 nyawa. Membuatku terus beristighfar sepanjang jalan.

Seperti itulah ayahku mendidik anaknya sedari dulu. Pendidikan semi militer yang menuntut anaknya untuk super mandiri dan tidak mudah menyerah. Kadang anak laki-lakinya saja kewalahan mengikutinya. Bersyukur ada ibuku yang mengingatkan ketika sudah dirasa kelewatan.

Sesampainya di Malang aku tertidur seharian dengan jantungku yang masih berdetak kencang. Sampai dalam mimpiku, aku seperti menyetir di jalan yang di kelilingi jurang. Rasanya aku cukup trauma.

Sedari kecil hidupnya memang sulit. Kakek nenekku hanyalah petani di lahan milik orang. Kadang dari bekerja pagi hingga petang mereka mendapat upah berupa uang, kadang hanya hasil tani yang hanya cukup untuk makan 1-2 hari. Beruntung ayahku tidak perlu membayar biaya sekolah karena mendapat beasiswa. Sembari sekolah ia berjualan opak. Aku ingat, ketika sedang menyetir di kemacetan sering ada orang berjualan makanan. Ayahku berkata.

“Dulu papa jualan itu” ujarnya sambil menunjuk orang yang berjualan opak

“Wah iya?” tanyaku penasaran

“Iya. Dulu mbokmu tiap pagi goreng opak. Papa yang yang jual di sekolahan. Kalo libur papa jualan sampe sore sama mbah. Dari lemah duwur  sampe alun-alun kota Malang”

“Jauh banget jualannya. Naik apaan pa?”

“Jalan kaki”

“Ha?! Itu jauh banget pa. 10 kilo lebih kali”

“Ya makanya sampe sore” Jawabnya sembari mengenang  masa lalu.

Kami anak-anaknya terdiam mendengar kisahnya. Sungguh beruntungnya kami terlahir di keluarga sudah berkecukupan, ditopang seorang pekerja keras yang tak pernah mengeluh. Tak pernah hitung-hitungan atas apa yang ia berikan.

Ia tak pernah meminta apapun dari anak-anaknya. Baginya, yang penting anaknya bisa hidup mandiri dan sukses. Itu sudah membuatnya lebih dari senang.

Setelah aku lulus dari UNSW dan mulai bekerja di tempat kerjaku yang sekarang ayah berkata padaku

“Pendidikanmu tinggi. Kamu kerja di tempat yang bagus. Bisa dibilang papa udah cukup lega ngeliatnya. Tapi sepanjang apapun titel kamu, segede apapun gaji kamu, jagalah ahlaq kamu. Jangan sombong. Semua itu amanah yang dititipin Allah yang akan dimintai pertanggung jawaban” Ujarnya. Lalu dia menyambung “Jangan lupa, cari jodoh yang lebih baik dari papa. Yang selalu bisa menuntun kamu pada kebaikan”

Aku terharu mendengarnya. Cukup jarang ayahku bisa berkata-kata dengan nada lembut dan tatapan sayu seperti itu. Artinya ia memang benar-benar meminta dengan setulus hatinya.

“Aamiiin doain terus ya pa” jawabku.

 

Ayah..

Sikapku kepadamu tidak semanis sikapku pada Ibu

Aku kadang meragukan keputusanmu

Aku kadang tidak bisa melihat kasih sayang mu

Maafkan aku..

Aku sadar, pundakmu yang kuat kini mulai rapuh

Kau juga butuh kawan untuk bercanda tawa

Kau juga ingin anak-anakmu mencintaimu seperti mereka mencintai ibunya

 

Kami melihat semuanya.

Keringatmu. Kelelahanmu. Ketegaranmu.

Kau tidak peduli. Kau hanya selalu ingin kami semua mendapat yang terbaik.

Maafkan aku yang terkadang kurang sabar berhadapan denganmu. Aku lupa kau sedang kelelahan.

Terimakasih atas doa-doa dan kasih sayang yang selalu kau curahkan diam-diam untuk kami semua.

Semoga Allah selalu membalas semua ketulusanmu, mengijabah doamu.

Semoga aku selalu bisa menjadi anak sholehah kebanggaanmu. Semoga kita semua selalu menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah , warrahmah.

 

 

Advertisements

Mother – Revealing the Hidden Salary

Malam itu, selepas rapat dengan client aku kembali ke ruangan yang berisikan teman-teman tim dari kantor. Mereka mengerubungi satu orang yang kelihatannya sedang bercerita sesuatu. Aku mendekati mereka untuk nimbrung.

“Kenapa kenapa sih?” Tanyaku penasaran

“Ini kasian banget ada temen gw lahiran tapi salah ngejen. Eh kerobek” ujarnya

“Kerobek?” Tanyaku tidak paham

“Iya kerobek kebawah gt”

“Aaaa.. Astagfirullah!!” Aku berteriak histeris sambil menutup telinga

“Iya. Katanya sakit banget”

Lalu project managerku yang sudah memiliki 1 anak membalas

“Yang ga ada sobek aja sakit banget” ujarnya

“Iya ya?” tanya ku

“Iya. Padahal udah diajarin cara-cara ngejen yang bener. Tapi saking sakitnya lupa semuanya. Karena itu disaranin pas lahiran ada suaminya nemenin buat ngasih aba-aba harus ngapain” jawabnya

“Sesar aja apa ya mendingan?” tanya temanku

“Kalo sesar setelahnya yang sakit. Jauh lebih lama proses recoverynya” Jawab project managerku.

