Pengalaman Seleksi Beasiswa LPDP

Banyaknya refensi online (khususnya blog) yang saya baca mengenai topik ini, dan hal itu membantu saya dalam mempersiapkan diri saya mengikuti seleksi beasiswa ini.

Setelah melewati beberapa proses seleksi, Alhamdulillah, hari Selasa tanggal 10 Maret 2015 saya dinyatakan lolos mendapatkan beasiswa ini. So, tulisan ini saya tulis untuk meramaikan referensi mengenai judul diatas. Semoga dapat membantu.

Karena judulnya ‘pengalaman’, saya akan fokus ke kronologis kejadian yang saya alami, dan semoga ada beberapa tips yang dapat dipetik, hehe.

Pertama kali saya mendengar nama ‘LPDP’ adalah ketika saya bimbingan revisian dengan seorang dosen penguji yang saat itu kabarnya akan melanjutkan studi S3 di Inggris, beliau akrab di sapa ibu Siska. Saya yang memang tertarik lanjut kuliah ke Negeri ratu Elizabeth tersebut langsung semangat menanyakan berbagai hal agar dapat kuliah disana. Beliau langsung menyebut LPDP sebagai lembaga pendanaan pendidikan tinggi. “Kamu ikut aja seleksi beasiswa LPDP. Kuotanya banyak, insyaallah  lolos”. Saat itu, kepercayaan yang dilontarkan dari dosen yang saya kagumi tersebut langsung membuncahkan semangat yang menggebu-gebu, dan praktis membuat saya cari-cari informasi mengenai beasiswa ini, secara offline dan online.

Pertama-tama yang saya lakukan adalah mencari informasi mengenai deadline seleksi, persyaratan seleksi, dan tahapan seleksi. Semua ini dapat diakses secara lengkap di web official lpdp, yang bisa diakses di : lpdp.depkeu.go.id. Biasanya ada empat periode seleksi dalam setahun. Saya mengikuti periode pertama tahun 2015. Tahapannya dimulai dari seleksi dokumen, LGD dan Interview, dan akirnya pengumuman. Dokumen yang perlu saya persiapkan adalah : ijasah, transkip nilai, sertifikat toefl/ielts, dan 3 tiga essay dengan tema yang ditentukan oleh LPDP.

Beberapa sumber mungkin menyebutkan bahwa kita ‘harus’ memiliki LoA (Letter of Acceptance dari univertsitas tujuan) untuk mendaftar beasiswa ini, ada juga yang menyebutkan bahwa LoA tidak wajib namun dapat meningkatkan kemungkinan kita untuk lolos seleksi beasiswa ini. Well, pendapat pertama menurut saya tidak benar, karena dalam pedoman resmi pendaftaran beasiswa dari LPDP, LoA ini tidak tertulis dalam daftar dokumen wajib yang harus di-submit. Pendapat kedua menurut saya debatable, karena saya sendiri saat mendaftar tidak mengupload LoA yang sebenarnya sudah saya miliki, tapi ketika saya di-interview, saya menyerahkannya karena interviewer memang menanyakan dan meminta LoA tersebut (detailnya akan saya jelaskan nanti). Intinya, ga ada kewajiban untuk dapat LoA dulu. Selama kamu memenuhi persyaratan yang sudah dituliskan di buku pedoman dan punya kapabilitas untuk menjadi awardee LPDP, jangan terlalu risau tentang LoA, ikuti buku pedoman yang ada di website LPDP.

Ada tiga essay yang harus dibuat dengan tema yang berbeda-beda. Sukses terbesar dalam hidupku, rencana studi, dan peranku bagi Indonesia. Jangan takut dalam menulis essay tersebut. Jadilah diri sendiri dan tuliskan apa adanya. Jangan mengarang-ngarang atau berbohong karena essay ini biasanya dijadikan bahan interviewer untuk bertanya kepada kita saat seleksi wawancara. Melihat essay karangan teman boleh, tapi jangan jadikan itu sebagai 100% acuan kita, karena percayalah, lebih enak menulis dengan gaya dan bahasa kita sendiri.

Begitu lolos seleksi dokumen, panitia langsung mengirimkan email pada saya, serta mengirim undangan untuk LGD dan interview. Ada yang mendapat jadwal LGD lebih dulu baru interview, ada yang sebaliknya. Ada yang LGD dan interviewnya dalam satu hari, ada yang dapat dalam hari yang berbeda. Saya mendapat jadwal LGD duluan, lalu keesokan harinya baru interview. Begitu mendapat jadwal tersebut, saya yang memilih tes di Bandung segera mengontak teman-teman yang tinggal di sekitar tempat tes. Tes dilakukan di gedung Magister Manajemen UNPAD dan peserta diwajibkan datang pukul 7.30 pagi. Alhamdulillah berkat informasi dari seorang junior, Titi, saya bisa menginap di kos teh Vanda yang hanya berjarak +/- 300 meter dari lokasi (Terimakasih banyak adek dan teteh!).

