Working as A Consultant

Actually working as consultant is not my dream. When I was in Bachelor degree, I was motivated to be a lecturer because the influence of my undergraduate thesis supervisor. That is why I applied directly to a Master degree right after I finished my undergraduate degree.

However, in last semester of my master degree, I was in a group with an Australian who worked in a world leading IT Consulting company. Turns out this changed my mind. After a few conversation I though being a consultant is a very worthy experience. Then when I almost graduated I decide to apply to company she works for, but in my country branch (since I studied with my government scholarship and I need to go back to my country). Not so long  after that, I got contacted to do selection process, and I was accepted. This is the very first company I applied after I graduated and also my very first job offer.

So in a short, currently I have been working for almost two years. There are a lot of learning that shaped me in my professional journey. The big 5 learning that I got in consulting industry are:

 

1. Scheduling my own work

In most cases, there is no detail job description to do so. Consultant need to be able to find a problem and solve it. As a consultant that focus in technology, I guess my job is a bit more clear rather than they who work in strategy and management consulting. But still, it is up to my choice how I solve a problem. For example in a specified time period the job will be like ‘Gathering list of business requirement’.  However, there is no checklist how to do so. This kind of abstract thing need to be broken down that allow me to work in an effective and efficient way. Such as put a time frame to do my own research, set meeting with client, discussing with the team, and analyze & form a conclusion.

 

2. Be Logical

This part is very important to work as a consultant. Especially in terms of breaking down a piece of problem and solving it. For example breaking down list of client’s requirement which is a mandatory and which is just a nice to have, breaking down problem which has obvious answer and which is not, also spotting what information is missing and how to get that. This logical mindset will help in deciding which work I need to prioritize.

 

3. To check credibility of every information

My current supervisor always told me “Do not directly trust an information, even if it is from me. Check and validate it first”. Because basically a consultant is someone that client trusts to solve their problem. So, I will take charge of whatever I said. Also even if the information comes from client itself, I need to validate it. Does not mean I do not believe that they are honest enough. However sometimes they themselves haven’t validate their statement. So to come with the right conclusion, beside having a right logic as a ‘tool’ I also need to ensure that all data and information I have is accurate.

 

4. To believe in what I stand for

When finally come up with the answer after my journey using right logical method method to analyze accurate & complete data, client will ask for a guarantee if it is the best option that they have. For example they may challenge me by giving a B, C, or D scenario and check if the solution still can fit well. This can be tricky, because sometimes the scenario itself probably cannot be measured well (both in quantitative and qualitative way). So before going to that discussion battle, I also need to think the potential response and how I can stand in my position. It does not mean I close my eyes to any probability that might happened, since being open to new information is not the same as being doubtful. The point is, having a confidence in my voice is one of important aspect as a consultant. If I am unsure, how about them?

 

5. Have fun

Consulting job mostly is very tiring. It is definitely not an 8 hours work. Sometimes it is 12 hours, sometimes more than that. It also could be very stressful especially in dealing with difficult client. So having an enjoyable working team is a must. Usually we try to find topic that is quite light and funny in the middle of working break, such as online shopping promotion or talking about entertainment news which allow us to laugh and refreshed a bit. In a routine, my project team have once a month fine dining in best restaurants in Jakarta which is already allocated in our project budget. That is quite costly but at least we can forget about our work a bit and enjoy the free time.

 

So I could say that I deviate a bit from my initial dream, but does not mean I forget that. I am always passionate in teaching & researching, and I am looking ahead for that opportunity in the future. I think my experience could add more practical value in education field.

 

Rezekimu tidak akan tertukar – Muhasabah HP Hilang di Sydney

Pada postingan kali ini penulis ingin sedikit share tentang pengalaman penulis di Sydney. Dari pengalaman tersebut penulis banyak sekali dapat pembelajaran. Salah satunya adalah agar selalu ikhlas dan berbaik sangka pada keputusan Allah.

Baiklah, silahkan disimak kisahnya.