Aku jadi teringat. Ketika mamaku sedang sangat marah dengan anaknya dia perna berkata “Kamu ga tahu apa susahnya mama ngeluarin kepala kamu?!”. Hmm.. sama sekali ga tau sih. Kan belum pernah. Tapi kalo denger cerita-cerita gini sepertinya memang antara hidup dan mati.

Aku juga jadi ingat. Waktu itu aku pernah akan disuntik dokter di lengan atas. Dokternya bertanya apa aku mau tiduran atau duduk saja disuntiknya. Lalu aku bertanya kenapa aku harus tiduran. Lalu dokternya menjawab, biasanya pasien cowok sangat takut disuntik, dan karena takut pingsan mereka ingin disuntuk sambil tiduran. Hmm aku jadi tersadar, mugkin memang wanita lebih tahan sakit dibanding pria. Dan dalam hidupnya, ada beberapa momen dimana wanita akan tersakiti by nature. Misalnya hamil dan melahirkan. Semoga cukup dua itu saja ya.

Aku menelisik kembali pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang harus kita hormati di dunia yang pertama adalah ibu, yang kedua adalah ibu, dan yang ketiga juga ibu, baru yang keempat adalah ayah. Karena memang besar pengorbanan seorang ibu, mulai dari kita dikandungnya sampai bisa sebesar ini. Dan itu juga mengapa Surga ada di telapak kaki ibu, bukan ayah.

Allah memang sudah mengatur segalanya dengan sebaik-baiknya. Karena beban yang wajib ditanggung seorang ibu, ibu tidak dibebankan untuk menafkahi keluarga seperti ayah. Karena memang walaupun tidak ada nafkah secara penghasilan, ibu lah yang bekerja mengurus rumah tangga. Mulai dari mengurus anak dari bayi sampai dewasa, membersihkan rumah, dan termasuk mengurus bayi besar baca:suaminya. Tidak usah merawat bayi. Bahkan merawat anak yang sudah berakal saja sudah aku sudah kesusahan. Kakakku kadang menitipkan anaknya yang masih balita di rumah ibuku. Kadang aku yang kebagian merawatnya. Mulai dari memandikan, masak, memberi makan, menemani mereka bermain, belajar, dan seterusnya. Rasanya harus ekstra sabar dan mau berkorban waktu dan pikiran.

Walaupun tidak berpenghasilan, banyak pekerjaan seorang ibu yang luput dari perhitungan. Jika kita mau list down, berikut adalah jobdesk yang tidak terhitung dalam payroll bulanan PT. Rumah Tangga Sejahtera:

  1. Mengandung 9 bulan (Beraktivitas jadi lebih sulit dari biasanya)
  2. Melahirkan (antara hidup dan mati)
  3. Menyusui (harus siap bangun malam untuk memberi asi dan menidurkan bayi)
  4. Memandikan anak
  5. Masak untuk anak dan suami
  6. Memberi makan anak
  7. Menjadi teman bermain anak
  8. Membersihkan rumah (pembantu saja hanya beres2 tarifnya sudah sekitar 3.5 jt perbulan)
  9. Menyuci dan menyetrika
  10. Mengantar jemput anak kalau sudah sekolah
  11. Menjadi guru bagi anak

Dan lain-lain.. ditambah lagi masih harus merawat kecantikan supaya selalu sedap di pandang.

List diatas bukannya berarti aku perhitungan terhadap pembagian pekerjaan dalam rumah tangga. Namun seyogianya, semua pihak menyadari, dibalik profesi sebagai ibu rumah tangga, ada jobdesk yang tak kalah sulitnya dibanding wanita karir.

Aku pernah menjadi saksi dalam konflik yang disebabkan ketidak pedulian pihak laki-laki atas list pekerjaan diatas. Tersebutlah Bapak Y yang sedari dulu meminta istrinya, Ibu X untuk berhenti bekerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga. Namun, bukannya menyadari bahwa ia yang telah merebut kesempatan Ibu X untuk memiliki penghasilan sendiri, malah pada suatu ketika, saat ada masalah dalam keluarga, bapak Y tiba-tiba memutuskan jatah bulanan yang harusnya ia berikan pada ibu X. Dipikirnya semua hartanya adalah hartanya. Oleh karena itu saat ada masalah, ia tidak ingat bahwa ada hak yang harus diberikannya kepada wanita yang selama ini mengorbankan mimpinnya untuk menemani perjuangan hidupnya.

Tentu kasus ini tidak bisa digeneralisir. Banyak juga kasus yang kutemui dimana pihak laki-laki memberikan hartanya sepenuhnya pada pihak wanita, agar kemudian pihak wanita yang mengelola. Tentunya laki-laki yang seperti ini yang diidamkan semua wanita. Hehe.

