24

Malam itu aku berjanji, aku tidak akan terjatuh di lubang yang sama, aku tidak akan berhenti sebelum berhasil, dan aku akan bangkit lagi ketika terjatuh.

Kira-kira setahun yang lalu, di tengah malam ketika fikiran masih juga sibuk.

Saat itu aku berharap, doa yang samar-samar dari jauh itu bisa kuupayakan.

Namun aku tidak sempurna.

Lagi-lagi aku terjatuh, bahkan kadang kedalam lubang yang sangat dalam. Sampai cahaya hanya terlihat seperti bintang, titik putih kecil yang  tidak cukup melubangi kegelapan.

Berat sekali pundak ini. Kaku sekali tubuh ini untuk bergerak. Kecil sekali nyali ini.

Kulihat luka-luka memar bekas perjuangan masa lalu. Masih terlihat jelas bekasnya. Namun sering kulupa.. Seberapa kuat aku telah berjuang keluar dari hutan rimba itu, mengalahkan binatang-binatang buas. Seberapa sering pahlawan tanpa diundang mengukulurkan tangannya ketika aku terjatuh, dan mengobati lukaku.

Kenapa mudah sekali kulupa.

Padahal setiap darah yang menetes dari luka adalah bukti keberanian melawan musuh-musuh besar. Setiap jahitan adalah cinta dari orang-orang yang mengajarkan agar kau juga bisa mencintai.

Aku tahu, sulit sekali untuk merangkak keluar dengan tubuh penuh luka. Tapi bukankah lebih sulit untuk menerima kenyataan bahwa kau telah dikalahkan nyali kecilmu.

Kerinduan Allah

Bulan Ramadhan kali ini adalah bulan Ramadhan yang sangat bermakna untukku. Selain karena ini pengalaman Ramadhan pertama di Australia, banyak sekali pelajaran dan hikmah yang kupetik, baik dari pengalaman yang kudapat, maupun dari orang lain.

Sepertinya Allah sudah sangat rindu padaku. Mungkin panggilan halusNya tidak mampu membuatku tersadar sampai akhirnya Allah mengingatkanku dengan panggilan yang agak keras. Alhamdulillah. Aku bersyukur Allah masih menyayangiku. Menyadarkanku untuk kembali ke jalanNya.

Aku sering mendengar pepatah “Kalau pergi ke toko parfum, bau harum akan ikut melekat di diri kita. Kalau pergi ke kandang ternak, bau kotoran yang akan melekat”. Terdengar sepele, yang karena itu sering kuabaikan. Bagaimanapun kita adalah mahluk sosial. Hubungan sosial sedikit banyak akan mempengaruhi kita. Karena kita bukan manusia pilihan seperti Nabi dan Rosul yang selalu dibimbing langsung oleh Allah maupun melalui Jibril AS.

Sampai pertengahan Ramadhan, aku masih belum terlalu aktif tadaruz untuk khataman. Padahal tahun lalu, aku telah khatam di minggu ketiga Ramadhan, dan melanjutkan membaca minimal satu juz satu hari sampai akhir Ramadhan. Sungguh penurunan yang cukup drastis.

Ramadhan kali ini memang aku harus melewati final exam di kampus. Waktuku cukup banyak terpakai untuk belajar sampai aku hanya mengaji sekitar dua kali dalam seminggu dan tidak sampai satu juz dalam minggu itu. Entah kenapa, saat ujian aku tidak dapat menjawab pertanyaan dengan maksimal, walaupun materinya sudah kukuasai. Entah disebabkan karena kesalahan dalam penempatan jawaban, atau kelupaan menuliskan point penting dalam jawaban. Sedih.

Tapi sepertinya itu belum cukup untuk menyadarkanku sepenuhnya. Diriku sudah sangat bau kotoran karena aku telah berlama-lama di tempat yang tidak baik. Aku merasa ada jarak dengan teman-teman baikku yang berbau harum. Kuperhatikan lisannya yang selalu mengandung kebenaran dan kebaikan. Tidak ada ghibah dan fitnah dalam setiap kata-katanya. Membuatku malu dan menyesal bahwa aku masih sering mengucapkan perkataan yang sia-sia.

Mungkin benar, memang pada saat tidak boleh beribadah, selain karena perubahan hormon, syaitan juga dengan mudahnya membisikkan keburukan pada wanita, yang kadang membuat goyah. Pada saat itu kesal sekeli rasanya, ketika ada orang yang menjelek-jelekkanku di depan orang-orang, seakan mengajak orang lain untuk turut membenciku. Terbayang jelas kebencian di wajah orang-orang yang telah dihasutnya. Bahkan kata-kata mereka pun telah berubah. Dari sebelumnya penuh canda dan menghargai kesibukan masing-masing, menjadi sinis seketika. Membayangkan bagaimana ghibah/fitnah itu berkembang membuat kekesalan memuncak dan ingin rasanya melalukan hal yang serupa. Apalagi, seiring disebarluaskan, ghibah tersebuh makin dibumbui dan dilebih-lebihkan yang membuatnya menjadi fitnah.

