Visi

Mungkin ini yang sering dilupakan oleh orang-orang yang sedang dimabuk asmara.

Kalau sedang mabuk-mabuknya, rasanya apa saja jadi bagus, jadi indah.

Waktu itu gw lagi ngobrol sama rekan kerja gw yang seorang Chinese. Dia perempuan. Usianya sudah hampir menginjak kepala tiga. Dan sudah pacaran selama 10 tahun. Gw bertanya, gimana dia bisa bertahan dalam hubungan semacam itu dan selama itu. Dia menjawab

“Ya karena walaupun gw nunggu. Gw yakin penantian gw ga sia-sia. Gw udah bisa ngebayangin masa depan gw sama dia. Gw yakin lah kita punya cita-cita yang sama” Jawabnya. Gw amazed mendengar jawabannya.

Dia pun bertanya balik ke gw yang saat itu masih jaman-jamannya pacaran. “Lo gimana? udah ada bayangan belum masa depan lo kayak gimana sama dia?”.

Gw langsung terdiam sejenak memikirkan jawabannya. Dan ketika gw berfikir, to be honest, gw rasa ada banyak hal yang ga bersinggungan antara cita-cita gw dan dia. Lalu gw menjawab

“Ga terlalu sih”

“Nah itu sih yang mesti lo perjelas” ujarnya.

Lalu gw merenungi kata-kata temen gw itu. Gw jadi inget postingan kawan sewaktu kuliah S1 dulu di blognya https://azaleav.wordpress.com. Bahwa yang terpenting dari sebuah hubungan adalah kedua insan harus memiliki visi yang sama. Karena ketika keluarga tersebut sedang diterpa badai, masih ada visi yang masih harus dicapai bersama.

Lalu sebenernya, apa visi gw?

Simple, but need big effort.

Gw selalu bermimpi untuk bisa menjadi seperti Khadijah RA. Wanita mandiri pekerja keras, pengusaha sukses, yang membelanjakan hartanya di jalan Allah. Meskipun demikian, Khadijah RA tetaplah seorang istri yang berbakti pada suaminya dan ibu teladan yang mendidik anak-anaknya dengan penuh cinta dan kesabaran.

Pastinya ga mudah untuk menjadi seperti beliau. Gw yang saat ini cuma kerja dan belum berumah tangga aja kayak ngerasa capek banget. Tiap hari kerja dari pagi sampe malem. Gw lagi belajar gimana caranya untuk hidup lebih balance. Gimana caranya dengan jadwal kerja yang padat gw masih sempat menyisihkan waktu gw untuk berjuang di jalan Allah. Ga cuma berjuang untuk memenuhi nafkah pribadi.

Sebagai cewek, gw berharap mendapatkan seseorang yang bisa menjadi imam. Yang punya satu tujuan. Yang lebih kuat dan tegas dibanding gw yang kadang-kadang terbawa arus pergaulan yang kurang tepat.

Supaya gw ga hanya menjadi budak dunia yang berlomba-lomba mengumpulkan harta agar dipandang orang. Supaya gw sadar, bahwa pada harta yang dimiliki ada hak-hak Allah yang dititipkan, yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak.

Lalu apakah gw akan menolak orang yang sedang belajar?

No

I really value a person who intend to be a better person. I give a time. I give a help. Yet, I really take a look seriously whether someone want to learn or not.

Kalau ternyata hanya di mulut belaka ya buat apa.

Karena sesuatu yang dari hati akan masuk ke hati. Ketulusan ga akan tertukar dengan kebulusan.

So, semabuk apapun, satu hal yang ga  bisa di negosiasi. Visi.

Rememeber where do you want to go. Jangan sampe mau pergi ke Australi tapi malah naik pesawat jurusan Jerman.

Advertisements

Mengeluarkan (Perasaan) Gigi yang Terpendam

Hari itu hari Sabtu awal bulan Desember

Entah akhir-akhir itu gw mulai menyadari bahwa gw tidak boleh memendam  perasaan gigi impaks terlalu lama.

Ya dulu sebelum gw pake braces saat masih kuliah S1 dari hasil rontgent gw udah tau kalo banyak perasaan gigi terpendam yang ga bisa keluar. Ada 6 gigi totalnya. Dan beberapa gigi posisinya parah banget. Dulu gw inget, selain scan panoramic, dokternya sampe minta gw scan kepala (lupa nama scannya) buat memastikan posisi gigi-gigi tersebut. Scannya saat itu ga available di Pramita. Di Bandung cuma ada di Unpad aja. Tapi saat itu kata dokternya giginya masih kecil (gw baru tau gigi itu ada fase perkembangannya) jadi katanya ga urgent banget. Dan akhirnya didiemin lah itu gigi.

