Tujuan Hidup Seorang Wanita

Dulu ketika lulus S1, seorang yang saya nilai sangat konservatif terhadap gender bilang gini

“Papa kuliahin kamu bukan supaya kamu setelah itu jadi cewek karir angkuh yang menyalahi kodrat” Ujar papa saya yang emang kalo ngomong cenderung njeplak dan sering menyebabkan perdebatan berkepanjangan.

“Terus?” Saya pun meminta beliau meneruskan.

“Ya kodrat seorang wanita itu ya menikah, ngurus rumah tangga, dan menghasilkan keturunan. Papa nguliahin kamu biar dapet jodoh yang selevel sama kamu”

What theee.. begitukah niatannya. Saya ga menampik sih, bahwa nikah adalah suatu sunah yang katanya akan membuka segala rezeki seseorang, menyempurnakan agama dan seterusnya. Tapi kalo tujuan saya kuliah itu doang.. Kapan saya bisa berpikiran maju. Disitu saya sedikit berargumen kepada papa saya

“Kalo menurut haning sih cewek lebih bagus lagi kalo selain ngurus rumah tangga sambil berkontribusi pada sosial pa”

“Jarang ada yang bisa begitu. Ngurus rumah tangga itu ga gampang”

“Ya jarang bukan berarti ga ada kan?”

“Ada juga pasti keluarganya ga kepegang”

Dan perdebatan pun berlanjut..

Sebenernya niatan saya bekerja sekeras ini bukan tanpa alasan. Di kehidupan saya, saya menemui laki-laki dominan yang meminta istrinya berhenti bekerja. Namun karena merasa istrinya selama ini cuma menumpang, kadang si suami ini semena-mena. Terus terang dari situ saya merasa sangat khawatir kalau itu terjadi pada saya. Dan karena itu saya bertekad ingin menjadi wanita mandiri yang tidak bergantung pada siapapun.

Saat ini saya sedang dalam perlajalanan menjadi wanita mandiri. Lulus S2 di Australia dan menjadi wanita karir. Walaupun bisa dibilang kerjaan saya kurang work life balance. Masuk jam 9 pulang sekitar jam 11-1 malam.

Kadang saya memikirkan kata-kata ayah saya. Mungkin memang sulit ya punya keadaan ideal dimana bisa dapat karir dan urus keluarga sekaligus. Tapi kekhawatiran saya atas cerita yang pernah saya temui membuat saya keep moving dan terus mandiri.

Walaupun begitu, entah kenapa ada yang terpatri dalam benak saya. Bahwa mungkin tidak selayaknya wanita melangkah sejauh ini. Bahwa mungkin saya tidak usah kerja terlalu serius and just let it flow karena nanti sebenarnya mencari nafkah adalah tanggung jawab suami, dan terlalu serius sama kerjaan bisa bikin rumah tangga ga keurus dengan baik.

Gimana pun lingkungan bisa mempengaruhi ternyata. Walaupun awalnya optimis sama prinsip sendiri. Akhirnya goyah juga. Ga cuma dari ayah saya. Di tempat kerja juga berasa. Kesannya cewek di ekspek kerja dibawah cowok. Cowok selalu mendapatkan penawaran lebih baik soal gaji dan peluang karir. Bukan tanpa sebab. Cowok emang terkesan sangat serius dalam bekerja dan berani ambil resiko. Cewek di lain sisi cenderung lebih main aman dan ga berani ngungkapin apa yang ada di pikirannya. “Men rule the work” keliatannya masih berlaku walaupun emansipasi terus digembor-gemborkan.

Sejujurnya saya ada perasaan ga enak ketika orang tua menanyakan “kapan kamu mau nikah? kamu sibuk kerja ga lupa nikah kan?”. Tentu engga kok. Cuma saya ngerasa belum siap. Untuk kerja aja saya kadang masih kelimpungan. Kalo kerja+keluarga. Hmm.. will be very greeaat challenge.

Makanya saya selalu berdoa semoga suami saya kelak adalah suami yang pengertian. Yang berfikiran bahwa rumah tangga bukan cuma kewajiban istri. Bahwa sama seperti laki-laki, wanita juga punya keinginan dan cita-cita yang patut didengar.

Upss jadi galau tengah malem gini. Yaa.. Daripada cuma disimpen di unek-unek nanti stress dan cepet tua. Hehe.

So girls, don’t mind about what they told you to be. Focus on your dream and be who you are 🙂

 

 

 

 

Confession

Memang sudah saatnya aku lelah.. membuat semua menjadi kabur.. Menutup diri.. Pura-pura tersenyum tegar dan berkata “I am okay”

Rasanya hidupku terlalu singkat jika semua kesempatan yang Allah berikan padaku hanya kusimpan sendiri.

