Rezekimu tidak akan tertukar – Muhasabah HP Hilang di Sydney

Pada postingan kali ini penulis ingin sedikit share tentang pengalaman penulis di Sydney. Dari pengalaman tersebut penulis banyak sekali dapat pembelajaran. Salah satunya adalah agar selalu ikhlas dan berbaik sangka pada keputusan Allah.

Baiklah, silahkan disimak kisahnya.

Pagi itu langit cerah di Kensington, Sydney. Tugas essay dan laporan masih menumpuk. Tapi karena hari itu tidak ada jadwal kuliah, rasanya sayang jika seharian itu hanya dihabiskan untuk mengerjakan tugas. Penulis yang berprinsi work hard – refreshing hard pun ingin mencari kegiatan untuk menyegarkan pikiran. Kebetulan sekali, seusai mandi dan membereskan kamar tidur, watsapp chat dari salah satu teman di kampus yang mengajak untuk refreshing.

Mba Ika: ‘Ning ga mau jalan kemana gitu?’

Aku pun langsung membalas

Aku: ‘Mau doong. Mba Ika mau kemana?’

Mba Ika: ‘Pengen refreshing gitu ning. Ketemu dulu yuk depan kampus?’

Aku: ‘Ayuk! Sekarang?’

Mba Ika: ‘Boleh kalo kamu udah rapih.

Akhirnya akupun bergegas ke kampus. Jarak dari dorm tempat aku menetap ke kampus sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya 1.7 km, dan fasilitas pedestrian sudah sangat bagus. Hanya saja karena alasan ‘Energy Saving Mode’ malas akhirnya aku memutuskan naik bus dengan tarif sekitar 2.3AUD, wkwkk.

Sesampainya di depan kampus, bertemu mba Ika dan cepika-cepiki, akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Coogee Beach. Saat itu aku membawa tas ransel kuliah, lengkap dengan laptop dan buku catatan. Ya kalau-kalau ternyata tamasya + belajar bareng.

Karena Weekday dan masih pagi, Coogee beach lumayan sepi. Langit biru membentang. Pemandangan laut diselingi pemandangan rerumputan dan pohon pinus hijau asri di sepanjang tepi pantai menjadikan Cooge beach menjadi salah satu destinasi tadabur alam yang sangat indah. Apalagi udara musim semi yang hangat bersahabat. Membuat pantai ini seperti surga mini versi dunia. Namun hati-hati kalau berangkat kesini agak sore. Harus siap-siap dengan pemandangan bule-bule berbikini. Jadi harus sering-sering beristighfar!.

Aku dan mba Ika yang belum sarapan akhirnya membeli Fish and Chips yang ada di sekitaran Coogee Beach. Aku membeli Salmon, Mba Ika membeli Ikan dori dengan bumbu yang pada umumnya digunakan untuk Fish & Chips di Australia. Salt and Pepper!. Kalo kata ibuku setiap makan masakan Ausi ‘Iki ora iso masak blas!”. Tapi ya lidah kami sudah terbiasa dengan bumbu alakadarnya begitu. Seusai sarapan (yang proper dan menguras kantong), kami menyisiri Bondi Beach sembari menceritakan pengalaman yang terjadi akhir-akhir itu. Berada ditempat perantauan, jauh dari keluarga dan hidup bersama orang-orang dengan budaya yang asing, membuatku sering merasa homesick, sehingga bertemu dan bercengkerama dengan teman dari satu tanah air membuatku merasa feels like a home.  Kami terus berjalan hingga memanjat tangga pada tebing Coogee Beach dan melewati taman yang terdapat diatas pantai.

Saat kami singgah di taman, waktu sudah menunjukan adzan dzuhur. Karena di Coogee tidak ada masjid atau musholla, akhirnya kami shalat diatas rerumputan yang ada di taman. Memang tidak mudah untuk melakukan sholat 5 waktu secara konsisten di Negara non-muslim. Terkadang ada beberapa kawan ketika aku mengajak untuk shalat di saat-saat sulit seperti ini enggan. ‘Ribet ah, nanti aja’. Namun ternyata sudah terlewat tiga waktu shalat sehingga tidak dapat dijamak. Karena itu, mencari teman yang memiliki semangat beribadah yang sama sangatlah penting. Bukan berarti menutup pergaulan. Namun, kita harus memiliki teman yang saling menguatkan untuk senantiasa menjaga kewajiban. Beberapa orang lalu lalang. Meskipun kami sudah mencari tempat yang agak terpencil tetap saja karena itu area umum, orang-orang masih melintasi area yang kami jadikan tempat shalat.

Seusai shalat, Mba Ika ingin membeli sepatu di Westfield East Garden. Akhirnya, kamipun ke Mall tersebut menggunakan bus. Di dalam bus itu aku bercerita pada mba Ika tentang keponakanku yang sedang lucu-lucunya sembari menunjukan foto mereka yang ada di hapeku. Mba Ika pun kemudian menceritakan anaknya. Rasanya dunia anak kecil memang selalu menarik diperbincangkan, seperti membahas karakter mereka yang beraneka ragam dan cara didik yang tepat untuk setiap anak.

Sesampainya di tujuan, kami turun dan berjalan ke arah toko sepatu. Cukup lama kami mencoba berbagai macam sepatu, pindah dari satu toko ke toko lain. Sampai akhirnya, aku ingat bahwa aku harus mengabarkan temanku perihal kerja kelompok esok hari. Kurogoh saku jaketku. Tidak ada apapun. Kurogoh saku celana. Kosong. Lalu sembari panik aku membuka tas, mengeluarkan semua yang ada di dalamnya. Sampai mba Ika heran.

Mba Ika: “Kenapa ning?”

Aku: “Kayaknya hapeku ketinggalan mba” Jawabku panik

Mba Ika: “Waduh. Kok bisa? Dimana?”

Aku: “Hmm aku yakin di bis mba. Tadi terakhir aku nunjukin foto ponakanku di bis ke Mba Ika. Kemungkinan pas aku mau masukin ke jaket, merusut, malah jatoh”

Mba Ika: Mungkin ga jatoh setelah turun di bis?

Aku : Kecil banget kemungkinannya soalnya kantong jaketku lumayan dalem. Ga akan jatoh kalo ga diapa-apain. Aduh mana aku belum ngaktifin Find My Iphone lagi. Hmm.. boleh miscall-in hapeku ga mba?

Mba Ika: Kan batre hapeku habis ning dari tadi

Aku: Oh iya. Waduuh. Mesti minta tolong orang.

Tapi karena tidak enak minta tolong orang tidak dikenal di Mall itu, akhirnya aku memutuskan untuk ke kantor polisi. Sekalian melapor, siapa tahu bisa minta tolong miscall. Kamipun ke kantor polisi yang ada di Maroubra. Setelah mengisi formulir yang berisikan kolom identitas dan isu, aku mendatangi meja registrasi

“How can I help you?” Tanya polisi laki-laki berparas Asia yang masih belum terlalu tua berbaju polisi

“I would like to make report that I lost my phone” Jawabku dengan Nada agak panik

“Oh I am sorry to hear that.. I will help you to make a report so if someone find it, we can give it to you. So tell me how is that happened?”

“Sure..” Lalu kuceritakan kronologisnya.