4 Tahun kemudian, gw berencana lanjut pake braces yang sempet gw copot karena kuliah ke Ausi. Dan hasil scan panoramic saat ini menunjukan..

IMG_0467

Ngeri kan. Udah pada gede2 banget. Dan itu dua gigi dibawah.. salah alamat amat.

Saat ini sakit sih engga. Tapi kata dokternya most probably akan sakit kalo udah sampe dorong2an. Ternyata di dunia ini semua serba kompetitif. Gw pikir tanah aja yang direbutin, ternyata space buat gigi juga.

Oke jadi ceritanya hari itu gw memberanikan diri untuk operasi gigi. Sebenernya gw memanfaatkan momen. Kebetulah saat itu gw lagi sakit hati. Jadi ya sekalian lah, kalo mau sakit, sekalian aja lah semuanya.

Gw operasi di tempat praktik dokter gw pasang braces. Yang ngeoperasi temen dia yang spesialis bedah mulut. Sebelumya gw nanya ke dokter gw “Dok, ini bisa langsung di operasi semuanya?”. Kata dokternya “Semangat amat. Engga. Sebelah dulu. Jadi yang sebelah tetep bisa buat makan”. Gw nawar “Gapapa dok, makan gampang lah. Biar sekalian sakitnya”. Dokternya sampe heran ngeliat gw yang keliatan ga takut sakit. “Karena gigi nya banyak, separoh dulu aja ya. Kamu kan kerja juga. Nanti lama recoverynya” Jawabnya. Baiklah. Akhirnya rencananya gigi2 sebelah kiri dulu yang akan dibuang.

Dokter bedah mulutnya kelihatan udah tua dan berpengalaman. Walau kurang ramah tapi kerjanya cepet. Untuk ngeluarin 3 gigi dia cuma butuh sekitar 45 menit.

Karena gw cuma bius lokal dan mata gw ga ditutup gw bisa ngeliat bor, piso, benang jahit masuk ke mulut gw. Dan hampir aja mata gw kemasukan darah kalo ga gw buru2 merem. Sakit sih engga karena udah dibius. Tapi tetep aja horor. Apa lagi pas dokternya narik gigi yang posisinya mendem banget. Khawatir ada perasaan syaraf yang ketarikjuga. Setelah sekitar 45 menit operasi pun selesai. Gw pulang dengan diberi resep obat dan seplastik es batu buat ngompres pipi. Darah masih ngalir-ngalir di dalem mulut. Tapi karena ga boleh ngeludah akhirnya gw telen. Sebelum pulang dokternya pesen ke gw “Besok mungkin pipi kamu bengkak. Nanti dioles salep yang saya kasih dan istirahat yang cukup ya” ujarnya. “Waduh mana besok mau ke nikahan temen lagi”. “Udah istirahat dulu. Lagian kamu kerjaannya undangan ke nikahan temen mulu. Sekali2 kamu yang ngundang dong” kata dokter bercanda. Gw tiba-tiba jadi sedih “Yah dok baru putus ini”. Dokternya langsung kaget “Hah!.. Yaudah semoga cepet ada penggantinya deh”.

I could say, hari pertama post surgery is the most painful day. Gw yang emang agak nekat ini nyoba iseng nyikat gigi gw pelan-pelan. Padahal dokternya bilang selama 3 hari kumur2 dulu pake obat kumur khusus. Ya tapi gw mikir kayaknya kurang bersih aja kalo cuma kumur-kumur. Pas gw mulai nyoba sikat gigi sekitar area operasi, badan gw langsung gemeteran dan mata gw langsung berkunang-kunang. Gw langsung terjatoh, tapi untung gw masih pegangan westafel. Gw langsung mberangkang keluar kamar mandi dan tiduran di kasur yang untungnya posisinya ga jauh dari kamar mandi. Gw ga tau apa karena saking sakitnya atau karena jahitannya kena pasta gigi gw yang rasa mint extra strong ini, tapi badan gw ga bisa berhenti gemeteran sampe hampir semenit. Setelah agak mending gw berusaha bangkit lagi dari kasur dan kumur-kumur pake obat kumur khusus.

