Tujuan Hidup Seorang Wanita

Dulu ketika lulus S1, seorang yang saya nilai sangat konservatif terhadap gender bilang gini

“Papa kuliahin kamu bukan supaya kamu setelah itu jadi cewek karir angkuh yang menyalahi kodrat” Ujar papa saya yang emang kalo ngomong cenderung njeplak dan sering menyebabkan perdebatan berkepanjangan.

“Terus?” Saya pun meminta beliau meneruskan.

“Ya kodrat seorang wanita itu ya menikah, ngurus rumah tangga, dan menghasilkan keturunan. Papa nguliahin kamu biar dapet jodoh yang selevel sama kamu”

What theee.. begitukah niatannya. Saya ga menampik sih, bahwa nikah adalah suatu sunah yang katanya akan membuka segala rezeki seseorang, menyempurnakan agama dan seterusnya. Tapi kalo tujuan saya kuliah itu doang.. Kapan saya bisa berpikiran maju. Disitu saya sedikit berargumen kepada papa saya

“Kalo menurut haning sih cewek lebih bagus lagi kalo selain ngurus rumah tangga sambil berkontribusi pada sosial pa”

“Jarang ada yang bisa begitu. Ngurus rumah tangga itu ga gampang”

“Ya jarang bukan berarti ga ada kan?”

“Ada juga pasti keluarganya ga kepegang”

Dan perdebatan pun berlanjut..

Sebenernya niatan saya bekerja sekeras ini bukan tanpa alasan. Di kehidupan saya, saya menemui laki-laki dominan yang meminta istrinya berhenti bekerja. Namun karena merasa istrinya selama ini cuma menumpang, kadang si suami ini semena-mena. Terus terang dari situ saya merasa sangat khawatir kalau itu terjadi pada saya. Dan karena itu saya bertekad ingin menjadi wanita mandiri yang tidak bergantung pada siapapun.

Saat ini saya sedang dalam perlajalanan menjadi wanita mandiri. Lulus S2 di Australia dan menjadi wanita karir. Walaupun bisa dibilang kerjaan saya kurang work life balance. Masuk jam 9 pulang sekitar jam 11-1 malam.

Kadang saya memikirkan kata-kata ayah saya. Mungkin memang sulit ya punya keadaan ideal dimana bisa dapat karir dan urus keluarga sekaligus. Tapi kekhawatiran saya atas cerita yang pernah saya temui membuat saya keep moving dan terus mandiri.

Walaupun begitu, entah kenapa ada yang terpatri dalam benak saya. Bahwa mungkin tidak selayaknya wanita melangkah sejauh ini. Bahwa mungkin saya tidak usah kerja terlalu serius and just let it flow karena nanti sebenarnya mencari nafkah adalah tanggung jawab suami, dan terlalu serius sama kerjaan bisa bikin rumah tangga ga keurus dengan baik.

Gimana pun lingkungan bisa mempengaruhi ternyata. Walaupun awalnya optimis sama prinsip sendiri. Akhirnya goyah juga. Ga cuma dari ayah saya. Di tempat kerja juga berasa. Kesannya cewek di ekspek kerja dibawah cowok. Cowok selalu mendapatkan penawaran lebih baik soal gaji dan peluang karir. Bukan tanpa sebab. Cowok emang terkesan sangat serius dalam bekerja dan berani ambil resiko. Cewek di lain sisi cenderung lebih main aman dan ga berani ngungkapin apa yang ada di pikirannya. “Men rule the work” keliatannya masih berlaku walaupun emansipasi terus digembor-gemborkan.

Sejujurnya saya ada perasaan ga enak ketika orang tua menanyakan “kapan kamu mau nikah? kamu sibuk kerja ga lupa nikah kan?”. Tentu engga kok. Cuma saya ngerasa belum siap. Untuk kerja aja saya kadang masih kelimpungan. Kalo kerja+keluarga. Hmm.. will be very greeaat challenge.

Makanya saya selalu berdoa semoga suami saya kelak adalah suami yang pengertian. Yang berfikiran bahwa rumah tangga bukan cuma kewajiban istri. Bahwa sama seperti laki-laki, wanita juga punya keinginan dan cita-cita yang patut didengar.