Dulu kakak kelasku yang sudah berkeluarga pernah menasehatiku.

“Ning, aku liat kamu orangnya kayak aku. Mandiri, dan loyal sama orang. Tapi pesenku yang mesti kamu inget baik-baik.. Kalau kamu berkeluarga nanti, jangan tawarkan kamu mau ngasih persentase berapa dalam nafkah keluarga. Karena kamu sama sekali ga berkewajiban. Nanti suamimu jadi lupa kodratnya. Kamu lihat aja setiap bulan gimana kemampuan suamimu, baru kalau ada yang kurang kamu bantu” Ujarnya, which turns out really useful for me to filter out which guy is really responsible and which one is not.

Sebenarnya keputusan itu kembali kepada keputusan masing-masing. Kalau kamu wanita dan memang mau ikut memberi nafkah dari penghasilanmu, itu hakmu. Namun entah lah, jika kamu laki-laki dan kamu yang terang-terangan meminta pasanganmu memberi nafkah rasanya cukup membuat ill feel. Sounds ga gentle dan ga cukup confident dengan kemampuannya.

So girls,

It is all yours to decide mau jadi ibu rumah tangga atau wanita karir. Tapi let be wise. Kamu harus ingat list diatas. Bahwa kamu berkewajiban untuk memelihara rumah tanggamu dan menjadi madrasah bagi anak-anakmu. Carilah karir yang mengizinkanmu untuk tetap menjalankannya.

And boys,

If you see your wife works, does not mean that your obligation to fulfill family needs is gone. Karena kamu lah yang berkewajiban. Jika istrimu berbaik hati mau menyumbangkan penghasilannya, hukumnya sedekah. Kamu mau seumur hidup jadi penerima sedekah?.

 

 

Wallahu’alambissawwab.

Lesson from Central to Bankstown

Kereta bertingkat melaju cepat mengantar kami dari stasiun Sydney Central ke stasiun Bankstown. Di samping tempat dudukku, temanku sedang membaca Al-Qur’an dengan suara pelan. Tidak lama kemudian, seorang lelaki bule sudah beruban berjalan mencari tempat duduk. Dia pun duduk menghadap temanku. Aku memperhatikannya diam-diam yang sedang menatap temanku. Sepertinya penasaran dengan apa yang temanku lakukan. Temanku tetap melanjutkan bacaannya tanpa sungkan.

Aku terkesima dengan temanku yang satu ini. Dari sekian banyak orang Indonesia yang kukenal yang merantau sejenak ke Sydney untuk belajar, dia lah yang paling tegar untuk beribadah. Bahkan dia  adalah orang yang mengajariku untuk shalat di taman umum ketika sudah waktunya shalat.

Tidak lama kemudian, kereta akhirnya berhenti di stasiun Bankstown. Kami pun berjalan ke arah tempat kajian. Yang hadir di tempat kajian itu kebanyakan ibu-ibu. Mereka cukup kagum ada anak muda yang menyempatkan diri mengikuti kegiatan tersebut. Aku saat itu hanya diajak temanku ini, tapi kuharap semoga aku bisa istiqomah seperti beliau.

Aku yakin, setiap orang, baik yang tua maupun muda sebenarnya terpanggil untuk beribadah mendekatkan diri kepada Rabbnya. Walaupun saat itu seseorang meninggalkan kewajibannya, bermaksiat dan sebagainya, aku yakin sebenarnya hatinya mencari. Karena ruh pada hakikatnya akan selalu mencari pemiliknya. Hanya saja, sering panggilan itu terabaikan karena sibuk mencari kesenangan dunia. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan yang demikian.

Ilmuku memang masih sangat sedikit. Sampai saat ini ketika ada teman yang bertanya perihal hukum syariat, sulit rasanya memberikan referensi. Hanya menyampaikan apa yang kuingat, namun tidak ada validasi dimana sumber primer informasi itu. Memang sulit untuk menjadi master di segala hal,  master ilmu dunia dan ilmu akhirat. Namun dalam firman Allah dalam surat Al-Qasas ayat 77:

Carilah negeri Akhirat pada nikmat yang diberikan Allah kepadamu, tapi jangan kamu lupakan bagianmu dari dunia“.

Disebutkan bahwa sebenarnya yang harus kita utamakan adalah ilmu akhirat. Ilmu dunia memang penting, karena untuk menyambung hidup, mencari nafkah, bermasyarakat, kita harus paham ilmu dunia. Namun jika tidak diimbangi dengan ilmu akhirat, bisa-bisa kita hanya menjadi budak dunia yang selalu haus akan dunia, menghalalkan segala cara untuk sukses dari kacamata duniawi dan lupa bahwa setelah ini semua yang kita lakukan akan dimintai pertanggung jawabannya. Na’udzubillah.

Lalu sejauh apa kita harus belajar ilmu akhirat? Apa pengetahuan mengenai rukun islam dan rukun iman tidak cukup?. Misalnya pertanyaannya kuubah sedikit. Misalnya kamu seorang dokter gigi yang baru-baru itu mulai berpraktik menjadi dokter gigi. Misalnya kamu menemui satu kasus. Apa kamu puas dengan mempelajari satu kasus itu? Apa kamu sudah merasa cukup ahli?.