Pagi itu langit cerah di Kensington, Sydney. Tugas essay dan laporan masih menumpuk. Tapi karena hari itu tidak ada jadwal kuliah, rasanya sayang jika seharian itu hanya dihabiskan untuk mengerjakan tugas. Penulis yang berprinsi work hard – refreshing hard pun ingin mencari kegiatan untuk menyegarkan pikiran. Kebetulan sekali, seusai mandi dan membereskan kamar tidur, watsapp chat dari salah satu teman di kampus yang mengajak untuk refreshing.

Mba Ika: ‘Ning ga mau jalan kemana gitu?’

Aku pun langsung membalas

Aku: ‘Mau doong. Mba Ika mau kemana?’

Mba Ika: ‘Pengen refreshing gitu ning. Ketemu dulu yuk depan kampus?’

Aku: ‘Ayuk! Sekarang?’

Mba Ika: ‘Boleh kalo kamu udah rapih.

Akhirnya akupun bergegas ke kampus. Jarak dari dorm tempat aku menetap ke kampus sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya 1.7 km, dan fasilitas pedestrian sudah sangat bagus. Hanya saja karena alasan ‘Energy Saving Mode’ malas akhirnya aku memutuskan naik bus dengan tarif sekitar 2.3AUD, wkwkk.

Sesampainya di depan kampus, bertemu mba Ika dan cepika-cepiki, akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Coogee Beach. Saat itu aku membawa tas ransel kuliah, lengkap dengan laptop dan buku catatan. Ya kalau-kalau ternyata tamasya + belajar bareng.

Karena Weekday dan masih pagi, Coogee beach lumayan sepi. Langit biru membentang. Pemandangan laut diselingi pemandangan rerumputan dan pohon pinus hijau asri di sepanjang tepi pantai menjadikan Cooge beach menjadi salah satu destinasi tadabur alam yang sangat indah. Apalagi udara musim semi yang hangat bersahabat. Membuat pantai ini seperti surga mini versi dunia. Namun hati-hati kalau berangkat kesini agak sore. Harus siap-siap dengan pemandangan bule-bule berbikini. Jadi harus sering-sering beristighfar!.

Aku dan mba Ika yang belum sarapan akhirnya membeli Fish and Chips yang ada di sekitaran Coogee Beach. Aku membeli Salmon, Mba Ika membeli Ikan dori dengan bumbu yang pada umumnya digunakan untuk Fish & Chips di Australia. Salt and Pepper!. Kalo kata ibuku setiap makan masakan Ausi ‘Iki ora iso masak blas!”. Tapi ya lidah kami sudah terbiasa dengan bumbu alakadarnya begitu. Seusai sarapan (yang proper dan menguras kantong), kami menyisiri Coogee Beach sembari menceritakan pengalaman yang terjadi akhir-akhir itu. Berada ditempat perantauan, jauh dari keluarga dan hidup bersama orang-orang dengan budaya yang asing, membuatku sering merasa homesick, sehingga bertemu dan bercengkerama dengan teman dari satu tanah air membuatku merasa feels like a home.  Kami terus berjalan hingga memanjat tangga pada tebing Coogee Beach dan melewati taman yang terdapat diatas pantai.

Saat kami singgah di taman, waktu sudah menunjukan adzan dzuhur. Karena di Coogee tidak ada masjid atau musholla, akhirnya kami shalat diatas rerumputan yang ada di taman. Memang tidak mudah untuk melakukan sholat 5 waktu secara konsisten di Negara non-muslim. Terkadang ada beberapa kawan ketika aku mengajak untuk shalat di saat-saat sulit seperti ini enggan. ‘Ribet ah, nanti aja’. Namun ternyata sudah terlewat tiga waktu shalat sehingga tidak dapat dijamak. Karena itu, mencari teman yang memiliki semangat beribadah yang sama sangatlah penting. Bukan berarti menutup pergaulan. Namun, kita harus memiliki teman yang saling menguatkan untuk senantiasa menjaga kewajiban. Beberapa orang lalu lalang. Meskipun kami sudah mencari tempat yang agak terpencil tetap saja karena itu area umum, orang-orang masih melintasi area yang kami jadikan tempat shalat.