Upss jadi galau tengah malem gini. Yaa.. Daripada cuma disimpen di unek-unek nanti stress dan cepet tua. Hehe.

So girls, don’t mind about what they told you to be. Focus on your dream and be who you are 🙂

 

 

 

 

Advertisements

Confession

Memang sudah saatnya aku lelah.. membuat semua menjadi kabur.. Menutup diri.. Pura-pura tersenyum tegar dan berkata “I am okay”

Rasanya hidupku terlalu singkat jika semua kesempatan yang Allah berikan padaku hanya kusimpan sendiri.

Tidak ada kehidupan yang sempurna di dunia ini. Manusia akan selalu merasa kurang, yang mana Allah menciptakannya agar kita tahu bagaimana caranya bersyukur. Karena itu aku ingin mengucapkan Alhamdulillah sebelum aku menulis lebih lanjut untuk bersyukur sebesar-besarnya atas segala yang Tuhan berikan.

Layakya berlian yang semakin berkilau setelah ditempa berkali-kali, aku percaya kualitas seseorang akan semakin baik seiring orang tersebut menerima pembelajaran berharga. Dan aku merasa Tuhan memberikan aku kesempatan lebih dibanding orang lain.

Saat lahir, Allah memberiku tato di tangan kiriku. Karena tato ini dari Allah, tentu saja ini Tato halal, walaupun bukan merek Hena. Layaknya tato yang melekat di lengan preman, tato dari tuhan ini juga membentang panjang sepanjang lengan kiri dan membuat orang yang pertama kali melihatnya terkejut. “what happen with your hand?” “are you alright?” “did you get an accident?”, sering sekali aku mendengar pertanyaan itu. Walaupun sampai sekarang masih terdengar offensive di telingaku, namun aku lebih senang jika orang bertanya. Tandanya mereka sudah tidak sungkan untuk bertanya hal sebenernya juga tidak nyaman mereka tanyakan. Aku pernah bercanda pada salah satu teman baikku di Sydney “Oh this is Tattoo mate”, dan dia pun terkejut seketika “Impossible!”. Aku tertawa dan melanjutkan “LoL yes this is Tattoo, I will tell you the full story later”. Tapi sayangnya karena saking banyaknya tugas, aku belum sempat menjelaskan padanya.

Ya.. Nama tato dari Tuhan ini adalah Port Wine Stain. Sejenis tanda lahir berwarna merah keunguan, mirip bercak anggur. Tidak ada gangguan kesehatan yang ditimbukan tato alami ini padaku. Namun orang yang memiliki ini dibagian wajah bisa mengalami Sturge Weber Syndrome yang dapat cukup mengganggu kesehatan, kesempatan lebih yang diberi Allah untuk mereka yang mengidapnya dan untuk orang lain sebagai kesempatan untuk beribadah menolong sesama.

Terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara, membuatku terjangkit sindrom anak tengah. Apa lagi adikku lahir kurang dari dua tahun setelah aku lahir. Membuat orang tuaku tidak memberikan cukup perhatian pada anaknya yang berbeda dan selalu diliputi tanda tanya sejak kecil mengenai perbedaan yang ada pada dirinya. Orang tuaku tidak pernah membawaku ke dokter untuk memeriksakannya. Bahkan hampir tidak pernah membicarakannya denganku. Entahlah, apa mungkin karena pendidikan mereka yang kurang tinggi sehingga mereka parno akan hal-hal buruk yang mungkin terjadi, atau alasan lainnya, yang jelas aku tidak mendapat cukup support psikologis dari orang tuaku. Namun aku bersyukur ada beberapa orang, ada beberapa hal dalam hidupku yang membuatku belajar bahwa dibalik kekurangan, ada dorongan kuat yang membuatku menjadi pribadi yang lebih tangguh dan lebih bijaksana.

Usiaku hampir menginjak seperempat abad. Akhirnya orang tuaku khawatir padaku. Kekhawatiran yang sudah kutanyakan pada diriku sendiri semenjak aku berusia kurang lebih 12 tahun. Yaitu bagaimana aku bisa menikah. Namun memang pada dasarnya aku yang harus menentukan langkahku sendiri.