Tapi aku bersyukur, sepertinya Allah tidak mengizinkanku untuk melalukan hal yang serupa, dan menghentikanku ketika aku berniat melakukan hal tersebut. Biarlah kusimpan segala aib orang itu. Melalukan hal yang serupa membuatku tidak ada bedanya dengan orang itu. Jika ia masih mau meneruskan perbuatannya, itu bukan urusanku. Menurutku ini sudah case closed. Aku sudah tau permainannya dan cukup jadi pelajaran untukku. Aku ingin fokus untuk berbuat baik pada orang-orang yang baik, yang benar-benar menyayangiku, bukan orang yang hanya mengharapkan sesuatu dan kemudian menelantarkanku ketika sudah tidak butuh.

Allah sudah menyadarkanku tentang betapa pentingnya lingkungan sekitar dalam mempengaruhiku. Cukuplah kejadian itu menjadi pelajaran yang terbaik agar berhati-hati dalam menjaga lisan dan tindakan serta makin mendekatkan diri padaNya.

Disisi lain, aku juga bersyukur, karena aku dipertemukan dengan teman-teman harum yang sangat tabah menghadapi ujian hidup, dan saling menguatkan satu sama lain. Semoga kita selalu didekatkan dengan orang-orang yang disayangi Allah, dan senantiasa menjadi orang yang memelihara ukhuwah Islamiah.

Akhir kata, Ramadhan kali ini membuatku yakin bahwa sekecil apapun yang terjadi di muka bumi ini adalah atas izin Allah. Karena itu, semuanya harus dikembalikan kepada Allah. Jangan sampai kita menjadi orang yang sombong yang tidak sadar bahwa Allah yang maha berkehendak lah yang sudah membuat kita sampai  seperti sekarang. Kita hanya bisa berusaha, tapi yang maha menentukan adalah Allah.

Ayah

Ini cerita tentang ayahku..

Tampangnya yang sangar, jarang senyum, dengan kerutan wajah yang tergambar jelas adalah bukti kerasnya hidup yang beliau alami.

Semenjak kecil beliau adalah orang yang cerdas dan ambisius. Selalu juara kelas dari kelas satu sampai kelas enam SD. Beliau selalu mendapat beasiswa, yang termasuk uang bulanan yang kemudian ia berikan kepada kakek nenekku untuk modal berdagang opak. Setiap hari ayah berjual opak di sekolahnya, tanpa rasa malu. Kadang sepulang sekolah atau dikala libur beliau membantu kakekku berjualan opak dengan sepeda pancalnya yang butut, memutari kabupaten Malang, bahkan kota Malang, berpuluh-puluh kilometer, untuk berdagang opak. Beliau anak kedua, namun anak laki-laki pertama di keluarga yang cenderung pas-pasan, yang membuatnya dididik dengan keras agar dapat mandiri dan dapat diandalkan.

Setelah lulus SD, ayahku langsung direkrut untuk masuk TNI-AL, dan memulai karirnya yang keras dan penuh kedisiplinan. Nenek dulu pernah meminta kepada atasan ayahku agar ayahku bisa berhenti dari pendidikan militernya. Karena nenek tidak tega melihat ayah digebuki habis-habisan saat pendidikan, padahal nenek termasuk orang yang sering menggunakan kekerasan untuk mendidik anaknya, tapi tetap saja kali itu beliau tidak tega. Mungkin levelnya sudah berbeda. Bagaimanapun levelnya, ayahku telah dididik dengan cara yang keras semenjak kecil.

Setelah pensiun, ayah membuka usaha dagang buah-buahan. Bangun pukul 3 pagi untuk shalat tahajud, sholat shubuh di masjid, lalu bergegas pergi berdagang walau hari masih gelap. Jerih payahnya membuahkan hasil, Alhamdulillah.

Kepada anak-anaknya, beliau juga berharap agar kami mau bekerja keras, sama seperti beliau, disiplin dan tidak mudah menyerah. Kadang kami merasa beliau terlalu keras, sampai kami pernah sangat kesal kepadanya. Kadang kata-katanya tidak disaring, perilakunya juga. Tapi apa kami cukup bijaksana jika kami berharap agar orang yang dididik dengan cara sekeras itu bisa bersikap penuh dengan kelemah-lembutan?. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan sering kita tidak bisa memaksakan orang untuk membuang segala kekurangannya. Tapi setidaknya kita bisa membantunya pelan-pelan untuk lebih memahami kekurangannya, dan menutupinya dengan kelebihan yang ia miliki.

Mungkin ayah kurang kasih sayang. Kami kadang merasa bahwa ayah terlalu keras dan dingin. Tapi seburuk apapun beliau dimata kami, beliau pasti ingin mendidik anaknya dengan caranya yang terbaik agar anak-anaknya dapat berpijak dengan kedua kakinya sendiri, terlebih, membantu orang-orang yang membutuhkan.