Tidak ada kehidupan yang sempurna di dunia ini. Manusia akan selalu merasa kurang, yang mana Allah menciptakannya agar kita tahu bagaimana caranya bersyukur. Karena itu aku ingin mengucapkan Alhamdulillah sebelum aku menulis lebih lanjut untuk bersyukur sebesar-besarnya atas segala yang Tuhan berikan.

Layakya berlian yang semakin berkilau setelah ditempa berkali-kali, aku percaya kualitas seseorang akan semakin baik seiring orang tersebut menerima pembelajaran berharga. Dan aku merasa Tuhan memberikan aku kesempatan lebih dibanding orang lain.

Saat lahir, Allah memberiku tato di tangan kiriku. Karena tato ini dari Allah, tentu saja ini Tato halal, walaupun bukan merek Hena. Layaknya tato yang melekat di lengan preman, tato dari tuhan ini juga membentang panjang sepanjang lengan kiri dan membuat orang yang pertama kali melihatnya terkejut. “what happen with your hand?” “are you alright?” “did you get an accident?”, sering sekali aku mendengar pertanyaan itu. Walaupun sampai sekarang masih terdengar offensive di telingaku, namun aku lebih senang jika orang bertanya. Tandanya mereka sudah tidak sungkan untuk bertanya hal sebenernya juga tidak nyaman mereka tanyakan. Aku pernah bercanda pada salah satu teman baikku di Sydney “Oh this is Tattoo mate”, dan dia pun terkejut seketika “Impossible!”. Aku tertawa dan melanjutkan “LoL yes this is Tattoo, I will tell you the full story later”. Tapi sayangnya karena saking banyaknya tugas, aku belum sempat menjelaskan padanya.

Ya.. Nama tato dari Tuhan ini adalah Port Wine Stain. Sejenis tanda lahir berwarna merah keunguan, mirip bercak anggur. Tidak ada gangguan kesehatan yang ditimbukan tato alami ini padaku. Namun orang yang memiliki ini dibagian wajah bisa mengalami Sturge Weber Syndrome yang dapat cukup mengganggu kesehatan, kesempatan lebih yang diberi Allah untuk mereka yang mengidapnya dan untuk orang lain sebagai kesempatan untuk beribadah menolong sesama.

Terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara, membuatku terjangkit sindrom anak tengah. Apa lagi adikku lahir kurang dari dua tahun setelah aku lahir. Membuat orang tuaku tidak memberikan cukup perhatian pada anaknya yang berbeda dan selalu diliputi tanda tanya sejak kecil mengenai perbedaan yang ada pada dirinya. Orang tuaku tidak pernah membawaku ke dokter untuk memeriksakannya. Bahkan hampir tidak pernah membicarakannya denganku. Entahlah, apa mungkin karena pendidikan mereka yang kurang tinggi sehingga mereka parno akan hal-hal buruk yang mungkin terjadi, atau alasan lainnya, yang jelas aku tidak mendapat cukup support psikologis dari orang tuaku. Namun aku bersyukur ada beberapa orang, ada beberapa hal dalam hidupku yang membuatku belajar bahwa dibalik kekurangan, ada dorongan kuat yang membuatku menjadi pribadi yang lebih tangguh dan lebih bijaksana.

Usiaku hampir menginjak seperempat abad. Akhirnya orang tuaku khawatir padaku. Kekhawatiran yang sudah kutanyakan pada diriku sendiri semenjak aku berusia kurang lebih 12 tahun. Yaitu bagaimana aku bisa menikah. Namun memang pada dasarnya aku yang harus menentukan langkahku sendiri.

Beberapa orang berkata, jika cinta, harusnya tato natural ini tidak jadi masalah. Namun, menurutku tidak adil juga jika aku memaksakan kehendakku. Memaksakan pada siapa yang menjadi suamiku kelak, untuk menerima apa yang kufikir benar padahal menurutnya sangat salah. Membuatnya kecewa seumur hidup mungkin akan lebih menyakitkan untukku daripada sakitnya upaya natural tattoo removal.

Sejujurnya, tato ini sudah menjadi bagian hidupku yang sangat berharga selama 24 tahun aku hidup di dunia ini. Tato ini menjagaku dari kemaksiatan, dan menuntunku ke jalan yang lurus. Tato ini membuatku lebih pandai bersyukur dan selalu tergerak membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Mungkin aku menyukainya dan membutuhkannya.

Aku tahu kau pasti terkejut membaca ini. Karena Mahaning yang kau kenal mungkin terlihat sangat kuat dan ceria. Bukannya aku ingin mengenakan topeng di depan kalian. Aku hanya merasa ada hal lain yang lebih berharga yang perlu kubagikan selain kesedihan. And please, dont feel sorry for me after reading this. I am not 100% OK. But I am still alive and I am learning to make my life and life of everyone I love be better and more meaningful.

Alhamdulillah. I finally can write this in my blog. Do not hesitate to leave comment or contact me if you have any thought regarding this post. I will really appreciate that 🙂