Beberapa orang berkata, jika cinta, harusnya tato natural ini tidak jadi masalah. Namun, menurutku tidak adil juga jika aku memaksakan kehendakku. Memaksakan pada siapa yang menjadi suamiku kelak, untuk menerima apa yang kufikir benar padahal menurutnya sangat salah. Membuatnya kecewa seumur hidup mungkin akan lebih menyakitkan untukku daripada sakitnya upaya natural tattoo removal.

Sejujurnya, tato ini sudah menjadi bagian hidupku yang sangat berharga selama 24 tahun aku hidup di dunia ini. Tato ini menjagaku dari kemaksiatan, dan menuntunku ke jalan yang lurus. Tato ini membuatku lebih pandai bersyukur dan selalu tergerak membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Mungkin aku menyukainya dan membutuhkannya.

Aku tahu kau pasti terkejut membaca ini. Karena Mahaning yang kau kenal mungkin terlihat sangat kuat dan ceria. Bukannya aku ingin mengenakan topeng di depan kalian. Aku hanya merasa ada hal lain yang lebih berharga yang perlu kubagikan selain kesedihan. And please, dont feel sorry for me after reading this. I am not 100% OK. But I am still alive and I am learning to make my life and life of everyone I love be better and more meaningful.

Alhamdulillah. I finally can write this in my blog. Do not hesitate to leave comment or contact me if you have any thought regarding this post. I will really appreciate that 🙂

 

 

 

 

24

Malam itu aku berjanji, aku tidak akan terjatuh di lubang yang sama, aku tidak akan berhenti sebelum berhasil, dan aku akan bangkit lagi ketika terjatuh.

Kira-kira setahun yang lalu, di tengah malam ketika fikiran masih juga sibuk.

Saat itu aku berharap, doa yang samar-samar dari jauh itu bisa kuupayakan.

Namun aku tidak sempurna.

Lagi-lagi aku terjatuh, bahkan kadang kedalam lubang yang sangat dalam. Sampai cahaya hanya terlihat seperti bintang, titik putih kecil yang  tidak cukup melubangi kegelapan.

Berat sekali pundak ini. Kaku sekali tubuh ini untuk bergerak. Kecil sekali nyali ini.

Kulihat luka-luka memar bekas perjuangan masa lalu. Masih terlihat jelas bekasnya. Namun sering kulupa.. Seberapa kuat aku telah berjuang keluar dari hutan rimba itu, mengalahkan binatang-binatang buas. Seberapa sering pahlawan tanpa diundang mengukulurkan tangannya ketika aku terjatuh, dan mengobati lukaku.

Kenapa mudah sekali kulupa.

Padahal setiap darah yang menetes dari luka adalah bukti keberanian melawan musuh-musuh besar. Setiap jahitan adalah cinta dari orang-orang yang mengajarkan agar kau juga bisa mencintai.

Aku tahu, sulit sekali untuk merangkak keluar dengan tubuh penuh luka. Tapi bukankah lebih sulit untuk menerima kenyataan bahwa kau telah dikalahkan nyali kecilmu.

Kerinduan Allah

Bulan Ramadhan kali ini adalah bulan Ramadhan yang sangat bermakna untukku. Selain karena ini pengalaman Ramadhan pertama di Australia, banyak sekali pelajaran dan hikmah yang kupetik, baik dari pengalaman yang kudapat, maupun dari orang lain.

Sepertinya Allah sudah sangat rindu padaku. Mungkin panggilan halusNya tidak mampu membuatku tersadar sampai akhirnya Allah mengingatkanku dengan panggilan yang agak keras. Alhamdulillah. Aku bersyukur Allah masih menyayangiku. Menyadarkanku untuk kembali ke jalanNya.

Aku sering mendengar pepatah “Kalau pergi ke toko parfum, bau harum akan ikut melekat di diri kita. Kalau pergi ke kandang ternak, bau kotoran yang akan melekat”. Terdengar sepele, yang karena itu sering kuabaikan. Bagaimanapun kita adalah mahluk sosial. Hubungan sosial sedikit banyak akan mempengaruhi kita. Karena kita bukan manusia pilihan seperti Nabi dan Rosul yang selalu dibimbing langsung oleh Allah maupun melalui Jibril AS.