Bagaimanapun, kami bisa sekuat ini karena didikan beliau yang disiplin itu. Beliau yang selalu ribut- pagi-pagi jika anaknya tidur seusai shalat shubuh. Kadang kami memandang remeh hal tersebut, karena kami tidak tahu rasanya harus membantu menggoreng opak sebelum berangkat sekolah, atau berlari ke lapangan  untuk berbaris. Selama ini kami hidup dengan penuh rezeki yang dicarikan beliau, tidak terbayang sesulit apa mencari penghasilan untuk mendapat sesuap nasi.  Walau beliau selalu menekankan kami untuk tidak terlena dengan apa yang ada, kadang kami tidak sadar, dan membiarkan waktu berjalan begitu saja dengan sia-sia.

Postingan kali ini memang agak melankolis, tetapi aku hanya ingin mengingat, tidak hanya ingatan yang buruk, agar aku dapat mengevaluasi dan menyimpulkan dengan bijak. Akhir kata, yang dapat kusimpulkan adalah bahwa kita tidak hidup sendiri di dunia ini. Ada orang yang harus kita bahagiakan. Ada pesan-pesan hidup yang harus kita indahkan. Jangan mudah menyerah dan putus asa. Banyak orang yang telah memupuk harapannya pada kita.

TIPS BELAJAR IELTS

Banyak orang yang bahasa inggrisnya pas-pasan kayak saya mundur duluan sebelum mencoba tes bahasa inggris yang harganya 2juta-an ini. Jangankan IELTS yang 2 juta, buat ikut TOEFL ITP yang 300rb-an aja saya butuh mikir berminggu-minggu atau sampai berbulan-bulan. Yup memang ga sebaiknya kita coba-coba ikut tes ini tanpa ada persiapan yang matang. Karena 2 juta lumayan bo, beli cimol dapet 10 gerobak bisa kali.

Ada banyak website dan blog yang dapat kita gunakan untuk belajar IELTS. Mulai dari yang membahas secara general sampai membahas tiap tipe soal. Disini saya akan coba rangkum tips-tips dan sumber yang bermanfaat untuk belajar. Sebelumnya pasti kita penasaran, lebih baik mana kita belajar sendiri atau ikut kursus?. Jawabannya sebenarnya bergantung pada tipe seperti apakah kita dalam belajar. Ada orang yang bisa belajar secara otodidak, ada juga yang tidak. Namun, pada zaman yang serba terhubung ini, kita sering dihadapkan oleh berbagai kegiatan yang harus segera kita kerjakan (e.g diajak kongkow, atau chatting sampe pagi), sehingga untuk belajar otodidak secara fokus cukup sulit dilakukan. Selain itu ada beberapa kelebihan jika kita ikut kursus, 1) Ada yang mengajarkan dan membimbing kita bagaimana cara belajar yang benar 2) Mau tidak mau kita harus belajar pada jadwal yang telah ditentukan, jika belajar sendiri kadang kita tidak disiplin karena banyak agenda lain yang harus diselesaikan 3) Kita mendapatkan modul yang dapat membantu untuk lulus tes. dan banyak kelebihan lain.

Lalu apa yg harus dipertimbangkan sebelum kursus IELTS?

Personally, saya menilai jika kita ingin ikut kursus persiapan IELTS, maka setidaknya kita harus memiliki basic general English, misalnya basic grammar. Kenapa?. Karena soal-soal dalam tes IELTS; listening, reading, writing, speaking, membutuhkan kemampuan general English yang cukup memadai. Basic grammar sangat dibutuhkan dalan writing dan speaking yang mana sering kali dalam dua tes ini peserta tidak mencapai nilai minimum requirement untuk masuk universitas (biasanya 6.0 atau 6.5) karena grammar yang berantakan. Lalu bagaimana kemampuan general English ini diukur?. Hmm ini cara kasar, tapi saya rasa bisa juga dilihat dari nilai tes TOEFL yang kita dapat. Kalau tes prediction TOEFL atau ITP sudah diatas 450 maka menurut saya (based on personal observation) sudah boleh ambil persiapan tes IELTS. Jika belum, lebih baik les general English dulu. Karena biasanya pada IELTS preparation tidak diajarkan hal-hal yang sangat dasar secara mendalam karena dianggap sudah bisa. Kadang ada juga institusi yang mengajarkan tapi biasanya cuma sekilas aja.

Sebaiknya jarak antara les dan tes nya berapa lama?.

Well banyak yang berpendapat sebaiknya jarak kursus dan tes tidak terlalu jauh supaya otak IELTS kita masih hot ketika dipakai test. Kalau mau jauh2 hari juga boleh asal beberapa minggu sebelum tes diangetin lagi supaya minimal hangat-hangat tai ayam lah.

Mendingan ikut les yang privat atau non-privat?

Kalau ada uang cukup buat privat dan ada guru yang bagus, privat lebih ok. Karena belajarnya akan lebih fokus dan intens. Kita bebas tanya-tanya tanpa malu-malu kucing sama temen sekelas yang mau kita gebet.

Sebaiknya kita ikut kursus yang berapa jam sehari?