“Alright, so you lost it in the bus from Coogee to East Garden. It will be really great if you still remember the plat number of the bus. But that is fine. Hopefully someone who find it will keep it and give it back to you”

“I hope so”

Akhirnya, laporanpun jadi. Polisi tersebut memberiku semacam tiket untuk ditukarkan kalau-kalau ada yang menemukan handphoneku. Lalu aku bertanya pada polisi tersebut

“Actually I hope I can call my phone. But unluckily my friend’s phone battery is run out” Ujarku dengan wajah memelas

“Oh, we can help you to call it, please bear a moment” Jawabnya ramah, kemudian dia menelfon berbekal dengan nomer handphone yang ku tulis di formulir dengan telefon yang ada diatas mejanya. Setelah 2X ia mencoba menelfon ia pun berkata dengan wajah kecewa

“It is still contactable, but there is no answer. I think no one find it yet” Ujarnya

“Oh okay” Jawabku lemas

“I am really sorry. This is all I can do to help you. I really wish you will get your phone back soon” Polisi tersebut menenangkan

“No worries at all! Thanks a lot for your help!” Jawabku sembari teresenyum, berusaha untuk tegar.

Aku dan Mba Ika pun pulang. Aku berfikir kemana kami harus pergi. Rasanya aku belum puas mencoba untuk menghubungi handphoneku. Akhirnya kuputuskan untuk meminta bantuan orang lain untuk menelfonnya. Lalu akhirnya orang yang pertama kudatangi adalah Oya, salah satu teman LPDP ku yang tempat tinggalnya tidak jauh dari dormku. Tadinya mau minta tolong ke Joanne, teman sebelah kamarku yang berasal dari Hongkong. Namun mengingat Joanne biasanya baru kembali ke kos petang atau malam, lebih baik ke tempat Oya dulu.

Akhirnya kami tiba di apartemen Oya.

Di depan gedung apartemen Oya, kami menekan nomor kamar Oya dari bel tamu. Dari speaker terdengar suara laki-laki menanyakan identitas kami.

“Siapa?” Tanyanya

“Haning. Temennya Oya”. Lalu diapun segera membukakan pintu gedung.

Setelah sampai ke kamar Oya, kami langsung masuk karena pintu tidak terkunci. Disana ada laki-laki tidak yang tidak kami kenal sedang menatapi laptopnya. Dia tidak menyapa atau menegur kami. Dengan segera aku bertanya

“Oyanya ada?” Tanyaku

“Ga ada. Oyanya ke kampus” Jawabnya singkat dan agak dingin.

Aku pun bertanya lebih lanjut, tak peduli responnya akan seperti apa

“Boleh minta tolong bilangin oya ga kalo ada temennya di apartemen?” pintaku

Dia segera menatap dengan bingung agak kesal.

“Kenapa ga tanya sendiri?” Tanyanya ketus

“Nah itu dia. Aku baru kehilangan handphone. Aku mau minta tolong Oya buat miscall hapeku. Soalnya hape temenku juga habis batrenya” Jawabku sembari menunjuk Mba Ika.

Dia pun terdiam sejenak dan kemudian menelfon Oya dengan di loudspeaker melalui handphonenya.

“Oya ini ada temennya di apartemen” katanya seketika Oya menjawab panggilan

“Siapa?” Tanya Oya

“Halo Oy ini Haning..” Aku langsung menyahut. Akupun menjelaskan apa yang terjadi secara singkat dan meminta bantuan Oya untuk menelfon handphoneku.

“Oke ini langsung ku telfonin ya” Jawab Oya. Kemudian ia mematikan panggilan.

Kami pun terdiam dengan suasana sangat garing bersama laki-laki tidak dikenal yang tidak bersahabat menunggu kabar dari Oya. Sekitar 3 menit kemudian Oya menelfon. Kemudian laki-laki tersebut mengangkat dan me-loudspeaker.

“Haning. Hapenya nyambung tapi ga ada yang angkat” Ujar Oya

“Yaah.. apa belum ada yang nemuin kali ya” Ujarku

“Iya mungkin. Nanti aku telfon lagi deh ning”

“Oke Oy. Makasih banyak ya!”

Setelah itu aku dan Mba Ika pun berjalan ke dormku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari apartemen Oya. Ya munkin hanya 700 meter. Sesampainya di dorm. Aku langsung ke kamar menaruh barang kemudian mengetuk pintu kamar Joanne. Ternyata Joanne ada di kamarnya. Akupun langsung memintanya menelfon handphoneku. Namun hasilnya sama, tidak ada jawaban. Aku kembali ke kamarku dengan lemas. Mba Ika kelihatan ikut bersedih.

“Udah ning. Kalo rezeki ga kemana” Ujarnya menenangkan

“Iya ya mba” Jawabku lesu

Aku tidak bisa membayangkan jika hp ku tak kembali. Bukan hanya nominalnya, namun isi  didalamnya. Contact, foto, akun bank. Semua belum di backup. Dan jika ada orang yang jahil bisa-bisa akun bank ku dibobol.

“Mungkin ada yang salah dari aku mba. Teguran dari Allah ini. Allah ngambil salah satu benda terpenting yang aku punya. Mungkin aku kurang amal. Atau mungkin aku ada dosa yang aku lakuin dan Allah pengen negur aku” Ujarku sembari merenung

“Sabar ning. Berdoa terus aja”

“Iya mba aku mau shalat taubat dulu aja mba, minta ampunan” Ujarku. Akupun wudhu dan shalat taubat 2 rakaat. Semoga jika Allah mau menegurku, aku selalu bisa menghadapinya dengan ikhlas. Dan jika memang Allah masih mengizinkan hp itu menjadi milikku, semoga handphone tersebut lekas kembali.

Jam sudah menunjukan sekitar 3.30 sore. Aku masih merenung meratapi nasib handphoneku yang sampai saat itu belum ada kabar. Aku juga merasa bersalah karena mba Ika tidak jadi membeli sepatu karena sibuk menemaniku mencari handphone. Sembari terus beristighfar dalam hati aku membuka laptop. Aku berusaha mencari tahu bagaimana cara penanganan I-phone hilang, seperti mendelete data-data merestore data-data di hape baru kelak. Dan ternyata ada caranya. Alhamdulillah. Minimal hilangnya hape tersebut tidak mendatangkan masalah yang lebih besar.

Sebenarnya setelah shalat taubat aku sudah setengah mengikhlaskan handphoneku tersebut. Memang berat. Namun menyesali apa yang sudah terjadi malah akan memeperparah masalah. Setelah membuat catatan untuk proses penanganan i-phone yang hilang tersebut, aku iseng membuka facebook. Ternyata ada inbox dari Oya.

‘Haning’ Tulisnya.

Akupun segera membalasnya

Aku: ‘Iya oy?’

Oya: ‘Barusan aku dapet telfon. Hape kamu ditemuin orang di bus’

Seketika mataku langsung terbelalak. Mulutku tanpa sadar terbuka lebar. Mba Ika pun heran

“Kenapa ning?” Tanya Mba Ika

“Ada chat dari Oya, katanya hapeku ketemu!”

“Wah!! Alhamdulillah!!” Mba Ika ikut senang.

Lalu aku melajutkan chat ke Oya

Aku: ‘Wah! Alhamdulillah! Siapa yang nemuin oy??’

