24

Malam itu aku berjanji, aku tidak akan terjatuh di lubang yang sama, aku tidak akan berhenti sebelum berhasil, dan aku akan bangkit lagi ketika terjatuh.

Kira-kira setahun yang lalu, di tengah malam ketika fikiran masih juga sibuk.

Saat itu aku berharap, doa yang samar-samar dari jauh itu bisa kuupayakan.

Namun aku tidak sempurna.

Lagi-lagi aku terjatuh, bahkan kadang kedalam lubang yang sangat dalam. Sampai cahaya hanya terlihat seperti bintang, titik putih kecil yang  tidak cukup melubangi kegelapan.

Berat sekali pundak ini. Kaku sekali tubuh ini untuk bergerak. Kecil sekali nyali ini.

Kulihat luka-luka memar bekas perjuangan masa lalu. Masih terlihat jelas bekasnya. Namun sering kulupa.. Seberapa kuat aku telah berjuang keluar dari hutan rimba itu, mengalahkan binatang-binatang buas. Seberapa sering pahlawan tanpa diundang mengukulurkan tangannya ketika aku terjatuh, dan mengobati lukaku.

Kenapa mudah sekali kulupa.

Padahal setiap darah yang menetes dari luka adalah bukti keberanian melawan musuh-musuh besar. Setiap jahitan adalah cinta dari orang-orang yang mengajarkan agar kau juga bisa mencintai.

Aku tahu, sulit sekali untuk merangkak keluar dengan tubuh penuh luka. Tapi bukankah lebih sulit untuk menerima kenyataan bahwa kau telah dikalahkan nyali kecilmu.