Ini sangat tergantung sama jadwal kita. Kalau sibuk ambil saja yang sehari 1-3 jam. Kalau memang sudah tidak ada kesibukan, ambil yang 6 jam atau lebih. Seperti kata survey (lupa dari siapa), manusia akan mahir dalam suatu bidang seiring dengan banyaknya latihan yang dilakukan. So, 6 jam is actually better to make you exercise more.

Selain kursus, apa yang harus kita lakukan supaya nilai IELTS minimal 6.5

Pertama, ngerjain PR tentunya. Jangan lupa kerjain PR dari tempat les dalam waktu yang sudah ditentukan. Dan kritislah ketika PR itu dibahas. Kenapa kita bisa benar/salah. Ingat, jangan sampai kita hanya ingin dapat nilai tinggi pada saat latihan dan mengabaikan bagaimana cara mendapatkan jawaban yang benar. Yang paling penting kita paham dulu, nilai akan mengikuti seiring bertambahnya pemahaman kita. Kedua, rajin bertanya pada teacher tentang apa-apa yang tidak kita mengerti. Ketiga, rajin latihan bersama teman-teman, kalau bisa mix antara yang kemampuannya diatas kita dan dibawah kita. Supaya kita bisa dapat masukan dari teman yang ahli dan juga pelajaran dari teman yang kurang. Keempat, rajin browsing tentang tips-tips IELTS, sangat banyak sumber yang memberi tips bermanfaat, mulai dari youtube, web, sampai blog. Kelima, sering baca, denger dan nonton media yang menggunakan bahasa inggris

Ok, sekarang ayo kita bahas tips IELTS per-bandnya

Mulai dari listening, apa tipsnya?

Karena most of listening section menggunakan aksen british, biasakanlah telinga kita untuk mendengar aksen tersebut. Pertama yang bisa kita lakukan adalah menonton film british. Karena menonton film adalah latihan ter-menyenangkan. Disamping kita bisa menikmati ceritanya, kita bisa melatih skill listening IELTS kita. Kalau kata kak Alex yang sekelas dengan saya di tempat kursus, untuk latihan listening dia menonton film yang sama 3X. Biasanya dia akan menggunakan full English sub saat pertama nonton, mencoba tidak menggunakan English sub saat nonton kedua kali, tapi kalau memang tidak terdengar, sub dimunculkan, dan yang ketiga kali ia menonton tanpa sub sama sekali. Kalau kata teh Ica, yang juga sekelas dengan saya, ia biasa berlatih dengan menonton video Ted-Ex. Lalu menurut saya ketika kita sudah lumayan mahir, ada baiknya kita mendownload radio british di Playstore. Karena kalau dengan video kadang kita masih bisa mengerti dari gambar walau tidak tahu apa yang sebenarnya diucapkan. Tapi latihan dengan radio is exactly preparing for the listening test, karena memang seperti itulah kita akan tes. Bukan promosi, tapi kita bisa download ‘BBC radio’ secara gratis di Android Market (kalau OS lain saya kurang tahu ada atau tidak). Ada banyak channel didalamnya, tapi saya sarankan untuk mendengar berita (BBC World Service, BBC 2, atau BBC 4) karena soal listening soal IELTS lebih kurang seperti itu. Jangan lupa luangkan minimal sehari 30 menit untuk latihan listening.

 

Kalau reading tipsnya apa?

Rajin baca teks bahasa inggris definitely. Kalau ikut les dan dikasih PR reading, jangan lupa dikerjakan. Kalau belajar otodidak, set jadwal supaya belajarnya rutin dan konsisten. Untuk pemula macem saya, bacalah tiap pessage dengan cermat, ga usah ngotot harus 20 menit buat ngerjain 1 passage, yang penting ngerti dulu passagenya dan paham cara ngerjain setiap tipe soal, tapi jangan lupa di timing buat ngukur selama apa kita butuh waktu buat ngerjain satu passage. Kecepatan membaca ini harus dilatih, mendekati jadwal tes harusnya kita bisa selesai mengerjakan tepat waktu.

Nah supaya bisa begitu, latihan membaca bahasa iggris harus terus dilatih. Sisihkan waktu minimal 30-60 menit sehari untuk baca artikel bahasa inggris, bisa dari majalah, koran, atau buku-buku reading IELTS. Kemarin sembari les, tiap pagi, seusai sholat subuh, saya tidak lupa baca e-newspaper Jakarta post, selain ngelatih bahasa inggris juga untuk update informasi terkini. Menurut saya artikel Jakarta post memang ga seberat artikel IELTS, tapi lumayan lah buat pemanasan. Terus habis Jakarta post biasanya saya ngerjain PR reading dari tempat les. Kira-kira 60-90 menit lah alokasi latihan reading pagi-pagi. Ingat keahlian akan berbanding dengan jumlah latihan yang kita lakukan.