Sampai pertengahan Ramadhan, aku masih belum terlalu aktif tadaruz untuk khataman. Padahal tahun lalu, aku telah khatam di minggu ketiga Ramadhan, dan melanjutkan membaca minimal satu juz satu hari sampai akhir Ramadhan. Sungguh penurunan yang cukup drastis.

Ramadhan kali ini memang aku harus melewati final exam di kampus. Waktuku cukup banyak terpakai untuk belajar sampai aku hanya mengaji sekitar dua kali dalam seminggu dan tidak sampai satu juz dalam minggu itu. Entah kenapa, saat ujian aku tidak dapat menjawab pertanyaan dengan maksimal, walaupun materinya sudah kukuasai. Entah disebabkan karena kesalahan dalam penempatan jawaban, atau kelupaan menuliskan point penting dalam jawaban. Sedih.

Tapi sepertinya itu belum cukup untuk menyadarkanku sepenuhnya. Diriku sudah sangat bau kotoran karena aku telah berlama-lama di tempat yang tidak baik. Aku merasa ada jarak dengan teman-teman baikku yang berbau harum. Kuperhatikan lisannya yang selalu mengandung kebenaran dan kebaikan. Tidak ada ghibah dan fitnah dalam setiap kata-katanya. Membuatku malu dan menyesal bahwa aku masih sering mengucapkan perkataan yang sia-sia.

Mungkin benar, memang pada saat tidak boleh beribadah, selain karena perubahan hormon, syaitan juga dengan mudahnya membisikkan keburukan pada wanita, yang kadang membuat goyah. Pada saat itu kesal sekeli rasanya, ketika ada orang yang menjelek-jelekkanku di depan orang-orang, seakan mengajak orang lain untuk turut membenciku. Terbayang jelas kebencian di wajah orang-orang yang telah dihasutnya. Bahkan kata-kata mereka pun telah berubah. Dari sebelumnya penuh canda dan menghargai kesibukan masing-masing, menjadi sinis seketika. Membayangkan bagaimana ghibah/fitnah itu berkembang membuat kekesalan memuncak dan ingin rasanya melalukan hal yang serupa. Apalagi, seiring disebarluaskan, ghibah tersebuh makin dibumbui dan dilebih-lebihkan yang membuatnya menjadi fitnah.

Tapi aku bersyukur, sepertinya Allah tidak mengizinkanku untuk melalukan hal yang serupa, dan menghentikanku ketika aku berniat melakukan hal tersebut. Biarlah kusimpan segala aib orang itu. Melalukan hal yang serupa membuatku tidak ada bedanya dengan orang itu. Jika ia masih mau meneruskan perbuatannya, itu bukan urusanku. Menurutku ini sudah case closed. Aku sudah tau permainannya dan cukup jadi pelajaran untukku. Aku ingin fokus untuk berbuat baik pada orang-orang yang baik, yang benar-benar menyayangiku, bukan orang yang hanya mengharapkan sesuatu dan kemudian menelantarkanku ketika sudah tidak butuh.

Allah sudah menyadarkanku tentang betapa pentingnya lingkungan sekitar dalam mempengaruhiku. Cukuplah kejadian itu menjadi pelajaran yang terbaik agar berhati-hati dalam menjaga lisan dan tindakan serta makin mendekatkan diri padaNya.

Disisi lain, aku juga bersyukur, karena aku dipertemukan dengan teman-teman harum yang sangat tabah menghadapi ujian hidup, dan saling menguatkan satu sama lain. Semoga kita selalu didekatkan dengan orang-orang yang disayangi Allah, dan senantiasa menjadi orang yang memelihara ukhuwah Islamiah.

Akhir kata, Ramadhan kali ini membuatku yakin bahwa sekecil apapun yang terjadi di muka bumi ini adalah atas izin Allah. Karena itu, semuanya harus dikembalikan kepada Allah. Jangan sampai kita menjadi orang yang sombong yang tidak sadar bahwa Allah yang maha berkehendak lah yang sudah membuat kita sampai  seperti sekarang. Kita hanya bisa berusaha, tapi yang maha menentukan adalah Allah.

