Kerinduan Allah

Bulan Ramadhan kali ini adalah bulan Ramadhan yang sangat bermakna untukku. Selain karena ini pengalaman Ramadhan pertama di Australia, banyak sekali pelajaran dan hikmah yang kupetik, baik dari pengalaman yang kudapat, maupun dari orang lain.

Sepertinya Allah sudah sangat rindu padaku. Mungkin panggilan halusNya tidak mampu membuatku tersadar sampai akhirnya Allah mengingatkanku dengan panggilan yang agak keras. Alhamdulillah. Aku bersyukur Allah masih menyayangiku. Menyadarkanku untuk kembali ke jalanNya.

Aku sering mendengar pepatah “Kalau pergi ke toko parfum, bau harum akan ikut melekat di diri kita. Kalau pergi ke kandang ternak, bau kotoran yang akan melekat”. Terdengar sepele, yang karena itu sering kuabaikan. Bagaimanapun kita adalah mahluk sosial. Hubungan sosial sedikit banyak akan mempengaruhi kita. Karena kita bukan manusia pilihan seperti Nabi dan Rosul yang selalu dibimbing langsung oleh Allah maupun melalui Jibril AS.

Sampai pertengahan Ramadhan, aku masih belum terlalu aktif tadaruz untuk khataman. Padahal tahun lalu, aku telah khatam di minggu ketiga Ramadhan, dan melanjutkan membaca minimal satu juz satu hari sampai akhir Ramadhan. Sungguh penurunan yang cukup drastis.

Ramadhan kali ini memang aku harus melewati final exam di kampus. Waktuku cukup banyak terpakai untuk belajar sampai aku hanya mengaji sekitar dua kali dalam seminggu dan tidak sampai satu juz dalam minggu itu. Entah kenapa, saat ujian aku tidak dapat menjawab pertanyaan dengan maksimal, walaupun materinya sudah kukuasai. Entah disebabkan karena kesalahan dalam penempatan jawaban, atau kelupaan menuliskan point penting dalam jawaban. Sedih.

Tapi sepertinya itu belum cukup untuk menyadarkanku sepenuhnya. Diriku sudah sangat bau kotoran karena aku telah berlama-lama di tempat yang tidak baik. Aku merasa ada jarak dengan teman-teman baikku yang berbau harum. Kuperhatikan lisannya yang selalu mengandung kebenaran dan kebaikan. Tidak ada ghibah dan fitnah dalam setiap kata-katanya. Membuatku malu dan menyesal bahwa aku masih sering mengucapkan perkataan yang sia-sia.

Mungkin benar, memang pada saat tidak boleh beribadah, selain karena perubahan hormon, syaitan juga dengan mudahnya membisikkan keburukan pada wanita, yang kadang membuat goyah. Pada saat itu kesal sekeli rasanya, ketika ada orang yang menjelek-jelekkanku di depan orang-orang, seakan mengajak orang lain untuk turut membenciku. Terbayang jelas kebencian di wajah orang-orang yang telah dihasutnya. Bahkan kata-kata mereka pun telah berubah. Dari sebelumnya penuh canda dan menghargai kesibukan masing-masing, menjadi sinis seketika. Membayangkan bagaimana ghibah/fitnah itu berkembang membuat kekesalan memuncak dan ingin rasanya melalukan hal yang serupa. Apalagi, seiring disebarluaskan, ghibah tersebuh makin dibumbui dan dilebih-lebihkan yang membuatnya menjadi fitnah.

Tapi aku bersyukur, sepertinya Allah tidak mengizinkanku untuk melalukan hal yang serupa, dan menghentikanku ketika aku berniat melakukan hal tersebut. Biarlah kusimpan segala aib orang itu. Melalukan hal yang serupa membuatku tidak ada bedanya dengan orang itu. Jika ia masih mau meneruskan perbuatannya, itu bukan urusanku. Menurutku ini sudah case closed. Aku sudah tau permainannya dan cukup jadi pelajaran untukku. Aku ingin fokus untuk berbuat baik pada orang-orang yang baik, yang benar-benar menyayangiku, bukan orang yang hanya mengharapkan sesuatu dan kemudian menelantarkanku ketika sudah tidak butuh.

Allah sudah menyadarkanku tentang betapa pentingnya lingkungan sekitar dalam mempengaruhiku. Cukuplah kejadian itu menjadi pelajaran yang terbaik agar berhati-hati dalam menjaga lisan dan tindakan serta makin mendekatkan diri padaNya.

Disisi lain, aku juga bersyukur, karena aku dipertemukan dengan teman-teman harum yang sangat tabah menghadapi ujian hidup, dan saling menguatkan satu sama lain. Semoga kita selalu didekatkan dengan orang-orang yang disayangi Allah, dan senantiasa menjadi orang yang memelihara ukhuwah Islamiah.

Akhir kata, Ramadhan kali ini membuatku yakin bahwa sekecil apapun yang terjadi di muka bumi ini adalah atas izin Allah. Karena itu, semuanya harus dikembalikan kepada Allah. Jangan sampai kita menjadi orang yang sombong yang tidak sadar bahwa Allah yang maha berkehendak lah yang sudah membuat kita sampai  seperti sekarang. Kita hanya bisa berusaha, tapi yang maha menentukan adalah Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s