Oya: ‘Sekarang hapenya ada di supir bis. Tadi dia bilang ada penumpang nemu handphone. Terus dikasihin ke dia. Tapi karena dia lagi nyetir dia ga bisa angkat telp. Baru bisa telp sekarang pas lagi break’

Aku: ‘Alhamdulillaaaah!’ Ujarku senang bukan main. ‘Terus aku ngambilnya gimana oy?’tanyaku

Oya: ‘Dia bilang, dia bakal ngelewatin Kensington pake Bus 392. Sekitar jam 4.15 sampe jam 4.30. Kamu tunggu aja di halte bus yang di Duke street. Nanti aku bilangin‘

Aku: ‘Waah oke deh! Aku kesana abis shalat Ashar’

Oya: ‘Siip. Semoga bisa ketemu ya’

Dadaku berdegup kencang. Aku benar-benar senang dan bersyukur Allah masih mengizinkan handphone tersebut menjadi rezekiku. Sudah lama aku tidak merasakan senang sampai seperti ini. Setelah Shalat Ashar aku dan Mba Ika berjalan kearah Halte Duke Street, Kensington. Sembari terus bertahmid aku menunggu bis tersebut. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Setelah menunggu sekitar 15 menit, bus 392 lewat. Kutatap wajah supirnya. Ternyata itu memang supir dari bis yang kami naiki dari Coogee Beach. Akupun langsung masuk dengan sumringah.

“Hi, I am Haning, the one who lost my iphone. My friend told me that someone found and gave it to you?” Tanyaku to the point

“Oh? yes!. I am sorry. I was driving the bus so I couldn’t pick up the phone directly when your friend was calling” Jawabnya ramah

“It is ok. Thanks for calling my friend back”

“No worries. This is the phone.. and.. If you are the owner, you know the password of this phone right?” Tanyanya sembari mengeluarkan handphoneku dari sakunya dan menekan tombol Home sehingga layar handphoku menyala, meminta password untuk membukanya

“Sure! The password is my fingerprint” Ujarku sembari meletakkan jempolku di tombol Home. Dan lock screen pun terbuka.

“Ah great! So that is yours. Next time please be more careful of your belonging!” Ia menasehatiku dengan ramah

“Thanks. I will!. Have a good day, Sir!” Jawabku senyum.

Hari itu benar-benar salah satu hari dramatis yang pernah kulalui. Pada hari itu Allah mengujiku dengan perasaan sedih dan depresi. Tapi pada hari itu juga Allah membalik hatiku. Ia membuatku sangat bahagia ketika aku berhasil mendapatkan handphoneku kembali. Aku pun merenungi kejadian itu. Banyak sekali yang dapat kujadikan pelajaran. Pelajaran pertama, jika Allah sudah menentukan bahwa sesuatu adalah rezeki kita maka tidak akan kemana. Jadi tidak usah khawatir. Seperti yang termuat dalam QS. Al Isra’: 30

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.

Kedua, untuk mendapatkan rezeki tersebut, kita harus berdoa dan berikhtiar. Kita tidak tahu ikhtiar dan doa mana yang akan Allah ijabah, namun kewajiban kita adalah tidak berhenti memohon. Jika aku hanya kembali ke dorm tanpa berusaha untuk minta tolong Oya untuk miscall, mungkin ceritanya akan berbeda. Hal ini yang tertulis dalam surat An-Najm

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ . وَأَنَّ سَعْيَهُۥ سَوْفَ يُرَىٰ . ثُمَّ يُجْزَىٰهُ ٱلْجَزَآءَ ٱلْأَوْفَىٰ . وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلْمُنتَهَىٰ

Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya (39). Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya) (40). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna(41). Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu) (42)

Kenapa harus berdoa juga?. Karena usaha tanpa doa adalah sombong. Dan Doa tanpa usaha adalah malas.

Karena itu, jangan pernah lelah meminta pada Allah dan berikhtiar. Jika sesuatu itu baik maka Allah tidak mungkin tidak memberikannya untuk kita. Jika Allah tidak memberikan saat ini mungkin Allah punya pengganti yang lebih baik atau Allah masih ingin kita berdoa dan berikhtiar. Intinya, yang ketiga, pastikah bahwa niat kita selalu baik dalam berbuat apapun. Maksudnya baik adalah dengan meniatkan segala sesuatu untuk Allah. Mencari pekerjaan, mencari teman atau mencari jodoh. Karena jika tujuannya hanya duniawi semata, seperti ingin bekerja supaya jadi orang terkaya di dunia,  ketika target tersebut tidak tercapai, hancur sudah hidup kita. Tiba-tiba hilang arah, entah harus melangkah kemana. Jika tujuannya Allah insyaAllah kita akan selalu ikhlas menerima keputusanNya dan hidup akan menjadi lebih berkah. Jika memang yang kita perjuangkan tidak baik, tinggalkanlah. InsyaAllah Allah akan memberi ganti yang lebih baik. Karena Allah berjanji:

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih)

Dan yang terakhir, teruslah berbaik sangka pada keputusan Allah. Saat handphone penulis hilang, kemungkinan untuk su’udzon kepada Allah sangatlah besar. Karena kadang kita tidak tahu bahwa Allah sedang menguji kita. Kita sering berfikir bahwa kekayaan, kecantikan, dan kesehatan adalah sebuah bukti bahwa Allah sayang pada mahluknya, dan kemiskinan, kejelekan, dan sakit berarti Allah tidak sayang. Padahal tidak seperti itu. Keduanya adalah ujian. Yang dinilai Allah adalah bagaimana cara kita menyikapinya. Masihkah kita mengingat hak Allah yang ada pada kita saat kita diatas, dan masihkah kita bersyukur saat kita dibawah.

Wassalam

 

Advertisements

Reconnect with Qur’an – Ust. Nouman Ali Khan

Gw selalu suka denger ceramahnya Ustad Nouman Ali Khan (NAK) di youtube. Menurut gw ceramah dia bisa diterima oleh semua lapisan, terutama bagi yang baru-baru berhijrah karena beliau selalu menekankan asas-asas toleransi, Terus, pas denger Ust. NAK mau ke Indonesia gw senengnya bukan main. Sampe gw mengorbankan hari terkhir acara outing kantor buat izin ke Istiqlal buat denger ceramahnya secara langsung.

Sampe di Istiqlal gw amazed melihat besarnya antusiasme muslim Indonesia terhadap acara itu. Banyak banget yang dateng, sampe ada bus-bus dengan plat luar kota. Well, suasananya udah mirip banget sama umroh. Sepanjang jalan padet diisi sama orang-orang menuju masjid.

Sampe di dalam masjid, tempat udah penuh. Terutama bagian cewek, yes cewek. I don’t know why shaf cewek udah keisi sampe belakang, sampe -sampe harus naik ke lantai 2 dan 3, sedangkan shaf cowok, baru keisi setengahnya doang. Gw sedikit miris melihatnya. Pada kemana ini para ikhwan?. Yasudahlah. Mungkin sedang meyiapkan kerjaan untuk kerja hari Senin #Khusnudzan.

Karena di tempat cewek penuh, akhirnya gw dan temen gw solat di barisan cowok (Sebelah kanan), dan berharap kita bisa duduk disitu selama ceramah. Tapi begitu kelar solat kita disuruh pindah ketempat cewek, tepatnya keatas (lantai 2 dan 3). Akhirnya kita ke lantai 2. Disitu disediakan karpet merah agak tipis sebagai alas, tapi mostly udah penuh, dan udah ga ada tempat yang keliatan kearah panggung/layar. Gw dan temen gw pun kembali berhijrah buat nyari tempat yang lebih baik. Akhirnya kita ke lantai 3. Lantainya cukup kotor dan ga ada alasnya, cuma memang masih banyak tempat kosong. Gapapa deh akhirnya kita duduk. Eh ternyata pas panitia ngumumin sesuatu (pake bahasa Indonesia) kita cuma denger gemanya doang, ga kedengeran dia ngomong apa. Gimana nanti ustad NAK yang pake bahasa Inggris.  Waktu kuliah di Ausi aja yang suara dosennya kedengeran jelas gw sering missed, apa lagi ini. Akhirnya kita pun berencana pindah lagi. Seketika kita iseng nengok ke lantai satu, eh ternyata di lantai satu bagian cewek ada beberapa tempat yang bisa buat nyempil di bagian depan. Dan dengan ambisiusnya gw dan temen gw mengincar tempat itu.

