Magenta

         Saat aku perlahan menengadahkan kepalaku, perasaan itu datang kembali, seiring dengan kemilau matahari yang menghangatkan tubuhku. Tidak dapat dilepas meski sangat sesak, tidak dapat dihindari meski sangat ingin. Saat itu yang hanya satu harapku, yakni agar Tuhan memberi jawaban kepadaku perihal apa yang harus kulakukan.

                Inilah magenta yang menyala-nyala dan berkobar dalam ruang kecil yang selalu terkunci. Seakan tak pernah peduli akan sebuah rantai yang membalut rapat pintu, hanya mencari jalan keluar dari tempat gelap yang tersudut itu. Hanya pilu yang dapat kurasa ketika itu berkontraksi. Menendang dinding batas tanpa ampun seakan akan mendobrak paksa ruang yang tak pernah terbuka

                Tidak ada yang tahu apa yang ada di luar ruangan itu, namun magenta berusaha keluar dan menerima konsekuensi apapun. Tapi tidak dengan diriku yang selalu menerka pemandangan terburuk diluar ruangan. Tidak akan kubuka. Itulah pernyataanku pada magenta yang kelakuannya semakin menjadi-jadi. Tak ada artinya, magenta tetap lah magenta yang beraksi tak terkendali, membangkang, tidak terhentikan sampai aku berjanji akan membuka pintu ini.

Advertisements