Seusai shalat, Mba Ika ingin membeli sepatu di Westfield East Garden. Akhirnya, kamipun ke Mall tersebut menggunakan bus. Di dalam bus itu aku bercerita pada mba Ika tentang keponakanku yang sedang lucu-lucunya sembari menunjukan foto mereka yang ada di hapeku. Mba Ika pun kemudian menceritakan anaknya. Rasanya dunia anak kecil memang selalu menarik diperbincangkan, seperti membahas karakter mereka yang beraneka ragam dan cara didik yang tepat untuk setiap anak.

Sesampainya di tujuan, kami turun dan berjalan ke arah toko sepatu. Cukup lama kami mencoba berbagai macam sepatu, pindah dari satu toko ke toko lain. Sampai akhirnya, aku ingat bahwa aku harus mengabarkan temanku perihal kerja kelompok esok hari. Kurogoh saku jaketku. Tidak ada apapun. Kurogoh saku celana. Kosong. Lalu sembari panik aku membuka tas, mengeluarkan semua yang ada di dalamnya. Sampai mba Ika heran.

Mba Ika: “Kenapa ning?”

Aku: “Kayaknya hapeku ketinggalan mba” Jawabku panik

Mba Ika: “Waduh. Kok bisa? Dimana?”

Aku: “Hmm aku yakin di bis mba. Tadi terakhir aku nunjukin foto ponakanku di bis ke Mba Ika. Kemungkinan pas aku mau masukin ke jaket, merusut, malah jatoh”

Mba Ika: Mungkin ga jatoh setelah turun di bis?

Aku : Kecil banget kemungkinannya soalnya kantong jaketku lumayan dalem. Ga akan jatoh kalo ga diapa-apain. Aduh mana aku belum ngaktifin Find My Iphone lagi. Hmm.. boleh miscall-in hapeku ga mba?

Mba Ika: Kan batre hapeku habis ning dari tadi

Aku: Oh iya. Waduuh. Mesti minta tolong orang.

Tapi karena tidak enak minta tolong orang tidak dikenal di Mall itu, akhirnya aku memutuskan untuk ke kantor polisi. Sekalian melapor, siapa tahu bisa minta tolong miscall. Kamipun ke kantor polisi yang ada di Maroubra. Setelah mengisi formulir yang berisikan kolom identitas dan isu, aku mendatangi meja registrasi

“How can I help you?” Tanya polisi laki-laki berparas Asia yang masih belum terlalu tua berbaju polisi

“I would like to make report that I lost my phone” Jawabku dengan Nada agak panik

“Oh I am sorry to hear that.. I will help you to make a report so if someone find it, we can give it to you. So tell me how is that happened?”

“Sure..” Lalu kuceritakan kronologisnya.

“Alright, so you lost it in the bus from Coogee to East Garden. It will be really great if you still remember the plat number of the bus. But that is fine. Hopefully someone who find it will keep it and give it back to you”

“I hope so”

Akhirnya, laporanpun jadi. Polisi tersebut memberiku semacam tiket untuk ditukarkan kalau-kalau ada yang menemukan handphoneku. Lalu aku bertanya pada polisi tersebut

“Actually I hope I can call my phone. But unluckily my friend’s phone battery is run out” Ujarku dengan wajah memelas

“Oh, we can help you to call it, please bear a moment” Jawabnya ramah, kemudian dia menelfon berbekal dengan nomer handphone yang ku tulis di formulir dengan telefon yang ada diatas mejanya. Setelah 2X ia mencoba menelfon ia pun berkata dengan wajah kecewa

“It is still contactable, but there is no answer. I think no one find it yet” Ujarnya

“Oh okay” Jawabku lemas

“I am really sorry. This is all I can do to help you. I really wish you will get your phone back soon” Polisi tersebut menenangkan

“No worries at all! Thanks a lot for your help!” Jawabku sembari teresenyum, berusaha untuk tegar.