Ketika sampe di lantai satu, dan bergegas ke tempat itu, tiba-tiba seorang panitia ngehadang kita. Katanya di lantai satu udah ga ada tempat dan kita disuruh naik. Lalu gw langsung drama-drama dikit. “Ada temen kita kok disitu udah ngetag tempat” Ujar gw pura-pura. Terpaksa banget gw harus drama. Soalnya jelas-jelas tadi kita liat dari atas masih ada renggang. Dan yes, gw udah izin acara kantor buat kesini. Kalo gw cuma disuruh denger gemanya doang, what for??. Terus panitianya nanya “Yang mana?”. Terus gw pun melanjutkan drama dengan mengeluarkan handphone. “Bentar aku telpon dulu”. Terus akhirnya temen gw bilang “Ning itu ning” sambil menunjuk sembarang orang yang disebelahnya ada tempat agak renggang. Kami pun permisi ke panitia. Wkwkk.

Dan Alhamdulillah, kami dapet spot enak. Keliatan ke arah panggung, keliatan layar, dan suara speakernya juga kedengeran jelas. Pelajaran mencari tempat duduk ini mengajarkan gw tentang “Keep move on until you find the best that suits you. Be ambitious and don’t give up”. Jangan cuma go with the flow, sometimes you need to not listen other that try to deviate you from your goal. Sama kayak cari kerja, cari jodoh.. Kalo kriterianya (terutama keimann) masih jauh dari yang diharapkan, keep move on. Jangan cuma berharap “ya mungkin lama-lama dia bisa berubah” atau “mungkin lama-lama gw bisa enjoy kerja disini”. Jangan gambling dengan sesuatu yang ga jelas. Kalo itu bertentangan dengan nuranimu. Tinggalkan lah. Kayak yang disampein Ust.NAK di awal ceramahnya “You need to have a great strength to leave a bad friend”. Karena, well, teman akan mempengaruhi lo. Merubah lo, kearah yang baik atau buruk. Jadi pintar-pintar lah dalam memilih teman. Apalagi teman hidup. Uhuk-uhuk..

Oke finally, lets go to Ceramah Ust. NAK. Tema yang dibawakan tahun ini adalah Reconnect with Qur’an. Kenapa temanya itu?. Karena Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan. Dan mengingat bahwa pada bulan ramadhan Allah melipat gandakan nilai ibadah, dengan memperbaiki hubungan kita dengan Al-Quran kita bisa memperbaiki ibadah kita secara keseluruhan di bulan yang penuh berkah ini.

Sesuai dengan temanya ‘Reconnect with Qur’an’, pada ceramah kali ini Ust.NAK menyampaikan pentingnya sebagai muslim kita harus selalu connect dengan Al-Qur’an. Connect disini bukan hanya sekedar membaca dan hatam berulang-ulang. Namun juga memahami dan mengamalkannya.

Al-Qur’an, kata ust.NAK, bukanlah sebuah undang-undang atau rule yang kaku. Al-Qur’an adalah advice dari Allah yang diturunkan karena Allah sayang (Rahman) pada kita, manusia. Kata Rahman sendiri dalam bahasa Arab digunakan untuk mengungkapkan rasa dan perilaku seorang ibu pada anak yang masih di dalam kandungannya. Saat mengandung selama 9 bulan, seorang ibu merasakan sakit. Tidak nyaman beraktifitas, mual, sulit tidur, dan sebagainya. Namun ibu tetap menyayangi buah hatinya. Ibu berusaha memakan makanan yang bergizi agar buah hatinya selalu sehat di dalam perut. Walaupun kadang sebenarnya sang Ibu tidak suka. Sang buah hati tidak mengerti pengorbanan ini. Ia hanya merasa nyaman menerima semua kebaikan sang Ibu. Seperti itulah kasih sayang Allah. Kita tidak menyadari bahwa Allah selalu menyayangi dan menjaga kita.

Sebutan lain dari Al-Qur’an adalah Nur yang artinya cahaya. Al-Qur’an menyinari hati orang yang sedang dalam kegelapan. Didalamnya terdapat solusi dari berbagai permasalahan di dunia. Semakin baik hubungan seseorang dengan Al-Qur’an, semakin baik pula orang itu dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan hidup. Hatinya akan selalu tentram, dan hidupnya akan selalu bahagia.

Lalu bagaimanakah hubungan dengan Al-Qur’an itu dibangun? Apakah artinya orang yang membaca Al-Qur’an dengan tartil dan fasih berbahasa Arab hubungannya akan lebih baik dibandingkan dengan yang tidak begitu mahir berbahasa Arab?.

Tidak Juga

Jarak tersebut bukan diukur dari kriteria diatas. Namun bagaimana sikap kita terhadap Al-Qur-an itu sendiri. Yang pertama, kita harus sadar bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai bentuk kasih sayang Allah seperti yang disebutkan diatas. Allah memang pernah marah didalam Al-Qur’an, namun hanya pada orang yang terlampau batas. Misalnya seperti ketika Allah murka terhadap Fir’aun. Dengan kisah itu, kita bisa mengetahui bahwa kita tidak selayaknya bersikap sombong dan dzalim seperti Fir’aun.

Kita juga harus paham bahwa Al-Qur’an adalah bentuk komunikasi Allah pada kita. Tepatnya, 2 way communication. Pertama Allah berkomunikasi dengan kita dengan Al-Qur’an dan dari Al-Qur’an pula kita mengetahui cara berkomunikasi denganNya, yaitu dengan berdoa. Seperti ketika Allah menceritakan kasus fir’aun, Allah juga mengajarkan kita berdo’a. ‘Ya Allah jangan jadikan aku sebagai orang yang tidak mau menerima kebenaran, seperti Fir’aun menolak kebenaran yang diturunkan melalui Nabi-nabimu’. Jadi semakin baik hubungan kita dengan A;-Qur’an, semakin baik komunikasi kita dengan Allah, semakin Allah akan mengijabah do’a kita. Aamiin.

Inti dari Al-Qur’an adalah mengajarkan kita untuk memiliki hati yang baik. Karena itu, yang bisa menerima Al-Qur’an adalah orang yang berhati baik. Itu lah orang yang memiliki hubungan baik dengan Al-Qur’an. Bukan orang yang merasa dirinya paling benar dan kemudian memandang remeh orang lain  yang mungkin baru belajar membaca Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah tentang yourself, not other people. When Allah speak, He speak to you. Jangan menggunakan Al-Qur’an untuk mencemooh orang lain. Misalnya saat kita memiliki masalah dengan seseorang, lalu tiba-tiba kita memposting ayat mengenai adzab bagi orang munafik atau dzalim atau apapun yang kita anggap cocok dengan dia. Tujuannya mungkin ada sedikit untuk mengingatkan, tapi tujuan lain?. Apapun itu, tentu akan membuat orang yang bersangkutan tersinggung. Tidak ada orang yang senang dikritik secara kasar. Bukannya sadar, orang malah akan lari menjauh. Maka dari itu, berilah contoh yang baik. Perbaiki akidah dan ahlaq dengan Al-Qu’an.