Selama 4 hari gw cuma bisa makan bubur aja. Baru setelah itu pelan-pelan bisa makan nasi, walau harus pake gigi sisi sebelah kanan (yang ga dioperasi)

Kalo kata orang “Lebih baik sakit gigi dibanding sakit hati”, gw ga setuju. Dua-duanya painful banget. Dan berkat itu, berat badan gw turun 3 kg dalam 7 hari. Sakit hati menurunkan nafsu makan, sakit gigi menurunkan kemampuan makan. Kombinasi yang sempurna buat orang yang pengen kurus.

Ya ini baru operasi sebagian. Masih ada 4 gigi yang mesti dicabut.

Ya Allah, Perjuangan hidup hamba memang agak  berat. Semoga segala sakit ini menjadi sarana untuk senantiasa mendekatkan diri padaMu dan tidak lupa bersyukur atas karuniaMu yang lain.

 

I know it is painful

But  I need to pass this way

There will be recovery time

And perhaps it takes long time

But I don’t want to regret anymore

At least I try and fight, not become a coward

Because wounds will heal

After that I will start and fight another battle

 

 

 

 

 

Bimbang

Kira-kira 6 tahun yang lalu, aku sakit hati, putus cinta

Saat itu aku sudah berjanji pada diriku, aku tidak ingin pacaran

Meski dulu aku belum terlalu religius

Aku sudah tidak nyaman dengan konsep itu

Aku tidak tahu seberapa Batasan aku boleh menunjukan rasa sayangku padanya

Juga tidak tahu seberapa Batasan aku harus tunduk dan memberikan kebebasanku

6 tahun sudah aku menjaga diri dari hubungan semacam itu

6 tahun aku terus memperbaiki diri agar aku layak mendapat ridho Allah atas pilihan terbaiknya

Namun entah kenapa, aku terjerat semak belukar yang sama

Walaupun kuubah namanya, tetap saja, hubungan tanpa kejelasan itu secara praktik adalah pacaran

Lagi-lagi, aku terjebak

Aku tahu aku sedang melakukan dosa. Setiap saat hati kecilku menjerit memintaku berhenti tapi perasaan sayang yang tumbuh tanpa melalui proses yang benar seakan menulikan nuraniku

Aku sebenarnya tidak meragukan rasa sayangnya. Tidak meragukan keseriusannya. Namun aku tahu kalau aku dan dia belum siap.

Hampir setiap malam aku menangis. Menyesali. Mengapa aku harus melalui proses ini kembali?

Setiap malam aku merenung, berfikir bahwa aku sebenarnya sedang menyerahkan kebebasanku pada hubungan yang semu

Iya, kebebasan.

Mungkin melihatku yang ambisius dan mandiri membuatnya berjanji bahwa dia tidak akan menghalangiku mengejar mimpiku

Tapi disisi lain gelagatnya mengisyaratkan agar aku tidak seleluasa itu

Jika tidak, kenapa dia memintaku agar tidak terlalu dekat dengan orang lain? Menunjukan sifat insecure ketika aku bercakap dengan orang lain?

Tak usah diumbar kata-kata kebebasan itu. Hal seperti itu tidak pernah ada dalam pacaran

Selamanya kedua insan akan selalu was-was. Berusaha memiliki walaupun tidak ada ikatan apapun.

Ayahku cemas.

Walau awalnya kelihatan pasrah dengan keputusan putrinya yang keras ini, lama-lama ia pun khawatir. Desakan kuatpun ia lontarkan padaku agar aku kembali ke jalan yang benar

Aku merasa mungkin aku hanya tinggal menunggu sebentar lagi sampai kita benar-benar siap. Namun penantian itu selalu diiringi dengan rasa takut atas dosa yang terjadi setiap detiknya

Ya, setiap detik

Bukankah pikiran dan perasaan yang berlebihan kepada yang bukan muhrim adalah pintu pertama dari zina?

Karena dengan tegas Allah berfirman bahwa mendekati zina adalah dosa. Karena tidak mudah untuk tidak tersulut api ketika pakaian kita tersiram minyak

Aku menyesal aku mengapa aku kurang tegar dalam pilihanku dulu. Berjanji kemudian kuingkari.

Namun harapanku. Aku berharap aku dan dia dapat berproses menjadi individu yang lebih baik di mata Allah dan di mata manusia lain

Jika jalan yang berduri itu terus kita sisiri, selamanya kita akan berjalan dengan kaki penuh luka, membasahi jalan dengan gelimangan darah

Aku hanya ingin putar arah, ke jalan yang dari dulu sudah kupilih

Dan mendoakannya agar ia juga sadar

 

Walaupun hati ini sakit,

Aku senang,

setidaknya aku sudah kembali.

 

Semoga Allah selalu menuntun hambanya yang beriman menuju jalan yang ia Ridhoi