Ayah

Ini cerita tentang ayahku..

Tampangnya yang sangar, jarang senyum, dengan kerutan wajah yang tergambar jelas adalah bukti kerasnya hidup yang beliau alami.

Semenjak kecil beliau adalah orang yang cerdas dan ambisius. Selalu juara kelas dari kelas satu sampai kelas enam SD. Beliau selalu mendapat beasiswa, yang termasuk uang bulanan yang kemudian ia berikan kepada kakek nenekku untuk modal berdagang opak. Setiap hari ayah berjual opak di sekolahnya, tanpa rasa malu. Kadang sepulang sekolah atau dikala libur beliau membantu kakekku berjualan opak dengan sepeda pancalnya yang butut, memutari kabupaten Malang, bahkan kota Malang, berpuluh-puluh kilometer, untuk berdagang opak. Beliau anak kedua, namun anak laki-laki pertama di keluarga yang cenderung pas-pasan, yang membuatnya dididik dengan keras agar dapat mandiri dan dapat diandalkan.

Setelah lulus SD, ayahku langsung direkrut untuk masuk TNI-AL, dan memulai karirnya yang keras dan penuh kedisiplinan. Nenek dulu pernah meminta kepada atasan ayahku agar ayahku bisa berhenti dari pendidikan militernya. Karena nenek tidak tega melihat ayah digebuki habis-habisan saat pendidikan, padahal nenek termasuk orang yang sering menggunakan kekerasan untuk mendidik anaknya, tapi tetap saja kali itu beliau tidak tega. Mungkin levelnya sudah berbeda. Bagaimanapun levelnya, ayahku telah dididik dengan cara yang keras semenjak kecil.

Setelah pensiun, ayah membuka usaha dagang buah-buahan. Bangun pukul 3 pagi untuk shalat tahajud, sholat shubuh di masjid, lalu bergegas pergi berdagang walau hari masih gelap. Jerih payahnya membuahkan hasil, Alhamdulillah.

Kepada anak-anaknya, beliau juga berharap agar kami mau bekerja keras, sama seperti beliau, disiplin dan tidak mudah menyerah. Kadang kami merasa beliau terlalu keras, sampai kami pernah sangat kesal kepadanya. Kadang kata-katanya tidak disaring, perilakunya juga. Tapi apa kami cukup bijaksana jika kami berharap agar orang yang dididik dengan cara sekeras itu bisa bersikap penuh dengan kelemah-lembutan?. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan sering kita tidak bisa memaksakan orang untuk membuang segala kekurangannya. Tapi setidaknya kita bisa membantunya pelan-pelan untuk lebih memahami kekurangannya, dan menutupinya dengan kelebihan yang ia miliki.

Mungkin ayah kurang kasih sayang. Kami kadang merasa bahwa ayah terlalu keras dan dingin. Tapi seburuk apapun beliau dimata kami, beliau pasti ingin mendidik anaknya dengan caranya yang terbaik agar anak-anaknya dapat berpijak dengan kedua kakinya sendiri, terlebih, membantu orang-orang yang membutuhkan.

Bagaimanapun, kami bisa sekuat ini karena didikan beliau yang disiplin itu. Beliau yang selalu ribut- pagi-pagi jika anaknya tidur seusai shalat shubuh. Kadang kami memandang remeh hal tersebut, karena kami tidak tahu rasanya harus membantu menggoreng opak sebelum berangkat sekolah, atau berlari ke lapangan  untuk berbaris. Selama ini kami hidup dengan penuh rezeki yang dicarikan beliau, tidak terbayang sesulit apa mencari penghasilan untuk mendapat sesuap nasi.  Walau beliau selalu menekankan kami untuk tidak terlena dengan apa yang ada, kadang kami tidak sadar, dan membiarkan waktu berjalan begitu saja dengan sia-sia.

