Ayah

Ini cerita tentang ayahku..

Tampangnya yang sangar, jarang senyum, dengan kerutan wajah yang tergambar jelas adalah bukti kerasnya hidup yang beliau alami.

Semenjak kecil beliau adalah orang yang cerdas dan ambisius. Selalu juara kelas dari kelas satu sampai kelas enam SD. Beliau selalu mendapat beasiswa, yang termasuk uang bulanan yang kemudian ia berikan kepada kakek nenekku untuk modal berdagang opak. Setiap hari ayah berjual opak di sekolahnya, tanpa rasa malu. Kadang sepulang sekolah atau dikala libur beliau membantu kakekku berjualan opak dengan sepeda pancalnya yang butut, memutari kabupaten Malang, bahkan kota Malang, berpuluh-puluh kilometer, untuk berdagang opak. Beliau anak kedua, namun anak laki-laki pertama di keluarga yang cenderung pas-pasan, yang membuatnya dididik dengan keras agar dapat mandiri dan dapat diandalkan.

Setelah lulus SD, ayahku langsung direkrut untuk masuk TNI-AL, dan memulai karirnya yang keras dan penuh kedisiplinan. Nenek dulu pernah meminta kepada atasan ayahku agar ayahku bisa berhenti dari pendidikan militernya. Karena nenek tidak tega melihat ayah digebuki habis-habisan saat pendidikan, padahal nenek termasuk orang yang sering menggunakan kekerasan untuk mendidik anaknya, tapi tetap saja kali itu beliau tidak tega. Mungkin levelnya sudah berbeda. Bagaimanapun levelnya, ayahku telah dididik dengan cara yang keras semenjak kecil.

Setelah pensiun, ayah membuka usaha dagang buah-buahan. Bangun pukul 3 pagi untuk shalat tahajud, sholat shubuh di masjid, lalu bergegas pergi berdagang walau hari masih gelap. Jerih payahnya membuahkan hasil, Alhamdulillah.

Kepada anak-anaknya, beliau juga berharap agar kami mau bekerja keras, sama seperti beliau, disiplin dan tidak mudah menyerah. Kadang kami merasa beliau terlalu keras, sampai kami pernah sangat kesal kepadanya. Kadang kata-katanya tidak disaring, perilakunya juga. Tapi apa kami cukup bijaksana jika kami berharap agar orang yang dididik dengan cara sekeras itu bisa bersikap penuh dengan kelemah-lembutan?. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan sering kita tidak bisa memaksakan orang untuk membuang segala kekurangannya. Tapi setidaknya kita bisa membantunya pelan-pelan untuk lebih memahami kekurangannya, dan menutupinya dengan kelebihan yang ia miliki.

Mungkin ayah kurang kasih sayang. Kami kadang merasa bahwa ayah terlalu keras dan dingin. Tapi seburuk apapun beliau dimata kami, beliau pasti ingin mendidik anaknya dengan caranya yang terbaik agar anak-anaknya dapat berpijak dengan kedua kakinya sendiri, terlebih, membantu orang-orang yang membutuhkan.

Bagaimanapun, kami bisa sekuat ini karena didikan beliau yang disiplin itu. Beliau yang selalu ribut- pagi-pagi jika anaknya tidur seusai shalat shubuh. Kadang kami memandang remeh hal tersebut, karena kami tidak tahu rasanya harus membantu menggoreng opak sebelum berangkat sekolah, atau berlari ke lapangan  untuk berbaris. Selama ini kami hidup dengan penuh rezeki yang dicarikan beliau, tidak terbayang sesulit apa mencari penghasilan untuk mendapat sesuap nasi.  Walau beliau selalu menekankan kami untuk tidak terlena dengan apa yang ada, kadang kami tidak sadar, dan membiarkan waktu berjalan begitu saja dengan sia-sia.

Postingan kali ini memang agak melankolis, tetapi aku hanya ingin mengingat, tidak hanya ingatan yang buruk, agar aku dapat mengevaluasi dan menyimpulkan dengan bijak. Akhir kata, yang dapat kusimpulkan adalah bahwa kita tidak hidup sendiri di dunia ini. Ada orang yang harus kita bahagiakan. Ada pesan-pesan hidup yang harus kita indahkan. Jangan mudah menyerah dan putus asa. Banyak orang yang telah memupuk harapannya pada kita.