Kita pernah menyaksikan ada orang yang sampai menangis ketika membaca Al-Quran. Itu terjadi ketika seseorang benar-benar merasakan bahwa Allah sedang berbicara dengannya. Ia menyadari segala kesalahannya di masa lampau. Tiba-tiba pada relung hatinya yang gelap ada secercah cahaya yang menuntunnya pada harapan baru. Itu lah saat-saat seseorang benar-benar terhubung dengan Al-Quran.

Saat kita mengalami hal seperti itu, berbagilah pada saudara kita yang lain. Yang mungkin saat ini juga membutuhkan obat bagi hatinya yang sedang sakit. Karena muslim itu bersaudara dan saling menguatkan. Semakin kita mengajak orang lain kepada kebaikan. Semakin istiqomah kita pada hijrah yang kita lakukan.

Insya Allah.

 

Forgiving

Forgiving is not something that we do easily. People cannot force us to forgive someone, and also we cannot force ourselves to do it immediately. It needs time. It needs effort. It needs a braveness to accept our part of mistake and to give a chance to other, to change and to do better in the future.

Forgiving is being so much harder if the mistake involving so much things to be sacrificed. And especially those intangible things; Trust, hope, and love.

Yet, whether we are aware or not, forgiving and it’s progress can teach us many things. Especially to live with more positive mind.

I have one example of my disappointment to someone that actually influence my behavior. And this is happened because I haven’t really able to forgave someone and make a peace with myself.

When I was child I have one best friend named A. Until junior high school, I always spent my time with her. Actually my parents warned me to not to play with her since her family has a bad reputation in the society. But I did not care since I though she was a good person. But the strange things happened. That was my second time when I was with her and I lost my cell phone. At that time a cell phone is still luxury thing, and my parents punished me for loosing it. I cried.. and cried in front of her. I told her how sad I am. I told her that I though my parents will hate me forever because I lost my phone. She then tried to cheer me up.

My mother once asked a question to me

“Don’t you realize that you always loose your phone when you are with her?”

And that question made me so mad. I could not accept it. She is one of best friend that I ever had at that time. I did not want to listen to my mother.

Then in a short, I got new phone from my father. It was quite expensive.

And in one occasion I go out with her to a shopping mall brought my new phone. And the strange thing happened again. I lost my cell phone. I was just so fucking panic. It was brand new phone that my father give to me despite i just lost my previous phone. I asked her to help me to find it. We were searching it at every corner of the Mall. But we could not find. I said to her that I could not go back to my house. My parents will not forgive me and punish me. Then she gave me an idea. That I should buy new phone with my saving and told my parents that I sold the previous phone because I would like to change to another phone. And stupidly, I agree and I did it.

I did not have so much money, so I bough it by crediting it. And you know it was so damn difficult to make a seller can trust an junior high school student to pay the phone in credit. I need to check every cellular phone counter one by one to find the one who want to help me.

Of course, when I tell the scenario to my parents, they did not believe. They kept asking me so many questions. Until they found out that my phone was lost. I did not tell her that I go out with her. I told that I lost it in public transportation.

Until one day, I saw one of my neighbor sat in the park chair not far from my house, and he hold a phone that was exactly the same with my phone. The type, the casing, and the sticker!. I was really sure that it was mine.

“Hey. Whose phone is that?!” I asked him with high pitch voice

“This? Of course it is mine?” He answered with no hesitation

“How did you get that?”

“I bought it from A”

And I was just silent and frozen for a moment. That is the most impossible thing that I need to face. I continue my question.

“How did you buy it?”

“A just offer me this phone with very cheap price”

Then I went home, went straight into my bed room and cried by myself. Why? Why? Why? What is my mistake that make her so cruel?. If she need money, why she choose her best friend as her target?. She saw me cry, she saw me desperate, she cheered me up. I did trust her!!. But why??????.

Then at that time. I decide to erase her from list of my friend. No. I did not want to take a revenge. I am not that kind of person. But I will just act like I never know her. I put her phone number into my black list contact, I unfriend her in Friendster, and I blocked her Facebook.

I am just so fucking disappointed.

When I was around my home, once, I saw her and she saw me. I pretend not to see her and just go. I did not care anymore. She was the one who made me have a very bad trauma. Who though me until now, to not trust people so easily, and even not to trust people at all.

One thing that I realize now is, actually it is not really good idea to just go away without really confronting it. I was a too conflict-avoidance person.  You know, even until now, no one know that A stole my phone 3 times except me and my mother. I did not tell her, I did not tell another friend to make her being disliked and hurt. I just simply do not want to have any relationship with her at all.

Yes, I am sure she know what is her mistake. But maybe she did not know how I figured it out and how it made me sooo angry. And, actually If I did not say, she basically can flip the table and said that I am too arrogant because I break the relationship with her without reason.

I told to one of my friend, that if I mad at someone and I still care with him/her, I will say what make me angry at him/her. But if I cannot tolerate it, i just simply go away and pretend that I don’t know him/her.

However,

Avoiding someone, somehow is really tiring, especially when we are still in the same circle. Not only that, hate just made us run out of our energy and turn our day into a really bad day. Avoidance is not a good decision.

Forgiving is not for the sake of people who made mistake, but more importantly for ourselves. It eliminates negative feeling and allow us to focus to a good one.

Forgiving sometimes does not need direct verbal declaration. It starts from a conversation within ourselves. Remembering and reviewing again what have happened, what is the mistake, what make us so mad, then try to make a peace with that bad memory.

Forgiving does not mean forgetting what have happened or compromising the mistake. It is a learning point for the future. How the mistake can be avoided, and how you will react.

Yes, sometimes the wound just so deep, until you just feel so much pain. Until you are not sure whether it will heal or not. Just take a deep breath and take your time. No one can force you to forgive someone.

But I just want to say, as a person that still have a difficulty to forgive someone. Your day is too valuable to be wasted hating someone. You have so much energy to be spent for something you like, something you want to achieve. If you still cannot forgive him/her, it is okay. I also still cannot really fully forgive someone despite I try so hard.

But keep trying and keep learning

This kind of thing is a process of being ‘mature’.

Cowok Ganteng

Sekitar jam 9 pagi gw menuju ke mushola di kantor client gw. Seperti biasa yang dateng ke mushola jam segitu mostly bapak-bapak dan ibu-ibu yang udah berumur. Tapi kali itu, tetiba seorang cowok masih muda masuk dan menunaikan sholat dhuha. Gw langsung teriak dalam hati “Bisa nih di prospek!” wkwkk. Keliatannya dia masih 26+ gitu, dan karena ga pernah ketemu sebelumnya, gw duga dia ga di bagian managerial.

Abis itu gw langsung nemuin temen gw dari tim client yang berposisi sebagai engineer, mau nanya, kali-kali dia kenal. Aduh cabe banget ya gw. Ya namanya juga usaha. Maafkan ya netizen.

“Eh eh. Akhirnya gw nemu cowo ganteng disini” Ujar gw

“Masa?? Siapa? Ga ada deh perasaan gw” Dia ga percaya

“Adaa. Itu mas-mas yang suka sholat dhuha. Tinggi, agak kurus, kuning langsat, pake kacamata, mukanya manis” Jawab gw pede

“Si mas F****??” tanyanya sambil mengerutkan alis

“Iya kali”

“Iya dia doang disini yang ciri-cirinya kayak yang lo sebutin”

“Ooh bisa jadi”

“Kok selera lo rendah banget sih ning? Ga nyangka gw”

“Ha?? Lumayan kok dia” Gw heran dan membela diri “Hmm apa karena gw ngeliat dia pas lagi solat duha kali ya. Jadi bercahaya gitu”

“Iya dia emang rajin solat duha sih. Tapi tetep aja” Ujar temen gw heran “Tapi dia udah punya istri ning”

“Waduhh. Kecewa pemirsa”

Akhirnya niat untuk memprospek pun gagal

Ada lagi cerita kedua. Saat gw cerita ke temen se-kampus waktu di UNSW bahwa gw ketemu dosen UNSW di Jakarta

“Gw waktu itu ketemu sama F**** di Australian Embassy waktu acara seminar” ujar gw

“Siapa tuh F****? Ga pernah denger” balasnya

“Itu loh yang ganteng. Orang Singapur. Ngajar kelas Enterprise System”

“Yang mana? Nama lengkapnya siapa?”