Postingan kali ini memang agak melankolis, tetapi aku hanya ingin mengingat, tidak hanya ingatan yang buruk, agar aku dapat mengevaluasi dan menyimpulkan dengan bijak. Akhir kata, yang dapat kusimpulkan adalah bahwa kita tidak hidup sendiri di dunia ini. Ada orang yang harus kita bahagiakan. Ada pesan-pesan hidup yang harus kita indahkan. Jangan mudah menyerah dan putus asa. Banyak orang yang telah memupuk harapannya pada kita.

Pengalaman Seleksi Beasiswa LPDP

Banyaknya refensi online (khususnya blog) yang saya baca mengenai topik ini, dan hal itu membantu saya dalam mempersiapkan diri saya mengikuti seleksi beasiswa ini.

Setelah melewati beberapa proses seleksi, Alhamdulillah, hari Selasa tanggal 10 Maret 2015 saya dinyatakan lolos mendapatkan beasiswa ini. So, tulisan ini saya tulis untuk meramaikan referensi mengenai judul diatas. Semoga dapat membantu.

Karena judulnya ‘pengalaman’, saya akan fokus ke kronologis kejadian yang saya alami, dan semoga ada beberapa tips yang dapat dipetik, hehe.

Pertama kali saya mendengar nama ‘LPDP’ adalah ketika saya bimbingan revisian dengan seorang dosen penguji yang saat itu kabarnya akan melanjutkan studi S3 di Inggris, beliau akrab di sapa ibu Siska. Saya yang memang tertarik lanjut kuliah ke Negeri ratu Elizabeth tersebut langsung semangat menanyakan berbagai hal agar dapat kuliah disana. Beliau langsung menyebut LPDP sebagai lembaga pendanaan pendidikan tinggi. “Kamu ikut aja seleksi beasiswa LPDP. Kuotanya banyak, insyaallah  lolos”. Saat itu, kepercayaan yang dilontarkan dari dosen yang saya kagumi tersebut langsung membuncahkan semangat yang menggebu-gebu, dan praktis membuat saya cari-cari informasi mengenai beasiswa ini, secara offline dan online.

Pertama-tama yang saya lakukan adalah mencari informasi mengenai deadline seleksi, persyaratan seleksi, dan tahapan seleksi. Semua ini dapat diakses secara lengkap di web official lpdp, yang bisa diakses di : lpdp.depkeu.go.id. Biasanya ada empat periode seleksi dalam setahun. Saya mengikuti periode pertama tahun 2015. Tahapannya dimulai dari seleksi dokumen, LGD dan Interview, dan akirnya pengumuman. Dokumen yang perlu saya persiapkan adalah : ijasah, transkip nilai, sertifikat toefl/ielts, dan 3 tiga essay dengan tema yang ditentukan oleh LPDP.

Beberapa sumber mungkin menyebutkan bahwa kita ‘harus’ memiliki LoA (Letter of Acceptance dari univertsitas tujuan) untuk mendaftar beasiswa ini, ada juga yang menyebutkan bahwa LoA tidak wajib namun dapat meningkatkan kemungkinan kita untuk lolos seleksi beasiswa ini. Well, pendapat pertama menurut saya tidak benar, karena dalam pedoman resmi pendaftaran beasiswa dari LPDP, LoA ini tidak tertulis dalam daftar dokumen wajib yang harus di-submit. Pendapat kedua menurut saya debatable, karena saya sendiri saat mendaftar tidak mengupload LoA yang sebenarnya sudah saya miliki, tapi ketika saya di-interview, saya menyerahkannya karena interviewer memang menanyakan dan meminta LoA tersebut (detailnya akan saya jelaskan nanti). Intinya, ga ada kewajiban untuk dapat LoA dulu. Selama kamu memenuhi persyaratan yang sudah dituliskan di buku pedoman dan punya kapabilitas untuk menjadi awardee LPDP, jangan terlalu risau tentang LoA, ikuti buku pedoman yang ada di website LPDP.

Ada tiga essay yang harus dibuat dengan tema yang berbeda-beda. Sukses terbesar dalam hidupku, rencana studi, dan peranku bagi Indonesia. Jangan takut dalam menulis essay tersebut. Jadilah diri sendiri dan tuliskan apa adanya. Jangan mengarang-ngarang atau berbohong karena essay ini biasanya dijadikan bahan interviewer untuk bertanya kepada kita saat seleksi wawancara. Melihat essay karangan teman boleh, tapi jangan jadikan itu sebagai 100% acuan kita, karena percayalah, lebih enak menulis dengan gaya dan bahasa kita sendiri.