Berdasarkan tips dari Ica, salah satu Awardee beasiswa LPDP, sebaiknya sewaktu menunggu jadwal kita interview atau LGD, kita mengobrol dengan para peserta untuk mecairkan suasana. Selain itu hal ini tentu saja sangat berguna untuk mengenal orang-orang yang sekelompok dengan kita saat LGD, agar saat LGD, kita sudah luwes berkomunikasi satu sama lain. Berbekal mempraktikan hal itu, Alhamdulillah saya tidak nervous selama LGD berlangsung.

Saat itu kasus yang diangkat dalam LGD di kelompok saya adalah kasus Freeport. Terus terang, saya kurang tahu mengenai berita ini. Karena akhir-akhir itu yang saya tonton di TV adalah kasus eksekusi mati Bandar narkoba, kisruh kebijakan harga BBM yang tidak stabil, dan pengangkatan BG sebagai kapolri. Berusaha tenang, akhirnya saya sadar bahwa artikel yang disuguhkan saat itu sudah memuat informasi yang saya butuhkan. So, jangan panic, baca artikel baik-baik. LGD sendiri kepanjangan dari Leaderless Group Discussion, artinya dalam diskusi ini kita tidak boleh mendominasi, tapi walaupun begitu, kita harus aktif. Saya saat itu mendikte dalam hati agar jangan takut mengemukakan pendapat, serta menghargai pendapat orang lain sebagaimana saya ingin pendapat saya dihargai orang. 40 menit pun berlalu, Alhamdulillah.

Hari berikutnya, saya berangkat jam 8.30 pagi karena saya dapat jadwal wawancara jam 9. Berbekal membaca blog-blog mengenai interview LPDP, saya agak PD dengan wawancara ini. Sama seperti kemarin saat tes LGD, sebelum interview saya aktif mengobrol dengan para peserta untuk mencairkan suasana. Begitu nama saya dipanggil, saya masuk dalam ruangan dan diinterview oleh 3 orang. Sepertinya 2 orang akademisi, dan 1 orang psikolog. Mereka sangat ramah, lebih ramah dari ekspektasi saya yang sudah diberitahu Ica bahwa interviewer LPDP itu ramah. Well, tidak semua sih, tergantung luck juga. Setelah perkenalan singkat, interview pun dimulai. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut

  1. Please tell us about yourself?
  2. Why do you choose this country?
  3. Why do you choose this university and this course?
  4. So you currently help your father business, what kind of business is it? How much is the income? What do you want to do with this business in the next 5 years?. (dilanjut pake bahasa Indonesia). Mau ga punya usaha pertanian sendiri?. Dan seterusnya..
  5. Kamu nulis kalau kamu mau jadi dosen, kenapa?
  6. Kalau kamu harus pilih antara jadi dosen atau entrepreneur kamu pilih yang mana?
  7. Pernah keluar negeri ga?
  8. Persiapannya apa aja?
  9. Apa yang bakal kamu persiapkan untuk kuliah S2 di luar negeri yang bener-bener beda keadaannya sama Indonesia?
  10. Coba ceritain masalah terbesar dalam hidup kamu. (ini soal psikologis banget deh)
  11. Udah punya LoA belum?

Nah, pertanyaan ke-11 ini sebenernya membuat saya bingung. Honestly saya udah punya LoA dari UNSW. Tapi sebenernya waktu itu saya daftar UNSW cuma untuk cadangan, karena saya pengennya ke Inggris. Tapi yaudahlah saya kasih saja sambil saya ceritakan keadaan yang sebenarnya. Setelah itu interviewer bertanya pada saya “LoAnya boleh kita ambil kan?”. “Silahkan pak, saya masih ada softcopynya dari email yang dikirim kampus”.

Diambilnya LoA oleh interviewer itu membuat saya sempat kepedean akan lolos tes beasiswa, soalnya ga lucu kan kalau LoAnya cuma diminta buat bungkus kacang. Tapi sifat sombong itu adalah sifat setan, optimis boleh tapi Allah yang maha berkehendak. Saya tetep memohon pada Allah semoga saya dapat keptusan yang terbaik. Dari pengalaman itu, bisa disimpulkan, mungkin LoA memang bisa menambah poin kemungkinan agar kita lolos seleksi. Tapi ya tidak sepenuhnya menjamin.

Kita semua hanya bisa berusaha, karena itu berusahalah dengan maksimal. Sama maksimalnya dengan berdoa. Jangan lupa juga minta doa sama kedua orang tua dan orang-orang terdekat, semakin banyak yang mendoakan, insyaallah semakin cepat diijabah. Goodluck!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s