“F**** T**”

Lalu temen gw segera membukan website UNSW dan mencarinya. Jeng jeng akhirnya dia lihat foto orang yang gw maksud memenuhi setengah layar laptopnya

“Ning ini ganteng di sebelah mananya ya?” Tanya nya dengan wajah super bingung

“Ha? Ganteng kok” Gw membela

“Gw ga percaya sama penilaian lo lagi ning” Ujarnya kecewa

Terus ada lagi pengalaman yang lain. Saat gw bilang ada cowok di salah satu kelas waktu di UNSW dulu yang bisa di prospek.

“Ada 1 cowok yang menurutku worth it. Lumayan banget” cerita gw

“Mana mana?” Temen gw penasaran. Lalu gw nunjukin facebooknya. Muka dia langsung berubah jadi kecewa

“Kayak pemain bola gini ning” Ujarnya tidak percaya

“Kok pemain bola?” Tanya gw

“Iya. Maksudnya.. item, gede”

“Ya emang dia orang Afrika. Tapi dia baik banget”

“Ooo” Temen gw cuma speechless mendengar jawaban gw

Entahlah mungkin penilaian gw memang ga sejalan sama majority of women. Tapi menurut gw, definisi handsome is not defined that simple. It can take various shape and color. Dan yang bener-bener bikin cowok keliatan ganteng adalah dari auranya, kelakuannya.

Di contoh yang pertama, cowok itu keliatan ganteng karena dia rajin solat duha. I mean, jarang banget cowok masih muda mau nyempet-nyempetin solat dhuha ditengah kesibukannya. Lagi nganggur juga mendingan ke starbuck. So I can more or less know his spiritual believe.

Di contoh yang kedua. Sebenernya dosen ini cara ngajarnya asik banget. Selain wawasannya luas, beliau juga selalu penuh humor, dan ramah sama mahasiswanya. Waktu itu di matkul dia gw pernah UTS dapet nilai paling tinggi. Dia ngasih gw kado buat kenang-kenangan. Jadi melting kan gw. Jadi setiap ngeliat dia gw bawaannya seneng dan semangat belajar gitu.

Kalo di contoh yang ketiga. Jadi dia ini temen sekelas gw di salah satu matkul. Di kelas itu dosennya galak dan yah bisa dibilang sedikit rasis, karena sering bangga-banggain white people. Nah pernah kan suatu hari ada persentasi per kelompok gitu. Ada satu kelompok isinya orang mainland semua 4 orang. Terus pas ngasih feedback tanpa basa-basi dosennya bilang

“You guys need to learn English more,  especially the pronunciation. I even cannot really understand your presentation” Ujarnya sadis

Tapi tiba-tiba sesosok pria Afrika angkat tangan. Dia bilang

“I am sorry but i want to say my opinion”

“Sure” Kata dosen

Lalu dia melanjutkan

“Perhaps their accent is very different with common accent in Australia, but i think that does not mean they need to change that. Since UNSW is world class international school, we need to appreciate the difference. I know it is hard, I am also missing some points, but i am trying to understand” Ujarnya dengan pede tapi tetap humble. And you know, semua murid, bahkan yang bule aja ga berani ngebantah dosen kiler ini. Tapi dia mau, bahkan untuk sesuatu yang ga ada keuntungannya buat dia. How can this guy does not steal my attention??. Haha sumpah lebay banget gw

Iya intinya gitu. Ga semua orang punya definisi handsome or beautiful in an exact way. Hmm at least gw rasa untuk cewek pandangan mereka lebih subjektif sih. Dibanding cowok (terutama yang hidup di daerah metropolis) yang mendifinisikan cantik itu putih, langsing, tinggi. Cewek punya definisi yang lebih abstrak untuk menentukan seorang cowok atraktif atau ga.

Ini postingan ga penting sih. Ya cuma sedikit hiburan dan insight yang ga gitu penting buat netizen. Hehee.

 

Sesat Sesaat

Aku pernah merasakan kejayaan yang sangat besar. Kejayaan yang meringankan langkahku. Menghilangkan keraguanku. Melembutkan hatiku. Merekahkan senyum diwajahku.

Ya itu adalah saat-saat dimana aku menetapkan bahwa Allah adalah tujuan utamaku, dan setiap detik hidupku adalah persiapanku untuk menghadap kepadaNya. Setiap hembusan nafasku adalah upayaku mengingatNya. Setiap lelahku adalah pencarianku atas ilmuNya agar selalu lurus langkahku kepada jalan yang Ia ridhoi.

Rasanya sudah cukup lama

Memori tersebut sudah hampir terkubur

Setiap orang termotivasi oleh hal yang berbeda-beda. Ada orang yang termotivasi ingin menjadi orang terkaya. Ada orang yang termotivasi untuk menjadi wanita tercantik. Ada orang yang termotivasi untuk mengalahkan orang lain. Ada orang yang termotivasi membuat orang lain bahagia. Macam-macam. Lalu apa motivasiku?. Pertanyaan ini mungkin tidak bisa kujawab jika kau tanyakan padaku kemarin, sebulan yang lalu, atau setahun yang lalu.

Karena rasanya aku baru benar-benar tersadar pagi tadi

Aku sempat mengalami..

Dimana rasanya ada banyak suara yang harus kudengarkan. Saking banyaknya sampai aku merasa tidak berhak untuk mendengar suaraku sendiri. Bahwa setelah aku lulus S2 aku harus segera mendapat pekerjaan yang layak, yang minimal memberiku gaji 10juta perbulan. Bahwa setelah aku lulus aku harus segera menikah karena bagi orang Indonesia 24-25 tahun adalah usia layak menikah bagi wanita. Dan sebagainya.

Bukan hal yang buruk memang.

Hanya saja bisa menjadi jebakan jika tidak disikapi dengan baik.

Apa maksudnya tidak disikapi dengan baik?

Maksudnya, menghalalkan segala cara agar tujuan tersebut tercapai. Misalnya pasrah mendapat pekerjaan apa saja tanpa benar-benar sesuai dengan keinginan atau lebih parahnya KKN saat melamar kerja, lalu menikah dengan siapa saja karena dikejar deadline.

Memang kenapa kalau menempuh dengan jalan yang tidak baik? yang penting hasilnya baik?

Karena jalan yang ditempuh tadi bisa mempengaruhi hasil. Misalnya, kita kerja asal kerja. Pergi pagi pulang pagi, setiap hari. Gaji cukup. Tapi in the end merasa pekerjaan tersebut sia-sia. Dan kalau KKN misalnya, bisa saja itu adalah awal langkahmu untuk berbuat korupsi yang lebih besar kedepannya. Atau misalnya kamu menikah asal menikah. Sudah tau kamu tidak cocok dengan calonmu. Kamu tau calonmu tidak bisa dipegang omongannya. Setiap hari bawaannya bertengkar. Tapi karena sudah terlanjur dekat bertahun-tahun dan sudah usianya jadi kamu lanjutkan. Sadarkah kamu. Kamu yang tinggal terpisah dengannya saja sudah kacau begini, bagaimana kalau kamu harus tinggal bersama?. Sadarlah menikah itu bukan akhir dari segalanya. Sebaliknya, menikah adalah awal dari komitmen yang kamu buat di hari yang sakral itu

Sekitar 1.5 tahun yang lalu aku pernah menulis di Instagram, seperti dibawah.

