Reconnect with Qur’an – Ust. Nouman Ali Khan

Gw selalu suka denger ceramahnya Ustad Nouman Ali Khan (NAK) di youtube. Menurut gw ceramah dia bisa diterima oleh semua lapisan, terutama bagi yang baru-baru berhijrah karena beliau selalu menekankan asas-asas toleransi, Terus, pas denger Ust. NAK mau ke Indonesia gw senengnya bukan main. Sampe gw mengorbankan hari terkhir acara outing kantor buat izin ke Istiqlal buat denger ceramahnya secara langsung.

Sampe di Istiqlal gw amazed melihat besarnya antusiasme muslim Indonesia terhadap acara itu. Banyak banget yang dateng, sampe ada bus-bus dengan plat luar kota. Well, suasananya udah mirip banget sama umroh. Sepanjang jalan padet diisi sama orang-orang menuju masjid.

Sampe di dalam masjid, tempat udah penuh. Terutama bagian cewek, yes cewek. I don’t know why shaf cewek udah keisi sampe belakang, sampe -sampe harus naik ke lantai 2 dan 3, sedangkan shaf cowok, baru keisi setengahnya doang. Gw sedikit miris melihatnya. Pada kemana ini para ikhwan?. Yasudahlah. Mungkin sedang meyiapkan kerjaan untuk kerja hari Senin #Khusnudzan.

Karena di tempat cewek penuh, akhirnya gw dan temen gw solat di barisan cowok (Sebelah kanan), dan berharap kita bisa duduk disitu selama ceramah. Tapi begitu kelar solat kita disuruh pindah ketempat cewek, tepatnya keatas (lantai 2 dan 3). Akhirnya kita ke lantai 2. Disitu disediakan karpet merah agak tipis sebagai alas, tapi mostly udah penuh, dan udah ga ada tempat yang keliatan kearah panggung/layar. Gw dan temen gw pun kembali berhijrah buat nyari tempat yang lebih baik. Akhirnya kita ke lantai 3. Lantainya cukup kotor dan ga ada alasnya, cuma memang masih banyak tempat kosong. Gapapa deh akhirnya kita duduk. Eh ternyata pas panitia ngumumin sesuatu (pake bahasa Indonesia) kita cuma denger gemanya doang, ga kedengeran dia ngomong apa. Gimana nanti ustad NAK yang pake bahasa Inggris.  Waktu kuliah di Ausi aja yang suara dosennya kedengeran jelas gw sering missed, apa lagi ini. Akhirnya kita pun berencana pindah lagi. Seketika kita iseng nengok ke lantai satu, eh ternyata di lantai satu bagian cewek ada beberapa tempat yang bisa buat nyempil di bagian depan. Dan dengan ambisiusnya gw dan temen gw mengincar tempat itu.

Ketika sampe di lantai satu, dan bergegas ke tempat itu, tiba-tiba seorang panitia ngehadang kita. Katanya di lantai satu udah ga ada tempat dan kita disuruh naik. Lalu gw langsung drama-drama dikit. “Ada temen kita kok disitu udah ngetag tempat” Ujar gw pura-pura. Terpaksa banget gw harus drama. Soalnya jelas-jelas tadi kita liat dari atas masih ada renggang. Dan yes, gw udah izin acara kantor buat kesini. Kalo gw cuma disuruh denger gemanya doang, what for??. Terus panitianya nanya “Yang mana?”. Terus gw pun melanjutkan drama dengan mengeluarkan handphone. “Bentar aku telpon dulu”. Terus akhirnya temen gw bilang “Ning itu ning” sambil menunjuk sembarang orang yang disebelahnya ada tempat agak renggang. Kami pun permisi ke panitia. Wkwkk.

Dan Alhamdulillah, kami dapet spot enak. Keliatan ke arah panggung, keliatan layar, dan suara speakernya juga kedengeran jelas. Pelajaran mencari tempat duduk ini mengajarkan gw tentang “Keep move on until you find the best that suits you. Be ambitious and don’t give up”. Jangan cuma go with the flow, sometimes you need to not listen other that try to deviate you from your goal. Sama kayak cari kerja, cari jodoh.. Kalo kriterianya (terutama keimann) masih jauh dari yang diharapkan, keep move on. Jangan cuma berharap “ya mungkin lama-lama dia bisa berubah” atau “mungkin lama-lama gw bisa enjoy kerja disini”. Jangan gambling dengan sesuatu yang ga jelas. Kalo itu bertentangan dengan nuranimu. Tinggalkan lah. Kayak yang disampein Ust.NAK di awal ceramahnya “You need to have a great strength to leave a bad friend”. Karena, well, teman akan mempengaruhi lo. Merubah lo, kearah yang baik atau buruk. Jadi pintar-pintar lah dalam memilih teman. Apalagi teman hidup. Uhuk-uhuk..

Oke finally, lets go to Ceramah Ust. NAK. Tema yang dibawakan tahun ini adalah Reconnect with Qur’an. Kenapa temanya itu?. Karena Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan. Dan mengingat bahwa pada bulan ramadhan Allah melipat gandakan nilai ibadah, dengan memperbaiki hubungan kita dengan Al-Quran kita bisa memperbaiki ibadah kita secara keseluruhan di bulan yang penuh berkah ini.