Kita mungkin sedikitnya sering tidak adil.

Kita sering sekali merasa bodoh ketika kita sedikit tertinggal dibanding teman-teman dalam hal duniawi. Namun ketika sering merasa aman jika kita jauh tertinggal untuk urusan akhirat.

Belajar sejatinya adalah proses berkelanjutan. Tidak ada kata cukup. Selama kita hidup, selama itu lah kita harus belajar.

Namun aku juga menyayangkan. Banyak orang yang sebenarnya terpanggil namun enggan mempelajari ilmu agama. Salah satunya hal ini disebabkan oleh isu radikalisme. Semenjak kejadian 9/11, dimana pada hari itu aku genap berusia 9 tahun, Islam diidentikan dengan sesuatu yang radikal, barbarik dan teror. Termasuk aku. Bahkan sampai aku lulus SMA, aku masih berfikir wanita yang berkerdung panjang atau laki-laki berjenggot bercelana cingkrang adalah orang-orang berfikiran sempit yang tidak terbuka pada modernisasi.

Namun, semakin banyak aku mengenal orang yang berpenampilan seperti itu, semakin terbuka wawasanku. Mereka mengajarkanku bahwa muslim yang taat adalah muslim yang cerdas dan maju dalam hal duniawi namun hati mereka tetap bersih dan tidak terkotori ketamakan duniawi. Mereka sukses karena mereka memiliki tujuan yang lebih besar. Ingin berguna bagi keluarga, agama, nusa dan bangsa. Semoga kita juga bisa menjadi seperti itu. Aamiin.

Walaupun aku tahu, isu radikalisme itu sudah berhasil menciutkan nyali generasi Muslim saat ini. Seakan malu untuk menjalankan syariat. Malu untuk berkerudung, malu untuk sholat 5 waktu, malu untuk menolak ajakan minum-minum, malu untuk tidak berpacaran. Takut dibilang tidak gaul. Takut dibilang anak sholeh. Namun, Allah tidak pernah membiarkan cahaya Islam redup. Cahaya itu akan terus bersinar, dijaga oleh hamba-hambanya yang bertaqwa.

Alhamdulillah di setiap titik hidupku, selalu ada cahaya yang menerangi relung hatiku yang gelap. Semoga kedepannya aku yang menjadi cahaya itu.

Al-Furqan

Tidak ada yang salah dengan perkataannya

Semuanya terdengar sempurna

Tapi sebenarnya kau sadar

Bahwa kelakuannya tak berbanding lurus dengan perkataannya

Semua hanya fatamorgana di padang pasir

Mengelabuhi

Meninggalkan kekecewaan yang amat sangat.

 

 

Kau pun muak dengan benang rumit yang dibuatnya

Menutupi jati dirinya yang sebenarnya

Membuat mu hanya percaya apa yang kau dengar

 

Tapi memang kau tidak sebodoh itu

 

Apa yang kau lakukan sudah benar

Kau tidak akan menukar kotak harta karun yang kau simpan baik-baik

Dengan sebuah karung yang kau tidak tahu apa di dalamnya

Yang ia bilang itu lebih baik dari sebuah surga

 

Namun kau sudah hafal majaz hiperbola yang selalu dilontarkannya

Kau juga memiliki Al-furqon dalam hatimu

Dimana ketika kau hendak melakukan kesalahan,

Dadamu terasa sesak

Nafasmu terengah-engah

Kau merasa ketakutan yang amat sangat

 

Ketika kau sudah bertekad menjadi seseorang yang beriman

Dan bertekad untuk terus menjadi lebih baik

Tuhan sudah membekalimu dengan kendali itu

Yang mungkin tidak dimilikinya

Sehingga tidak mungkin kau mengikuti langkahnya

Tidak mungkin kau tetap menginjak gas penuh ketika dihadapanmu adalah jurang yang terjal

 

Kau selalu berusaha untuk tidak menghakimi orang

Kau selalu memberi kesempatan pada siapapun itu

Kepada penjahat, pembunuh, perampok

Yang kadang melukaimu

Seperti sekarang

 

Tapi kau adalah kau

Yang mungkin terlalu baik

Terlalu naif

 

Tapi tidak apa

Kadang kau tidak perlu memiliki ilmu bela diri untuk tidak terluka

Kau hanya perlu orang-orang baik disekelilingmu

Yang akan melindungi satu sama lain agar tidak terluka

 

 

 

Blackout

I am being told

If I dare to climb a mountain, passing through the cliff

I will be able to reach the star

A dot of light which seems so far away from my current place

Here is very comfortable

I am happy enough to see the star from my window

So why i need to move on?