Aku dan Mba Ika pun pulang. Aku berfikir kemana kami harus pergi. Rasanya aku belum puas mencoba untuk menghubungi handphoneku. Akhirnya kuputuskan untuk meminta bantuan orang lain untuk menelfonnya. Lalu akhirnya orang yang pertama kudatangi adalah Oya, salah satu teman LPDP ku yang tempat tinggalnya tidak jauh dari dormku. Tadinya mau minta tolong ke Joanne, teman sebelah kamarku yang berasal dari Hongkong. Namun mengingat Joanne biasanya baru kembali ke kos petang atau malam, lebih baik ke tempat Oya dulu.

Akhirnya kami tiba di apartemen Oya.

Di depan gedung apartemen Oya, kami menekan nomor apartemen Oya dari bel tamu. Dari speaker terdengar suara laki-laki menanyakan identitas kami.

“Siapa?” Tanyanya

“Haning. Temennya Oya”. Lalu diapun segera membukakan pintu gedung.

Setelah sampai ke ruang apartemen Oya, kami langsung masuk karena pintu tidak terkunci. Disana ada laki-laki tidak yang tidak kami kenal sedang menatapi laptopnya. Dia tidak menyapa atau menegur kami. Dengan segera aku bertanya

“Oyanya ada?” Tanyaku

“Ga ada. Oyanya ke kampus” Jawabnya singkat dan agak dingin.

Aku pun bertanya lebih lanjut, tak peduli responnya akan seperti apa

“Boleh minta tolong bilangin oya ga kalo ada temennya di apartemen?” pintaku

Dia segera menatap dengan bingung agak kesal.

“Kenapa ga tanya sendiri?” Tanyanya ketus

“Nah itu dia. Aku baru kehilangan handphone. Aku mau minta tolong Oya buat miscall hapeku. Soalnya hape temenku juga habis batrenya” Jawabku sembari menunjuk Mba Ika.

Dia pun terdiam sejenak dan kemudian menelfon Oya dengan di loudspeaker melalui handphonenya.

“Oya ini ada temennya di apartemen” katanya seketika Oya menjawab panggilan

“Siapa?” Tanya Oya

“Halo Oy ini Haning..” Aku langsung menyahut. Akupun menjelaskan apa yang terjadi secara singkat dan meminta bantuan Oya untuk menelfon handphoneku.

“Oke ini langsung ku telfonin ya” Jawab Oya. Kemudian ia mematikan panggilan.

Kami pun terdiam dengan suasana sangat garing bersama laki-laki tidak dikenal yang tidak bersahabat menunggu kabar dari Oya. Sekitar 3 menit kemudian Oya menelfon. Kemudian laki-laki tersebut mengangkat dan me-loudspeaker.

“Haning. Hapenya nyambung tapi ga ada yang angkat” Ujar Oya

“Yaah.. apa belum ada yang nemuin kali ya” Ujarku

“Iya mungkin. Nanti aku telfon lagi deh ning”

“Oke Oy. Makasih banyak ya!”

Setelah itu aku dan Mba Ika pun berjalan ke dormku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari apartemen Oya. Ya munkin hanya 700 meter. Sesampainya di dorm. Aku langsung ke kamar menaruh barang kemudian mengetuk pintu kamar Joanne. Ternyata Joanne ada di kamarnya. Akupun langsung memintanya menelfon handphoneku. Namun hasilnya sama, tidak ada jawaban. Aku kembali ke kamarku dengan lemas. Mba Ika kelihatan ikut bersedih.

“Udah ning. Kalo rezeki ga kemana” Ujarnya menenangkan

“Iya ya mba” Jawabku lesu

Aku tidak bisa membayangkan jika hp ku tak kembali. Bukan hanya nominalnya, namun isi  didalamnya. Contact, foto, akun bank. Semua belum di backup. Dan jika ada orang yang jahil bisa-bisa akun bank ku dibobol.