Oh iya ada smart tips buat reading dari kak Alex, dan sedikit dari saya. Untuk reading, karena ada 3 passage, carilah pessage yang paling mudah atau kita pahami. Setelah itu baca cepat pertanyaan di passage tersebut, garis bawahi kata kuncinya. Nah untuk membaca passage, baiknya bacanya jangan sekaligus satu passage, tapi per paragraf. Tiap baca satu paragraf langsung jawab beberapa pertanyaan yang dapat terjawab dengan paragraf itu. Kenapa per paragraf?. Karena umumnya bahan reading IELTS itu berat, jadi kalo dibaca semua langsung, sering banyak informasi yang lupa atau ga kita pahami dengan baik. So, kayaknya lebih baik kita baca perparagraf aja supaya ga ada informasi yang missed.

Ada beberapa buku referensi yang bisa kamu pakai. Paling utama adalah kumpulan soal IELTS tahun lalu dari Cambridge yang bisa di download di berbagai sumber di internet. Silahkan browsing sendiri ya. Lalu ada juga buku karangan Longman yang soalnya lumayan sulit tapi sangat berguna untuk prepare for the worst.

Kalau speaking tipsnya apa?

Pertama, kita harus tau peraturan dan marking criteria untuk IELTS Speaking Test. Kok ribet amat?. Bukannya ribet tapi ini dibuat supaya kita bisa menjawab sesuai dengan ekspektasi si penanya. Speaking IELTS itu ada 3 part, yang pertama tentang data diri kita, kedua tentang jawaban kita atas satu pertanyaan (short and common interaction), dimana kita diwajibkan menjawab pertanyaan dalam bentuk speech selama 2 menit (no interaction), dan ketiga tanya jawab beberapa pertanyaan tentang suatu kasus (long interaction). Poin penilaiannya biasanya antara lain adalah ketepatan jawaban (tidak out of topic), timing, kekayaan dan pemilihan kata, dan grammar.

Lalu latihannya sendiri bisa dilakukan dengan terus-terusan latihan ngomong bahasa inggris. Cerita lah ke temen-temen kalo kita lagi mau tes ielts dan karena itu butuh partner buat latihan speaking. Setelah ada partner teruslah cuap-cuap ngomong bahasa inggris, tapi jangan lupa, diantara partner yang kamu ajak ngomong, harus ada orang yang bisa menilai tata bahasa kamu. Selain itu kamu bisa nonton contoh dan tips tes speaking IELTS di youtube. Ada banyak sekali video yang berguna. Tips dari saya, untuk ngukur kelancaran speaking, kita bias kumpulkan pertanyaan-pertanyaan untuk IELTS speaking test dari berbagai sumber, setelah itu kita latihan menjawab soal-soal itu. Jawaban itu kita rekam dan kita timing. Setelah selesai menjawab pertanyaan, kita putar rekaman jawaban kita, dan kita evaluasi.

Nah, yang terakhir, Writing nih..

Honestly, this is the hardest part of IELTS test for me. Selain karena ga terlalu sering nulis, grammar saya pun ga gitu bagus, so.. I have big problem in this part. Walau writing saya cukup pas-pasan, ada beberapa hal yang ingin saya share. Intinya ada 2 part dalam tes writing. Part 1 writing sepanjang minimal 150 kata. Pada bagian ini kita disediakan sebuah gambar/grafik/tabel/map untuk kita jelaskan. Well, seems easy, but I alway doing this overtime. Kita cuma diberi 20 menit, dan harus mampu menentukan mana bagian yang akan kita gunakan sebeagai introduction, main paragraph, closing, dan conclusion. Tipsnya adalah pada tiga menit awal, buat kerangka tentang bagian-bagian tersebut, serta alokasikan waktu untuk proofreading di akhir (jumlah kata, grammar, konten, dll). Saran saya jangan menulis dibawah 150 kata ataupun terlalu banyak. Jika kita menulis dibawah yang disyaratkan, nilai kita bisa didiskon, because 150 is minimum brosis. Kalau kebanyakan, kita bisa kehabisan waktu. So, be wise!

Untuk part 2, kita diwajibkan membuat essay minimal 250 kata dalam waktu 40 menit, dan kita akan diberi suatu mosi yang menjadi landasan pembuatan essay kita. Lebih susah mana sama part 1?. Ya tergantung soalnya sih. Kalo kosakatanya mudah dan kita punya banyak pengetahuan tentang topic itu pasti lebih gampang bikin essay. Kalo kosakatanya kita ga tau ya wassalam, silahkan mereka-reka, semoga nilainya juga ga direka-reka yah hehe. Tips dari saya sebelum menulis, bikin kerangka tulisan dulu. Apa yang mau kita tulis untuk pembukaan, inti, penutup, dan apa kesimpulannya. Tipe soalnya berbeda-beda, ada yang tentang sebuah perdebatan dimana kita harus memberi pendapat kita (lebih baik A atau B) ada sebuah pandangan dan kita harus kasih pendapat apa kita setuju atau tidak, dan lain-lain. Sarannya, banyak latihan nulis bahasa inggris. Kalau udah ngumpulin soal-soal writing IELTS coba dikerjakan dalam waktu yang ditentukan, dan diperiksa. Jangan lupa minta orang lain yang jago bahasa inggris untuk memeriksa tulisan kita. Ada beberapa poin penilaian, yang saya ingat, antara lain ; timing, ketepatan jawaban, pemilihan kata, hubungan antar kalimat dan pafagraf, dan grammar. Jadi ga cuma jawaban kita bener atau ga, tapi gimana tulisan kita tepat menjawab pertanyaan, menarik, dan enak dibaca.