IMG_1971.PNG

Namun agaknya aku belajar sesuatu. Bahwa ketika tersesat ada hal yang telah kusia-siakan. Yaitu kesempatan yang tidak bisa datang dua kali. Dimana ketika pintu sudah tertutup maka tidak bisa dibuka lagi, sehingga mau tidak mau aku harus berjalan lebih jauh lagi untuk mencari pintu lain.

Dan benar saja, ketika tujuanku memang serendah itu. Kekecewaan dan putus asa datang ketika aku gagal. Bodoh sekali kalau diingat-ingat. Bahkan aku melupakan Penguasa yang bisa saja mencabut nyawaku besok pagi. Karena memang hatiku sudah terlanjur mendingin. Pikiranku dekililingi tembok sempit yang menutupku dari kebahagiaan yang ada di sekitarku.

Sesat bukan hanya berarti masuk kedalam jurang maksiat atau pelanggaran terhadap undang-undang negara. Tapi sesat juga berarti mengabaikan tujuan dan berbelok kearah yang yang tidak kau kehendaki. Mungkin kau bilang “tidak apa, mungkin jalan ini bisa membawa kebahagiaan yang lain”. Tapi sadarlah ketika kau sudah memilih untuk belok kau harus siap untuk tidak komplain ketika jalan yang kau pilih penuh halangan dan rintangan. Dan itulah yang membuat banyak orang menyesal seumur hidup. Tidak bisa bangkit ketika terlanjur terjatuh. Karena itu memang bukan jalanmu, tujuanmu tidak ada disana.

Sudahlah. Yang lalu memang sudah tidak bisa diapa-apakan. Tapi kali ini aku akan lebih tegas pada diriku. Untuk tidak semudah itu “Chasing Pavement”. Mengikuti kemana jalan beraspal membawa dan lupa bahwa tujuanku bukan kesana.

Kamu tidak perlu mengubah dirimu kok. Sudahlah jangan berpura-pura lagi didepanku.

Kalau kamu ingin jadi orang terkaya, lanjutkan. Kalau kamu ingin jadi orang paling terkenal, silahkan. Memang uang dan pujian yang menuntunmu. Mau bagaimana lagi?.

Hanya saja kali ini aku akan membuat batasan yang jelas. Bahwa tujuan kita berbeda.

Maaf kalau aku tidak cukup diplomatis. Aku hanya manusia berhati lemah yang mudah terbawa dan sulit untuk sembuh ketika tersakiti. Karena itu aku ingin lebih bisa menjaga hatiku.

Tidak ada yang menang dan kalah. Tidak ada yang lebih baik.

Aku juga manusia yang tidak luput dari salah. Aku hanya ingin berbenah diri. Aku ingin mulai mengejar apa yang kucari.

Kuharap kau juga mendapatkan apa yang kau cari.

 

A guy with pink wallet

Tadinya rencananya begitu sampe kamar gw pengen langsung istirahat. Tapi berhubung ada cerita seru, let me share it first lah ya.

Jadi tadi pas naik Gocar pas mau balik dari Bekasi ke Jakarta gw ngobrol banyak sama mas-mas Gocar demi killing time menghadapi kemacetan Bekasi. Nah, karena si mas driver gocar ini orang Medan, dia ngomong terus mesti ga ditanya (sorry no judging, tapi terakhir gw ketemu sama stranger orang Medan waktu ke Kualanamu, gw sampe ga tidur dengerin obrolan dia, wkwk, but believe me sometimes it can be a good thing).  Nah terus entah lah gw juga sampe lupa awalnya ngobrol apa (saking banyaknya yang dia ceritain) sampe pada cerita dia nunjuk suatu jalan sebelum masuk ke tol Cibitung.

“Saya kerja di PT.ABC (lupa namanya), semacam perusahaan otomotif gitu” Ujarnya

“Oh berarti nge Gocar sampingan aja mas?” Tanya gw

“Iya. Kalo weekend gocar, kalo hari kerja, habis pulang kerja jam 5, gojek sampe jam 10 malem. Cari tambahan mba. Sampe temen juga pada heran. Kan saya udah kerja, udah lumayan lah gaji tapi masih mau kerja supir kayak gini”

“Hmm, terus kenapa bisa serajin ini mas?

“Saya lagi nabung buat nikah mba”

“Ooh I see. Ceweknya kerja juga mas?”

“Kerja. Tapi masa iya saya ngandalin duit cewek saya. Jadi gini mba” cerita si mas Gocar “Cewek saya kan anak kuliahan ya. Sedangkan saya cuma anak SMK. Iya sih secara penghasilan gaji saya jauh lebih gede karena saya udah kerja sejak 10 tahun yang lalu. Terus saya juga udah ada rumah sama mobil ini. Tapi karena pendidikan itu, orang tuanya kurang setuju ama saya. Dia disuruh nyari cowok yang pendidikannya sepadan”

“Waduh. Terus gimana tu mas?” Gw jadi penasaran

“Ya saya tanya sama cewek saya, apa dia mau cari yang lain apa gimana. Tapi dia bilang maunya sama saya”

“Terus orang tuanya gimana?”

“Ya saya bilang ke cewek saya, saya kan nikah sama dia, bukan sama orang tuanya jadi ya bodo amat. Saya malah pesen sama dia, supaya jangan bilang-bilang ke orang tuanya kalo saya punya ini itu. Soalnya dari awal udah keliatan matrealistis, saya takut dimintain macem-macem”

“Oh gitu mas”

“Iya. Makanya saya kerja kayak gini mba, biar cewek  saya ga susah hidupnya mesti nikah sama lulusan SMK”

“Yah mas. Menurut saya lebih baik cowok cuma SMK tapi mau kerja keras demi istri daripada kuliah tapi ga bertanggung jawab sih”

“Saya mah mba, tabungan dibawa cewek saya. Saya sampe selalu bawa dompet pink dia pas narik, nanti sepulangnya udah keisi kan, saya kasih dia. Beneran dompet pink ibu-ibu yang suka dibawa ke pasar gitu”

“Emang ga takut tabungan mas dibawa kabur ceweknya mas? Padahal mas nikah juga belum loh” Tanya gw menguji keyakinan mas nya. Tapi dengan santai dia menjawab

“Ya saya tau cewek saya lah mba. Makanya saya percaya”

Hmm gw semakin penasaran dengan cowok-cowok super faithful semacam ini, gw pun melanjutkan pertanyaan demi menjawab rasa penasaran gw

“Segitu percayanya ya mas. Emang apa yang bikin mas suka sama dia?”

“Dia jujur orangnya. Terus ya nyambung aja. Dibilang cakep mah engga mba. Genduut”

“Oh iya? segendut apa mas?”

“Kayak Oki Lukman lebih gendut lagi”

“Wah lumayan ya” Ujar gw, yang merasa se gw aja udah masuk kategori gendut.

Gw langsung membatin, betapa beruntungnya si Mbak itu punya orang yang memperjuangkan dia sampe segininya. Si Mas ini bisa dibilang udah dipukul mundur sama orang tua ceweknya, tapi masih maju. Udah gitu bukannya pamer kalo udah punya ini itu dia masih bersifat sederhana dan bertahan dengan calon mertuanya.