I thought I will think that way.. but my other side of me tell different thing

It is a sickener of repetition between opening and closing my window in my bedroom

And is a desire to proof that actually I am really alive

So I get out of my bed and go to the mountain

And

It is worse than my bedroom, worse than anything that i’ve ever imagined

The roads are patterned in red of my bleeding

I could not really describe anymore which part is hurt

All the giant skyscraper trees surround me

No light permeated, no sounds heard

It is just a blackout

Just me who is lost

Just me who doubt if I will find the end of this blackout

Just me who is afraid how if after blackout is also blackout

I feel so low

I try to believe the sermont

About the children who hug the star

Yes

So at least I know that I am alive

I am not just dreaming but fighting for my dream

I will not stop here

The darkness cannot force me to give up

I do not care how many blackout I need to pass

But I will climb for my star

 

Tulang Rusuk yang Bengkok

Dari itulah wanita diciptakan.

 

Aku disini. Mewakili para wanita yang mungkin terlalu sibuk dalam pendidikan dan karir. Atau wanita yang terlanjur lama tersesat dalam hubungan yang penuh ketidakpastian. Atau wanita yang memang lebih suka kebebasan sehingga masih melajang untuk berpetualang.

Hidupmu sangat singkat jika hanya pikiranmu hanya disibukkan oleh desakan orang tua, teman-teman dan lingkungan yang memintamu untuk segera menikah. Hidupmu kurang bermakna jika setiap sujud kau hanya berdoa tergesa-gesa agar Allah cepat-cepat mempertemukanmu dengan jodohmu. Kau lupa masih banyak aspek kehidupanmu saat ini yang patut kau sukuri.

Bukan. Bukan berarti aku menganjurkan mu untuk melupakan jodoh dan fokus pada pendidikan, karir, atau hobimu. Bukan sama sekali

Aku pernah suatu ketika dekat dengan orang yang salah dan membangun hubungan yang salah. Saat aku ingin mengakhiri hubungan tidak jelas yang telah menyesatkanku itu, dengan sadis dia berkata kepadaku:

“Kamu mestinya sadar. Kamu udah 25. Emang kamu pikir gampang cewek umur segitu cari jodoh?”

Kesal? Tentu saja. Memang siapa dia membatasi jodoh orang. And who the hell make me unmarried until this time?. I closed my door for everyone because of waiting for damn an as*hole like you!. Daripada membalas, saat itu aku masih sangat terpukul. Aku hanya menangis menyadari betapa bodohnya aku dulu bisa menerima orang seperti ini. Seseorang  tidak bernyali dan tidak bertanggung jawab yang menghinaku tanpa belas kasih. Padahal Imam Hasan Al-Basri mengatakan

“Jika cinta maka akan memuliakan. Jika benci tidak akan menghina”

Aku tersadar aku sudah tersesat dan membuang waktuku untuk hubungan semu. Aku hanya menemani seseorang kesepian yang tidak benar-benar cinta namun hanya ingin pengakuan dari sekitar. Sudahlah. Biar lah Allah yang memberi balasan. Atas kelakuannya. Atas hinaannya. Doa buruk sering berbalik kepada yang mengutarakan. Semoga saja kata-katanya tidak berbalik pada dirinya sendiri.

Lupakan curhatan singkatku barusan. Mari kembali ke permbahasan kita sebelumnya.

Harus disadari, Islam adalah satu-satunya agama yang sangat menganjurkan umatnya untuk menikah. Pada agama lain, seperti katolik atau budha, seseorang bisa lepas dari anjuran menikah (malah diharamkan) jika seseorang itu ingin menekuni sesuatu. Misalnya dengan menjadi biarawati ataupun menjadi biksu. Tapi dalam Islam, menjadi apapun kamu, kamu dianjurkan menikah. Dan dikatakan bahwa tidak sempurna agama seseorang jika belum menikah. Kalau begitu rasanya ingin menikah besok saja ya?

Tunggu dulu

Memang benar menikah itu bisa menyempurnakan agama seseorang. Tapi ada syaratnya.

Apa itu?

Menikah itu adalah sebuah amanah dari Allah yang harus dipertanggung jawabkan. Untuk bisa melakukannya, pertama kita harus mengetahui tanggung jawab yang akan diemban dalam pernikahan. Misalnya suami bertanggung jawab untuk memimpin keluarga dan mencukupi nafkah keluarganya. Istri bertanggung jawab untuk berbakti kepada suaminya dan mendidik anak-anaknya.

Untuk menerima amanah ini seseorang harus bersungguh-sungguh mempersiapkannya. Bukan lantaran desakan orang-orang sekitar lantas asal menikah. Tanpa benar-benar yakin bahwa dirinya dan pasangannya sudah siap. Tidak sedikit orang yang sudah menikah, malah ingin kembali ke masa lajangnya karena tidak benar-benar paham dan siap dengan konsekuensi pernikahan itu.

Aku pernah bercakap-cakap dengan seorang rekan laki-laki. Dia bilang

“Gw walaupun bandel gini. Tapi gw maunya dapet pasangan baik-baik. Yang sholeh”

Tanpa berfikir panjang aku menjawab

“Wah enak aja! Cewek baik-baik carinya cowok baik-baik juga kali!”

Ya mungkin banyak laki-laki terlampau percaya diri. Atau lebih tepatnya kurang memahami tanggung jawabnya

Sepertinya dia lupa bahwa laki-laki lah yang akan menjadi kepala keluarga. Yang berkewajiban mendidik si tulang rusuk yang bengkok tersebut.