 

So, enjoy IELTS 🙂

Pengalaman Seleksi Beasiswa LPDP

Banyaknya refensi online (khususnya blog) yang saya baca mengenai topik ini, dan hal itu membantu saya dalam mempersiapkan diri saya mengikuti seleksi beasiswa ini.

Setelah melewati beberapa proses seleksi, Alhamdulillah, hari Selasa tanggal 10 Maret 2015 saya dinyatakan lolos mendapatkan beasiswa ini. So, tulisan ini saya tulis untuk meramaikan referensi mengenai judul diatas. Semoga dapat membantu.

Karena judulnya ‘pengalaman’, saya akan fokus ke kronologis kejadian yang saya alami, dan semoga ada beberapa tips yang dapat dipetik, hehe.

Pertama kali saya mendengar nama ‘LPDP’ adalah ketika saya bimbingan revisian dengan seorang dosen penguji yang saat itu kabarnya akan melanjutkan studi S3 di Inggris, beliau akrab di sapa ibu Siska. Saya yang memang tertarik lanjut kuliah ke Negeri ratu Elizabeth tersebut langsung semangat menanyakan berbagai hal agar dapat kuliah disana. Beliau langsung menyebut LPDP sebagai lembaga pendanaan pendidikan tinggi. “Kamu ikut aja seleksi beasiswa LPDP. Kuotanya banyak, insyaallah  lolos”. Saat itu, kepercayaan yang dilontarkan dari dosen yang saya kagumi tersebut langsung membuncahkan semangat yang menggebu-gebu, dan praktis membuat saya cari-cari informasi mengenai beasiswa ini, secara offline dan online.

Pertama-tama yang saya lakukan adalah mencari informasi mengenai deadline seleksi, persyaratan seleksi, dan tahapan seleksi. Semua ini dapat diakses secara lengkap di web official lpdp, yang bisa diakses di : lpdp.depkeu.go.id. Biasanya ada empat periode seleksi dalam setahun. Saya mengikuti periode pertama tahun 2015. Tahapannya dimulai dari seleksi dokumen, LGD dan Interview, dan akirnya pengumuman. Dokumen yang perlu saya persiapkan adalah : ijasah, transkip nilai, sertifikat toefl/ielts, dan 3 tiga essay dengan tema yang ditentukan oleh LPDP.

Beberapa sumber mungkin menyebutkan bahwa kita ‘harus’ memiliki LoA (Letter of Acceptance dari univertsitas tujuan) untuk mendaftar beasiswa ini, ada juga yang menyebutkan bahwa LoA tidak wajib namun dapat meningkatkan kemungkinan kita untuk lolos seleksi beasiswa ini. Well, pendapat pertama menurut saya tidak benar, karena dalam pedoman resmi pendaftaran beasiswa dari LPDP, LoA ini tidak tertulis dalam daftar dokumen wajib yang harus di-submit. Pendapat kedua menurut saya debatable, karena saya sendiri saat mendaftar tidak mengupload LoA yang sebenarnya sudah saya miliki, tapi ketika saya di-interview, saya menyerahkannya karena interviewer memang menanyakan dan meminta LoA tersebut (detailnya akan saya jelaskan nanti). Intinya, ga ada kewajiban untuk dapat LoA dulu. Selama kamu memenuhi persyaratan yang sudah dituliskan di buku pedoman dan punya kapabilitas untuk menjadi awardee LPDP, jangan terlalu risau tentang LoA, ikuti buku pedoman yang ada di website LPDP.

Ada tiga essay yang harus dibuat dengan tema yang berbeda-beda. Sukses terbesar dalam hidupku, rencana studi, dan peranku bagi Indonesia. Jangan takut dalam menulis essay tersebut. Jadilah diri sendiri dan tuliskan apa adanya. Jangan mengarang-ngarang atau berbohong karena essay ini biasanya dijadikan bahan interviewer untuk bertanya kepada kita saat seleksi wawancara. Melihat essay karangan teman boleh, tapi jangan jadikan itu sebagai 100% acuan kita, karena percayalah, lebih enak menulis dengan gaya dan bahasa kita sendiri.