Kayaknya emang bener pesen ibu gw, cowok itu kalo beneran suka ama cewek, dan beneran laki, akan bener-bener cari cara supaya bisa sama cewek itu. Bukan ketika ada masalah malah menambah runyam, hide behind your back or run away.

Terus in a short, karena tadi kejebak macet, gw jadi mesti solat maghrib di Jalan

“Mas, boleh cari tempat solat dulu ga? Saya mesti solat maghrib nih”

“Siapp mba. Nanti di rest Area di depan ya. Saya nasrani jadi ga sholat. Maap ga ngingetin”

“Gapapa mas. Kan itu kewajiban individu. Ga perlu diingetin”

Akhirnya gw pun Shalat di Rest Area. Barang-barang, termasuk laptop gw tinggal di mobilnya, ya entah kenapa gw yakin. Emang bener ya, orang baik tuh bisa diliat dari mukanya. Dan itu bisa dari orang dengan berbagai latar belakang.

Finally setelah selesai shalat gw melanjutkan perjalanan

Sesampenya di tujuan, karena gw lupa isi Gopay, gw jadi bayar cash. Gw yang ga punya uang pas menyodorkan uang 200ribu.

“Kembali ya mba. Bentar ya” Ujarnya. Lalu dia mengeluarkan dompet mungil softpink dari sakunya

“Wah itu dompetnya mas?”

“Iya. Hehee”

“Itu sih dompet ibu-ibu banget”

“Kan tadi saya bilang”

Terus setelah menerima kembalian gw pun berterimakasih

“Makasih mas, semoga lancar terus persiapan nikahnya. Langgeng terus sama ceweknya ya!” Ujar gw sambil turun dari mobil

“Iya makasih ya mba” Jawabnya sambil senyum.

Memang belajar itu dari mana-mana. Dari mas Gocar ini gw jadi tau masih banyak cowok baik yang tulus diluar sana. Gw bersyukur gw masih diberi kesempatan belajar dari hal-hal kecil seperti ini.

Dan ya, tentunya catatan buat diri gw juga. Bahwa trust develop from both side. Dimulai dari si cewek yang mau menerima cowok yang pendidikannya lebih rendah, dan cowok ini mulai membuktikan bahwa cewek itu telah menjatuhkan pilihan yang tepat.

 

 

Ikhlas dan Sabar dalam Mencari Rezeki

Di project yang gw kerjain saat ini. Ada satu cewek yang menurut gw keren banget. Dateng pagi banget dan pulang paling malem. Kerja beyond the expectation, bukan cuma ngerjain bagian dia in excellent way, tapi juga turun tangan bantuin kerjaan yang lain. That is why pengetahuan dan skillnya di kerjaan luas banget. And that is why she is promoted faster than others.

She is one of examples that proves kalo promosi bisa pure dari kerjaan, karena dia juga bukan orang yang pinter jilat atasan.

Sampe suatu saat dia akhirnya ngeluh juga.

“Gila ya” Dia bilang “Tadi gw baru tau gajinya bapak X” Lanjutnya. Bapak X adalah salah seorang manajer di perusahaan client. “Gajinya setahun udah bisa buat beli rumah mewah di Jakarta!”

“What??. Kerjanya santai banget gitu?” Timpal gw

“Iya! Yang kerja anak buahnya. Dia cuma ngobrol ama nyuruh2. Jam 5 udah pulang. Sedangkan kita kerja kayak begini. Gaji ga seberapa” Ujarnya sambil menghela nafas.

Gw paham sih. Dibanding dia, kerjaan gw mah masih cemen. Dia saat ini megang 3 project despite jabatannya yang belum manajer. Soalnya emang culture di tempat kerja gw gitu. Semakin rajin dan berprestasi, semakin di utilize untuk kerjaan yang lain. Gw sendiri kadang kalo udah ngerasa di over utilize, gw tiba-tiba menurunkan performa in some side, supaya gw juga ga hedon2 banget kerja. Karena physically gw ngerasa ga sekuat temen gw ini. Minimal gw demam dan magh kalo udah kurang istirahat dan kurang makan.

Rumput tetangga emang selalu kelihatan lebih hijau. Iya sih memang si bapak ini keliatan kerjanya santai banget. But we actually don’t know before this, when he was at our age. Bisa jadi itu adalah buah kerja kerasnya dulu. Bisa jadi dia sebenernya pekerja keras, tapi karena udah berumur dan berkeluarga dia pengen hidup lebih balance. Who knows?.

Saat temen gw envy ke bapak X, sebenernya gw envy ke dia. Kenapa dia bisa serajin dan sekuat itu. Dia ga cuma pinter, dia juga emotionally always full controlled. Secapek dan lagi se bad mood apapun, dia masih bisa tenang dan bercanda. Terus kesehatannya juga. Jam kerjanya diitung-itung selalu yang paling panjang di project gw. Everyday. Makan juga, udah berapa kali dia lupa makan sampe sore gara-gara sibuk. Tapi all of that does not make her drop. Kalo gw ngebandigin diri gw sama dia, gw berasa lemah banget.

But I want to make a note to myself. That sometimes, it is understandable to envy others who seems more fortunate than me. But does not means I allow myself to forget being grateful of what I have.

Di lingkungan kerja yang cukup keras, ada kesempatan yang ga didapat yang lain. Kesempatan untuk belajar lebih cepet. Kesempatan untuk belajar sabar dimarahin karena doesn’t take enough action or taking too much initiative. Kesempatan untuk belajar dari orang-orang yang sudah lebih dulu dan terbiasa meghadapi pressure semacam ini. Dan yang paling penting kesempatan untuk menghargai usaha diri sendiri, not comparing yourself with others, because everyone have their own strength and weakness.

Ketika Allah memberi batasan ke gw, ya memang itu yang terbaik buat gw. Supaya gw lebih pandai bersyukur dan bisa lebih menghargai bantuan orang lain. Supaya gw juga inget bahwa dibalik duniawi yang selalu dikerjar ini, ada akhirat yang menjadi tujuan akhir. Yang menanamkan Tauhid bahwa Allah lah yang menciptakan gw dengan komposisi ingridient yang sebaik-baiknya.

Ketika rasa percaya itu sudah muncul, entah lah, segalanya terasa lebih ringan.

If you see my instagram photo always full of smile, believe me, that actually behind that, there is so much tears and sweat. I just choose to share my happy time rather than my blue time so people be happy too.

So seberat apapun hidupmu sekarang, bersyukurlah karena banyak pembelajaran yang bisa kamu dapat. Yang mengasahmu jadi orang yang lebih hebat.

Yakin lah Allah sudah mengatur rezekimu.

Kapan kamu akan naik jabatan. Kapan kamu akan lanjut sekolah lagi. Kapan kamu akan menikah. Kapan kamu akan punya anak. Semua sudah diatur oleh yang Maha pemberi yang terbaik.

Jika memang belum. Bersabarlah. Allah sedang menyimpan yang terbaik sembari melihatmu terus berusaha menjadi lebih baik, dan mencatatnya dibuku catatan amalmu.

Ada pepatah bilang

“Orang yang paling kuat adalah orang yang paling sering menderita. Orang yang terlihat paling bahagia adalah orang yang paling banyak menangis”

Yes, semakin orang itu diuji, semakin ia tahu bagaimana caranya bersyukur disetiap ujiannya

Semoga kita semua selalu jadi orang yang pandai bersyukur

Aamiin..