Karena patut disadari bahwa ego laki-laki itu lebih besar. Jika ia tidak diimbangi dengan ilmu yang cukup, apakah tulang rusuk yang bengkoknya bisa menyadarkannya ketika egonya sedang memuncak?. Apa lagi ketika ia diliputi gelimangan harta sedangkan istrinya hanya bergantung padanya secara finansial karena dilarang bekerja. Apa masih mau mendengarkan seseorang tanpa kuasa yang mugkin sudah tidak semenarik dulu?.

Tulisan ini tidak untuk memojokkan kedudukan pria. Tidak sama sekali. Justru sebaliknya. Tulisan ini berusaha untuk menyadarkan bahwa kedudukan pria itu mulia dan harus dimuliakan oleh wanita.

Aku juga pernah bercakap dengan teman wanitaku yang berasal dari timur tengah. Ia masih muda. Mungkin hanya 5 tahun diatasku. Namun dia telah bercerai dengan suaminya setelah 2 tahun menikah. Dia sangat menyesal mengapa dia tidak benar-benar mencari tahu dan mengenal suaminya sebelumnya. Mereka baru berkenalan sekitar 1-2 bulan dan menikah. Sembari menahan air mata yang sudah menggenang di matanya dia bercerita

“Actually in a very short time of introduction, i was kind a aware. That he is not decisive enough. It was me that plan everything. Also I was aware that he was not a good imam. And turns out when we married, I need to insist him to pray 5 times a day. Sometimes he still does not want and angry at me, especially when I wake him up to pray Fajr”

Dia menyeka air matanya. Aku memeluknya yang saat itu berlagak tegar namun aku tahu bahwa ia sangat terpukul atas pengalaman pahit itu.

Betul kita tidak sempurna. Aku juga masih butuh banyak belajar. Tapi tolong jangan bebankan ketidaksiapanmu pada orang lain. Jangan egois dan berkata bahwa kondisimu saat ini sudah cukup dan biar orang lain yang menanggungnya.

Disini mungkin sepertinya aku terfokus pada kesiapan dari sisi agama. Namun memang itulah basicnya. Agama lah yang membentuk aqidah yang lurus dan ahlaq yang terpuji. Dengan belajar dan mengamalkan agama kau mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajibanmu serta suamimu kelak. Agama lah yang mengatur mulai dari bagaimana sebaiknya laki-laki mendekatkan diri pada wanita dengan cara yang baik, bagaimana wanita meresponsnya, sampai bagaimana cara memuliakan satu sama lain ketika sudah berkeluarga.

Bukan berarti setelah melakukan itu tidak akan ada masalah sama sekali. Terpaan angin ujian kehidupan bagaimanapun akan lebih berat ketika berumah tangga. Namun yang menjadi kunci adalah bagaimana cara menyikapinya. Akan sulit kalau masing-masing pihak selalu bertentangan pendapat karena memang tidak memiliki basic keyakinan yang sama.

Aku ingin berpesan kepada semua teman-teman wanitaku yang kusayangi. Berapapun usiamu saat ini, jangan obral dirimu hanya karena desakan orang. Luruskan kembali niatmu untuk menikah.

Kamu ingin membangun keluarga yang sakinah mawaddah warrahman bukan?. Kamu tidak ingin setiap hari menangis meratapi pasanganmu agar bisa berubah namun harapan itu tak kunjung menjadi nyata kan? Kamu pastinya tidak ingin menyesali komitmen yang kamu buat dan berharap kembali ke kehidupan lajangmu kan? Kamu ingin walaupun kamu lelah mengurus keluarga dan karir namun kamu tetap bahagia dan selalu dapat memetik hikmah ditiap tetes keringatmu kan?

Kamu wajib mencari tahu tentang pasanganmu. Tentang visinya. Tentang keyakinannya. Tentang ahlaqnya. Semuanya. Dan meyakinkan bahwa semua itu sejalan dengan yang kamu miliki.

Menikah itu mulia

Tapi bukan berarti sembarang menikah

Bersabarlah

Percayalah bahwa jodoh, rezeki, dan kematian sudah ditetapkan oleh Allah.
Percayalah pada rencana terbaiknya. Berbaik sangkalah.
Terus berdoa dengan penuh kerendahan diri. Bahwa Allah lah yang maha mengetahui yang terbaik untuk hambanya.
Terus berusahalah.
Kita memang tidak tahu doa atau usaha yang mana yang akan membuahkan hasil.
Tapi Allah tidak pernah lalai sedikitpun dalam setiap doa dan ikhtiarmu. Allah maha melihat dan maha mendengar. Dan Allah tidak pernah mendzolimi hambaNya sedikitpun

Wallahu’ala bissowab.

 

 

 

Primbon

Mungkin sebagian besar dari kita tahunya primbon adalah website yang isinya postingan foto-foto ghaib. Namun bagi orang yang berasal dari tanah Jawa mungkin tahu bahwa primbon adalah sebuah buku yang dipercaya layaknya sebuah kitab. Ya kitab layaknya Al-qur’an dan Hadits.