Sesuai dengan temanya ‘Reconnect with Qur’an’, pada ceramah kali ini Ust.NAK menyampaikan pentingnya sebagai muslim kita harus selalu connect dengan Al-Qur’an. Connect disini bukan hanya sekedar membaca dan hatam berulang-ulang. Namun juga memahami dan mengamalkannya.

Al-Qur’an, kata ust.NAK, bukanlah sebuah undang-undang atau rule yang kaku. Al-Qur’an adalah advice dari Allah yang diturunkan karena Allah sayang (Rahman) pada kita, manusia. Kata Rahman sendiri dalam bahasa Arab digunakan untuk mengungkapkan rasa dan perilaku seorang ibu pada anak yang masih di dalam kandungannya. Saat mengandung selama 9 bulan, seorang ibu merasakan sakit. Tidak nyaman beraktifitas, mual, sulit tidur, dan sebagainya. Namun ibu tetap menyayangi buah hatinya. Ibu berusaha memakan makanan yang bergizi agar buah hatinya selalu sehat di dalam perut. Walaupun kadang sebenarnya sang Ibu tidak suka. Sang buah hati tidak mengerti pengorbanan ini. Ia hanya merasa nyaman menerima semua kebaikan sang Ibu. Seperti itulah kasih sayang Allah. Kita tidak menyadari bahwa Allah selalu menyayangi dan menjaga kita.

Sebutan lain dari Al-Qur’an adalah Nur yang artinya cahaya. Al-Qur’an menyinari hati orang yang sedang dalam kegelapan. Didalamnya terdapat solusi dari berbagai permasalahan di dunia. Semakin baik hubungan seseorang dengan Al-Qur’an, semakin baik pula orang itu dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan hidup. Hatinya akan selalu tentram, dan hidupnya akan selalu bahagia.

Lalu bagaimanakah hubungan dengan Al-Qur’an itu dibangun? Apakah artinya orang yang membaca Al-Qur’an dengan tartil dan fasih berbahasa Arab hubungannya akan lebih baik dibandingkan dengan yang tidak begitu mahir berbahasa Arab?.

Tidak Juga

Jarak tersebut bukan diukur dari kriteria diatas. Namun bagaimana sikap kita terhadap Al-Qur-an itu sendiri. Yang pertama, kita harus sadar bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai bentuk kasih sayang Allah seperti yang disebutkan diatas. Allah memang pernah marah didalam Al-Qur’an, namun hanya pada orang yang terlampau batas. Misalnya seperti ketika Allah murka terhadap Fir’aun. Dengan kisah itu, kita bisa mengetahui bahwa kita tidak selayaknya bersikap sombong dan dzalim seperti Fir’aun.

Kita juga harus paham bahwa Al-Qur’an adalah bentuk komunikasi Allah pada kita. Tepatnya, 2 way communication. Pertama Allah berkomunikasi dengan kita dengan Al-Qur’an dan dari Al-Qur’an pula kita mengetahui cara berkomunikasi denganNya, yaitu dengan berdoa. Seperti ketika Allah menceritakan kasus fir’aun, Allah juga mengajarkan kita berdo’a. ‘Ya Allah jangan jadikan aku sebagai orang yang tidak mau menerima kebenaran, seperti Fir’aun menolak kebenaran yang diturunkan melalui Nabi-nabimu’. Jadi semakin baik hubungan kita dengan A;-Qur’an, semakin baik komunikasi kita dengan Allah, semakin Allah akan mengijabah do’a kita. Aamiin.

Inti dari Al-Qur’an adalah mengajarkan kita untuk memiliki hati yang baik. Karena itu, yang bisa menerima Al-Qur’an adalah orang yang berhati baik. Itu lah orang yang memiliki hubungan baik dengan Al-Qur’an. Bukan orang yang merasa dirinya paling benar dan kemudian memandang remeh orang lain  yang mungkin baru belajar membaca Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah tentang yourself, not other people. When Allah speak, He speak to you. Jangan menggunakan Al-Qur’an untuk mencemooh orang lain. Misalnya saat kita memiliki masalah dengan seseorang, lalu tiba-tiba kita memposting ayat mengenai adzab bagi orang munafik atau dzalim atau apapun yang kita anggap cocok dengan dia. Tujuannya mungkin ada sedikit untuk mengingatkan, tapi tujuan lain?. Apapun itu, tentu akan membuat orang yang bersangkutan tersinggung. Tidak ada orang yang senang dikritik secara kasar. Bukannya sadar, orang malah akan lari menjauh. Maka dari itu, berilah contoh yang baik. Perbaiki akidah dan ahlaq dengan Al-Qu’an.

Kita pernah menyaksikan ada orang yang sampai menangis ketika membaca Al-Quran. Itu terjadi ketika seseorang benar-benar merasakan bahwa Allah sedang berbicara dengannya. Ia menyadari segala kesalahannya di masa lampau. Tiba-tiba pada relung hatinya yang gelap ada secercah cahaya yang menuntunnya pada harapan baru. Itu lah saat-saat seseorang benar-benar terhubung dengan Al-Quran.

Saat kita mengalami hal seperti itu, berbagilah pada saudara kita yang lain. Yang mungkin saat ini juga membutuhkan obat bagi hatinya yang sedang sakit. Karena muslim itu bersaudara dan saling menguatkan. Semakin kita mengajak orang lain kepada kebaikan. Semakin istiqomah kita pada hijrah yang kita lakukan.

Insya Allah.

 

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s