Begitu lolos seleksi dokumen, panitia langsung mengirimkan email pada saya, serta mengirim undangan untuk LGD dan interview. Ada yang mendapat jadwal LGD lebih dulu baru interview, ada yang sebaliknya. Ada yang LGD dan interviewnya dalam satu hari, ada yang dapat dalam hari yang berbeda. Saya mendapat jadwal LGD duluan, lalu keesokan harinya baru interview. Begitu mendapat jadwal tersebut, saya yang memilih tes di Bandung segera mengontak teman-teman yang tinggal di sekitar tempat tes. Tes dilakukan di gedung Magister Manajemen UNPAD dan peserta diwajibkan datang pukul 7.30 pagi. Alhamdulillah berkat informasi dari seorang junior, Titi, saya bisa menginap di kos teh Vanda yang hanya berjarak +/- 300 meter dari lokasi (Terimakasih banyak adek dan teteh!).

Berdasarkan tips dari Ica, salah satu Awardee beasiswa LPDP, sebaiknya sewaktu menunggu jadwal kita interview atau LGD, kita mengobrol dengan para peserta untuk mecairkan suasana. Selain itu hal ini tentu saja sangat berguna untuk mengenal orang-orang yang sekelompok dengan kita saat LGD, agar saat LGD, kita sudah luwes berkomunikasi satu sama lain. Berbekal mempraktikan hal itu, Alhamdulillah saya tidak nervous selama LGD berlangsung.

Saat itu kasus yang diangkat dalam LGD di kelompok saya adalah kasus Freeport. Terus terang, saya kurang tahu mengenai berita ini. Karena akhir-akhir itu yang saya tonton di TV adalah kasus eksekusi mati Bandar narkoba, kisruh kebijakan harga BBM yang tidak stabil, dan pengangkatan BG sebagai kapolri. Berusaha tenang, akhirnya saya sadar bahwa artikel yang disuguhkan saat itu sudah memuat informasi yang saya butuhkan. So, jangan panic, baca artikel baik-baik. LGD sendiri kepanjangan dari Leaderless Group Discussion, artinya dalam diskusi ini kita tidak boleh mendominasi, tapi walaupun begitu, kita harus aktif. Saya saat itu mendikte dalam hati agar jangan takut mengemukakan pendapat, serta menghargai pendapat orang lain sebagaimana saya ingin pendapat saya dihargai orang. 40 menit pun berlalu, Alhamdulillah.

Hari berikutnya, saya berangkat jam 8.30 pagi karena saya dapat jadwal wawancara jam 9. Berbekal membaca blog-blog mengenai interview LPDP, saya agak PD dengan wawancara ini. Sama seperti kemarin saat tes LGD, sebelum interview saya aktif mengobrol dengan para peserta untuk mencairkan suasana. Begitu nama saya dipanggil, saya masuk dalam ruangan dan diinterview oleh 3 orang. Sepertinya 2 orang akademisi, dan 1 orang psikolog. Mereka sangat ramah, lebih ramah dari ekspektasi saya yang sudah diberitahu Ica bahwa interviewer LPDP itu ramah. Well, tidak semua sih, tergantung luck juga. Setelah perkenalan singkat, interview pun dimulai. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut

  1. Please tell us about yourself?
  2. Why do you choose this country?
  3. Why do you choose this university and this course?
  4. So you currently help your father business, what kind of business is it? How much is the income? What do you want to do with this business in the next 5 years?. (dilanjut pake bahasa Indonesia). Mau ga punya usaha pertanian sendiri?. Dan seterusnya..
  5. Kamu nulis kalau kamu mau jadi dosen, kenapa?
  6. Kalau kamu harus pilih antara jadi dosen atau entrepreneur kamu pilih yang mana?
  7. Pernah keluar negeri ga?
  8. Persiapannya apa aja?
  9. Apa yang bakal kamu persiapkan untuk kuliah S2 di luar negeri yang bener-bener beda keadaannya sama Indonesia?
  10. Coba ceritain masalah terbesar dalam hidup kamu. (ini soal psikologis banget deh)
  11. Udah punya LoA belum?