Primbon berkembang dari kebudayaan Islam kejawen di tanah Jawa. Islam kejawen sendiri adalah akulturasi ajaran agama islam, kepencayaan hindu budha, dan adat Jawa itu sendiri. Primbon dipercaya sebagai petunjuk yang menjelaskan karakter orang dari tanggal lahirnya, kecocokan jodoh, tempat unuk mencari rezeki, perhitungan hari baik pernikahan, jual beli dan lain-lain.

Lalu bagaimana primbon ini dibuat?. Konon, primbon dibuat berdasarkan tanda-tanda alam yang sebenarnya bisa menjelaskan sesuatu. Agak mirip dengan astrologi kalau dipikir-pikir. Kalau Astrologi pseudoscience nya Astronomi, primbon seperti pseudoscience nya Islam.

Sebenarnya sedikit banyak alam memang memberikan tanda-tanda pada manusia. Misalnya seperti bulan purnama yang ditafsirkan dapat meningkatkan energi negatif pada manusia (pasti yang nonton Ganteng-Ganteng serigala tahu lah ya). Hal ini sebenarnya juga tecatat dalam Islam. Dimana Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk berpuasa pada tiap bulan purnama, alias Ayyamul bidh, yaitu puasa pada setiap pertengahan bulan-bulan Hijriyah. Tidak lain agar umatnya lebih dapat mengontrol energi negatif yang meningkat.

Kembali ke Primbon. Sebuah kitab karangan manusia yang tidak ada garis sanadnya sama sekali. Apakah kita boleh mempercayai nya?. Pertanyaan ini sama seperti, apakah kita harus percaya zodiak?. Well, namanya pseudo, hanya kelihatannya saja meyakinkan bagi yang mempercayai tapi sama sekali tidak bisa dijadikan pegangan.

Penulis sendiri memiliki orang tua yang percaya primbon. Anak-anaknya sudah berkali-kali kena getahnya. Dekat dengan seseorang, namun ketika dihitung kecocokan tanggal lahirnya, ternyata tidak cocok. Akhirnya harus putus. Kesal dan sedih iya. Namun bagaimanapun orang tua adalah orang yang telah membesarkan penulis sampai sebesar ini. Termasuk pernah menyekolahkan penulis di pesantren sehingga sedikit banyak tahu ilmu agama.

Nabi Muhammad sendiri tidak pernah menggunakan kekerasan dalam berdakwah. Kepada ibu, ayah dan paman beliau, beliau tidak pernah berkata kasar yang menyinggung perasaan mereka. Bahkan beliau menganjurkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, terutama kepada Ibu.

Namun, penulis bukannya diam saja dan membiarkan itu semua terjadi terus-menerus. Penulis dan saudara-saudara penulis sudah mencoba membicarakan baik-baik namun belum ada hasilnya. Tidak apa. Berarti memang usahanya belum cukup.

Orang tua penulis pernah berpesan, menurut primbon, penulis yang lahir pada Jumat Pon ini untuk mencari rezeki harus ke arah utara dan barat, dan tidak boleh ke arah selatan dan timur karena akan mengalami kesengsaraan dan kesulitan.

Tapi yang penulis lakukan justru sebaliknya. Saat memilih kampus untuk kuliah S1 dulu, penulis sengaja memilih kota Bandung sebagai tempat kuliah karena posisinya yang ada di timur agak selatan dari tempat tinggal penulis. Saat itu kelihatannya orang tua penulis agak tidak sadar bahwa Bandung berlokasi demikian. Lalu apakah penulis sengsara?. Wah bisa dibilang itu adalah masa-masa keemasan. Penulis mendapat beasiswa, memenangkan perlombaan-perlombaan nasional, mengikuti konferensi internasional, dan aktif diberbagai organisasi, baik internal maupun eksternal kampus. Penulis juga dipertemukan dengan teman-teman hebat yang banyak meng-influence sudut pandang penulis dalam memaknai hidup. Selepas kuliah, Alhamdulillah IPK penulis adalah yang tertinggi di satu fakultas.

Lalu saat melanjutkan S2, penulis juga sengaja memilih lokasi yang dianggap membawa sial, Sydney. Letak Sydney jelas-jelas di sebelah selatan dan timur dari Bekasi. Saat itu orang tua penulis bertanya “Kamu ga mau ke Inggris atau Eropa gitu?” . Lalu dengan beralasan ranking kampus dan suhu udara yang cukup stabil (karena penulis agak intoleran dengan suhu dingin) akhirnya mereka pun pasrah dengan keputusan anaknya yang cukup berwatak keras ini.

Di Sydney, bisa dibilang tidak segemilang saat di Bandung dulu, karena kompetisinya juga jauh lebih ketat. Namun Alhamdulillah target GPA Distinction masih terpegang.