Begitu lolos seleksi dokumen, panitia langsung mengirimkan email pada saya, serta mengirim undangan untuk LGD dan interview. Ada yang mendapat jadwal LGD lebih dulu baru interview, ada yang sebaliknya. Ada yang LGD dan interviewnya dalam satu hari, ada yang dapat dalam hari yang berbeda. Saya mendapat jadwal LGD duluan, lalu keesokan harinya baru interview. Begitu mendapat jadwal tersebut, saya yang memilih tes di Bandung segera mengontak teman-teman yang tinggal di sekitar tempat tes. Tes dilakukan di gedung Magister Manajemen UNPAD dan peserta diwajibkan datang pukul 7.30 pagi. Alhamdulillah berkat informasi dari seorang junior, Titi, saya bisa menginap di kos teh Vanda yang hanya berjarak +/- 300 meter dari lokasi (Terimakasih banyak adek dan teteh!).

Berdasarkan tips dari Ica, salah satu Awardee beasiswa LPDP, sebaiknya sewaktu menunggu jadwal kita interview atau LGD, kita mengobrol dengan para peserta untuk mecairkan suasana. Selain itu hal ini tentu saja sangat berguna untuk mengenal orang-orang yang sekelompok dengan kita saat LGD, agar saat LGD, kita sudah luwes berkomunikasi satu sama lain. Berbekal mempraktikan hal itu, Alhamdulillah saya tidak nervous selama LGD berlangsung.

Saat itu kasus yang diangkat dalam LGD di kelompok saya adalah kasus Freeport. Terus terang, saya kurang tahu mengenai berita ini. Karena akhir-akhir itu yang saya tonton di TV adalah kasus eksekusi mati Bandar narkoba, kisruh kebijakan harga BBM yang tidak stabil, dan pengangkatan BG sebagai kapolri. Berusaha tenang, akhirnya saya sadar bahwa artikel yang disuguhkan saat itu sudah memuat informasi yang saya butuhkan. So, jangan panic, baca artikel baik-baik. LGD sendiri kepanjangan dari Leaderless Group Discussion, artinya dalam diskusi ini kita tidak boleh mendominasi, tapi walaupun begitu, kita harus aktif. Saya saat itu mendikte dalam hati agar jangan takut mengemukakan pendapat, serta menghargai pendapat orang lain sebagaimana saya ingin pendapat saya dihargai orang. 40 menit pun berlalu, Alhamdulillah.

Hari berikutnya, saya berangkat jam 8.30 pagi karena saya dapat jadwal wawancara jam 9. Berbekal membaca blog-blog mengenai interview LPDP, saya agak PD dengan wawancara ini. Sama seperti kemarin saat tes LGD, sebelum interview saya aktif mengobrol dengan para peserta untuk mencairkan suasana. Begitu nama saya dipanggil, saya masuk dalam ruangan dan diinterview oleh 3 orang. Sepertinya 2 orang akademisi, dan 1 orang psikolog. Mereka sangat ramah, lebih ramah dari ekspektasi saya yang sudah diberitahu Ica bahwa interviewer LPDP itu ramah. Well, tidak semua sih, tergantung luck juga. Setelah perkenalan singkat, interview pun dimulai. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut

  1. Please tell us about yourself?
  2. Why do you choose this country?
  3. Why do you choose this university and this course?
  4. So you currently help your father business, what kind of business is it? How much is the income? What do you want to do with this business in the next 5 years?. (dilanjut pake bahasa Indonesia). Mau ga punya usaha pertanian sendiri?. Dan seterusnya..
  5. Kamu nulis kalau kamu mau jadi dosen, kenapa?
  6. Kalau kamu harus pilih antara jadi dosen atau entrepreneur kamu pilih yang mana?
  7. Pernah keluar negeri ga?
  8. Persiapannya apa aja?
  9. Apa yang bakal kamu persiapkan untuk kuliah S2 di luar negeri yang bener-bener beda keadaannya sama Indonesia?
  10. Coba ceritain masalah terbesar dalam hidup kamu. (ini soal psikologis banget deh)
  11. Udah punya LoA belum?

Nah, pertanyaan ke-11 ini sebenernya membuat saya bingung. Honestly saya udah punya LoA dari UNSW. Tapi sebenernya waktu itu saya daftar UNSW cuma untuk cadangan, karena saya pengennya ke Inggris. Tapi yaudahlah saya kasih saja sambil saya ceritakan keadaan yang sebenarnya. Setelah itu interviewer bertanya pada saya “LoAnya boleh kita ambil kan?”. “Silahkan pak, saya masih ada softcopynya dari email yang dikirim kampus”.

Diambilnya LoA oleh interviewer itu membuat saya sempat kepedean akan lolos tes beasiswa, soalnya ga lucu kan kalau LoAnya cuma diminta buat bungkus kacang. Tapi sifat sombong itu adalah sifat setan, optimis boleh tapi Allah yang maha berkehendak. Saya tetep memohon pada Allah semoga saya dapat keptusan yang terbaik. Dari pengalaman itu, bisa disimpulkan, mungkin LoA memang bisa menambah poin kemungkinan agar kita lolos seleksi. Tapi ya tidak sepenuhnya menjamin.

Kita semua hanya bisa berusaha, karena itu berusahalah dengan maksimal. Sama maksimalnya dengan berdoa. Jangan lupa juga minta doa sama kedua orang tua dan orang-orang terdekat, semakin banyak yang mendoakan, insyaallah semakin cepat diijabah. Goodluck!