Nah, pertanyaan ke-11 ini sebenernya membuat saya bingung. Honestly saya udah punya LoA dari UNSW. Tapi sebenernya waktu itu saya daftar UNSW cuma untuk cadangan, karena saya pengennya ke Inggris. Tapi yaudahlah saya kasih saja sambil saya ceritakan keadaan yang sebenarnya. Setelah itu interviewer bertanya pada saya “LoAnya boleh kita ambil kan?”. “Silahkan pak, saya masih ada softcopynya dari email yang dikirim kampus”.

Diambilnya LoA oleh interviewer itu membuat saya sempat kepedean akan lolos tes beasiswa, soalnya ga lucu kan kalau LoAnya cuma diminta buat bungkus kacang. Tapi sifat sombong itu adalah sifat setan, optimis boleh tapi Allah yang maha berkehendak. Saya tetep memohon pada Allah semoga saya dapat keptusan yang terbaik. Dari pengalaman itu, bisa disimpulkan, mungkin LoA memang bisa menambah poin kemungkinan agar kita lolos seleksi. Tapi ya tidak sepenuhnya menjamin.

Kita semua hanya bisa berusaha, karena itu berusahalah dengan maksimal. Sama maksimalnya dengan berdoa. Jangan lupa juga minta doa sama kedua orang tua dan orang-orang terdekat, semakin banyak yang mendoakan, insyaallah semakin cepat diijabah. Goodluck!

 

Sydney Lesson 01 : Building and Keeping Silaturahmi

Starting from now, i will blogging in English. I understand my English is still really bad, but i will try to deliver my story to you with a language that i will use in the next one and a half year. I hope you understand what i am talking about :).

It is almost two weeks i stay in Sydney. There are good and bad things happened, and i want to make them all as my learning. However, one point that most knock me off is, live far away from my family and my friends make me start to feel how much i need them. In the place that i don’t know about the culture and social life, i try hard to understand my surrounding and place my self in appropriate way without throw my true culture and identity. It is really hard, even i have stayed here two weeks. People speak English really fast with accent that i am not familiar, and also, they seen having difficulties to understand what am i talking, whether it because of my bad grammar or my accent, i don’t know.

However, that language problem doesn’t make me stressful as i have it in my academic activities. I often miss some points of the lecturers and seminars as i can’t hear what lecture say. I just remember, how easy i ace my problem in my Undergraduate when i have friend beside me. Ihdal, Karin, Sarah, Fitri (Alm). I just simply ask help from them.. ‘I don’t understand’, ‘lets study together’. We keep doing that almost until we finished our degree and get satisfied result because of that. As the most ‘Galau’ member of the team, i often confide what inside my head and my heart to them, laugh and cry together sharing our life. I also remember GAMUS and SEARCH Family, which i got several best friend that really opens many opportunities to me, such as to increase my emotional skill in facing problem, teaching me how to master and win national and international debate and paper competition, introduce me to a lot of new place and new experience. I can’t name them one buy one, but  i indebted some part of my life to them. Utari, Btari, Nadia, is my cutest briliant junior that help me so much to find potency in myself, So as Himsa and Feni, whom i learn much to keep positive mind and keep on the ‘true track’,  also my senior, kang ubim, kang azmi, teh marhen, kang bagus.. So many people i have to name it.

I grateful for not really alone here. I have friends from LPDP that really save me from homesick as we often spend our time together, and i have my room mates, Bela whom i spent most of my time in this one week.  Yet still i can’t make friends as easy as in My country because of language barrier.

There is Africa Proverbs I remember “I you want go far, go together. If you want go fast, go Alone”. However for me, go together will help me whether to go far or fast.

So, silaturahmi, which you can say  ‘relationship’ or ‘togetherness’ will help us to face our problems, also to reach something we never imagined if we smart enough to filter it.

I also have ever read a hadist say

“There are two people who their pray will be granted by God. They who walk to do worship, and they who walk for silaturahmi”

So, do not break Silaturahmi 🙂