Yang penulis sadari adalah, adanya penurunan ibadah penulis saat di Sydney. Terutama karena lingkungan yang kurang mendukung. Selain sulit untuk mencari teman yang tertarik mengikuti kajian-kajian rutin, sarana ibadah pun kurang mendukung. Tidak ada adzan, sulit untuk menemukan tempat sholat. Salah satu pengalaman penulis. Saat belanja ke Mall dan hendak sholat, karena tidak menemukan tempat sholat seperti biasa penulis mencari sudut-sudut yang sepi. Tapi karena hari itu hari libur dan ramai sekali, penulis tidak menemukan spot sepi. Ada satu sudut yang lumayan sepi yang belakangnya adalah emergency exit. Namun saat sholat ada yang keluar masuk, sampai penulis batak shalat 4X. Akhirnya penulis pun mencari tempat lain. Penulis pun shalat diatas rerumputan di sebuah taman yang ramai orang-orang bersantai, terutama orang-orang pacaran. Walaupun seorang teman pernah berkata bahwa berbahaya sholat ditengah keramaian seperti itu, karena bisa saja ada muslim-haters yang berbuat jahat, namun Sholat adalah tiang agama, rukun islam, wajib mutlaq yang tidak bisa ditinggalkan kecuali saat berhalangan dan sakaratul maut. Sepertinya penurunan inilah yang akhirnya berimbas kepada penurunan performa penulis karena tidak ada yang bisa benar-benar menjaga motivasi penulis.

Kembali lagi ke Primbon, jadi saat ini ketika orang tua penulis mencoba mengarahkan penulis pada primbon, penulis mengangkat dua kisah diatas. Dan sering orang tua penulis hanya terdiam dan berkata “Ya terserah kamu ning”.

Namun untuk urusan perjodohan masih agak berat. Pertama, belum ada kasus konkrit seperti diatas. Contoh-contoh sebelumnya memihak pada primbon (karena kebetulan contoh yang diangkat adalah contoh dari mereka). Kedua, bagaimana pun Ayah adalah orang yang akan menjadi wali nikah anak-anaknya. Walaupun memaksa seperti apapun namun jika tidak ada persetujuan dari Ayah, tidak akan nikah juga.

Pada kasus terakhir penulis, ayah penulis berkata bahwa hasilnya kurang bagus. Jika ada urutan terburuk, maka kecocokan kali itu adalah terburuk kedua. Menurutnya, nantinya penulis dan pasangan akan terus bekerja banting tulang, namun hasilnya akan sedikit. Jadi kalau tidak salah urutan kecocokan itu seperti : Duka –> Sulit –> Pangan –> Sandang –> Bahagia. Dan penulis dapat posisi sulit, yang artinya untuk dapat pangan (makan) saja sulit. Tentu saja penulis tidak percaya. Berulang kali penulis meyakinkan orang tua penulis, menyebutkan kebaikan -kebaikan pasangan. Awalnya ayah penulis luluh dan mengiyakan “Terserah kamu ning. Kamu yang menjalani. Papa cuma bisa mendoakan”. Namun entah kenapa gerangan lama-lama seperti berubah dan tidak yakin. Entah karena terlalu lama beliau menunggu entah karena apa. Beliau menyarankan penulis agar penulis mencari yang lebih baik. Setiap bertemu hanya itu pesan beliau.

“Papa khawatir ning. Papa ga mau liat kamu susah. Ya walaupun kamu bilang dia anaknya baik, tapi papa harap kamu dapet yang lebih baik. Coba kamu instropeksi ibadah kamu. Mungkin kamu dapet yang susah gini karena ibadahmu yang ga maksimal” Ujar beliau

Kata-kata itu menohok penulis. Penulis langsung tersadar. Sejak dekat dengan dia. Ibadah penulis cenderung mengalami penurunan. Dulu penulis rutin puasa sunnah senin-kamis, tahajjud dan dhuha. Namun saat itu, untuk bayar puasa wajib pun penulis menunda-nunda, jangankan tahajjud, shubuhpun tidak pernah on time. Ya agak sulit untuk shubuh on-time kalau baru tidur jam 12 atau jam 1 malam karena harus chat-chatan.

Kalau hal seperti ini terus berlanjut, bisa jadi masa depan akan sulit. Bukan hanya sulit lahiriyah tapi juga sulit batiniyah. Tidak ada kekayaan hati yang akan didapat. Padahal kekayaan hati itulah yang paling sulit didapatkan. Bukan karena primbonnya. Tapi memang tujuan yang ingin kita capai berbeda. Sehingga bukan bahu membahu, malah pontang-panting mengejar tujuan masing-masing.

Ditengan kegalauan itu, penulis puasa ayyamul bid 3 hari berturut-turut dan shalat istikharah untuk meminta petunjuk. Lalu.. akhirnya penulis memutuskan untuk mengakhiri hubungan.

Keputusan yang sulit namun tidak pernah penulis sesali. Sedih, namun penulis  jadi belajar tentang keikhlasan.

Alhamdulillah.

Mungkin bukan ini kesempatan penulis untuk membuktikan kepada orang tua penulis. InsyaAllah ini akan jadi sarana perbaikan diri untuk penulis, dan harapannya juga untuk orang tua penulis.

Jangan lah berputus asa dari rahmat Allah. Terus berusaha dan berdoa. Entah kapan usaha dan doa kita akan berbuah, yakin lah Allah maha mendengar dan maha penyayang bagi hamba-hambaNya yang mau bersabar.