 

Sydney Lesson 01 : Building and Keeping Silaturahmi

Starting from now, i will blogging in English. I understand my English is still really bad, but i will try to deliver my story to you with a language that i will use in the next one and a half year. I hope you understand what i am talking about :).

It is almost two weeks i stay in Sydney. There are good and bad things happened, and i want to make them all as my learning. However, one point that most knock me off is, live far away from my family and my friends make me start to feel how much i need them. In the place that i don’t know about the culture and social life, i try hard to understand my surrounding and place my self in appropriate way without throw my true culture and identity. It is really hard, even i have stayed here two weeks. People speak English really fast with accent that i am not familiar, and also, they seen having difficulties to understand what am i talking, whether it because of my bad grammar or my accent, i don’t know.

However, that language problem doesn’t make me stressful as i have it in my academic activities. I often miss some points of the lecturers and seminars as i can’t hear what lecture say. I just remember, how easy i ace my problem in my Undergraduate when i have friend beside me. Ihdal, Karin, Sarah, Fitri (Alm). I just simply ask help from them.. ‘I don’t understand’, ‘lets study together’. We keep doing that almost until we finished our degree and get satisfied result because of that. As the most ‘Galau’ member of the team, i often confide what inside my head and my heart to them, laugh and cry together sharing our life. I also remember GAMUS and SEARCH Family, which i got several best friend that really opens many opportunities to me, such as to increase my emotional skill in facing problem, teaching me how to master and win national and international debate and paper competition, introduce me to a lot of new place and new experience. I can’t name them one buy one, but  i indebted some part of my life to them. Utari, Btari, Nadia, is my cutest briliant junior that help me so much to find potency in myself, So as Himsa and Feni, whom i learn much to keep positive mind and keep on the ‘true track’,  also my senior, kang ubim, kang azmi, teh marhen, kang bagus.. So many people i have to name it.

I grateful for not really alone here. I have friends from LPDP that really save me from homesick as we often spend our time together, and i have my room mates, Bela whom i spent most of my time in this one week.  Yet still i can’t make friends as easy as in My country because of language barrier.

There is Africa Proverbs I remember “I you want go far, go together. If you want go fast, go Alone”. However for me, go together will help me whether to go far or fast.

So, silaturahmi, which you can say  ‘relationship’ or ‘togetherness’ will help us to face our problems, also to reach something we never imagined if we smart enough to filter it.

I also have ever read a hadist say

“There are two people who their pray will be granted by God. They who walk to do worship, and they who walk for silaturahmi”

So, do not break Silaturahmi 🙂

Future : The Ideal or The Prospective?

Hello.. It has been long time I didn’t open this online press. Sometimes real life just so exhausting as it took the time offhand. So this is the first time I come back again after one or two semesters. Nice to see you again J

Very reasonable for every people in around 20 years old to over think what they want to be, what job they will choose, what is kind of life they want, and so on. That is called contemplation of metamorphose progress. It’s because there are so many choices they have, yet lack of probability calculation as future keeps great secret for everyone.

To make simple of the whole choices we have, let’s divide it into two types, Ideal future, or prospective future. Can we have both? Yes, but sometimes reality just too fierce to gives us that kind of opportunity. Let’s talk about the ideal future first, what is it actually? Ideal future is the future that every people in this world dream of. So if we are in the last semester and we must move from our soft college seat, then we have to get the job as soon as possible after our graduation, meet our ideal boy/girl that has beautiful face, fine body, wealthy, smart and come from honored family. Then we will work maximum five years to be promoted to be manager, buy a car and pay off our home and so on. That sounds really exhilarate and most people just want that. But do you know, what cost we must pay for this option? There is no number to answer this, but obviously we must make our self ready to fight and win, whatever we face in front of us. So, how do if we lose? Lose means not an ideal, to make it ideal you must win no matter the consequences, and that’s why sometimes people just do the crime innocently and willingly to keep their life ideal. Corruption, collusion, nepotism, you name it.

And what about the prospective future is? It’s the future that not many people willing to have, but you believe it will make us charmed in long run. So in the last semester we are not affected by others judging of what our future should be. We are out of those stereotypes and choose our own future. We don’t make your plan in a hurry to join job fair and hunt a job. We are not marrying the sexiest and richest girl in our hometown, and sometime people just underrate our future. In fact, we can’t agree more that in the success, there must contained happiness. If you have small business, you are not persuaded to leave your business for $1000USD / month salary. You stick at your business because you believe of its prospect. If you have group band, you stand at it even when you got critics from so many parties as it doesn’t give you fix income at all. But that is the prospective one!

Finally we agree the differentiation between those is about who the driver is. Is it other people or yourself? Surely it’s very hard to have two drivers in vehicle, but it depends what kind of vehicle is it actually. So which one do you choose? I prefer the prospective one. Sometimes others will disparage our choice, but it’s very pleased when we can show that our choice is not the bad as hell.