“Mungkin ada yang salah dari aku mba. Teguran dari Allah ini. Allah ngambil salah satu benda terpenting yang aku punya. Mungkin aku kurang amal. Atau mungkin aku ada dosa yang aku lakuin dan Allah pengen negur aku” Ujarku sembari merenung

“Sabar ning. Berdoa terus aja”

“Iya mba aku mau shalat taubat dulu aja mba, minta ampunan” Ujarku. Akupun wudhu dan shalat taubat 2 rakaat. Semoga jika Allah mau menegurku, aku selalu bisa menghadapinya dengan ikhlas. Dan jika memang Allah masih mengizinkan hp itu menjadi milikku, semoga handphone tersebut lekas kembali.

Jam sudah menunjukan sekitar 3.30 sore. Aku masih merenung meratapi nasib handphoneku yang sampai saat itu belum ada kabar. Aku juga merasa bersalah karena mba Ika tidak jadi membeli sepatu karena sibuk menemaniku mencari handphone. Sembari terus beristighfar dalam hati aku membuka laptop. Aku berusaha mencari tahu bagaimana cara penanganan I-phone hilang, seperti mendelete data-data merestore data-data di hape baru kelak. Dan ternyata ada caranya. Alhamdulillah. Minimal hilangnya hape tersebut tidak mendatangkan masalah yang lebih besar.

Sebenarnya setelah shalat taubat aku sudah setengah mengikhlaskan handphoneku tersebut. Memang berat. Namun menyesali apa yang sudah terjadi malah akan memeperparah masalah. Setelah membuat catatan untuk proses penanganan i-phone yang hilang tersebut, aku iseng membuka facebook. Ternyata ada inbox dari Oya.

‘Haning’ Tulisnya.

Akupun segera membalasnya

Aku: ‘Iya oy?’

Oya: ‘Barusan aku dapet telfon. Hape kamu ditemuin orang di bus’

Seketika mataku langsung terbelalak. Mulutku tanpa sadar terbuka lebar. Mba Ika pun heran

“Kenapa ning?” Tanya Mba Ika

“Ada chat dari Oya, katanya hapeku ketemu!”

“Wah!! Alhamdulillah!!” Mba Ika ikut senang.

Lalu aku melajutkan chat ke Oya

Aku: ‘Wah! Alhamdulillah! Siapa yang nemuin oy??’

Oya: ‘Sekarang hapenya ada di supir bis. Tadi dia bilang ada penumpang nemu handphone. Terus dikasihin ke dia. Tapi karena dia lagi nyetir dia ga bisa angkat telp. Baru bisa telp sekarang pas lagi break’

Aku: ‘Alhamdulillaaaah!’ Ujarku senang bukan main. ‘Terus aku ngambilnya gimana oy?’tanyaku

Oya: ‘Dia bilang, dia bakal ngelewatin Kensington pake Bus 392. Sekitar jam 4.15 sampe jam 4.30. Kamu tunggu aja di halte bus yang di Duke street. Nanti aku bilangin‘

Aku: ‘Waah oke deh! Aku kesana abis shalat Ashar’

Oya: ‘Siip. Semoga bisa ketemu ya’

Dadaku berdegup kencang. Aku benar-benar senang dan bersyukur Allah masih mengizinkan handphone tersebut menjadi rezekiku. Sudah lama aku tidak merasakan senang sampai seperti ini. Setelah Shalat Ashar aku dan Mba Ika berjalan kearah Halte Duke Street, Kensington. Sembari terus bertahmid aku menunggu bis tersebut. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Setelah menunggu sekitar 15 menit, bus 392 lewat. Kutatap wajah supirnya. Ternyata itu memang supir dari bis yang kami naiki dari Coogee Beach. Akupun langsung masuk dengan sumringah.

“Hi, I am Haning, the one who lost my iphone. My friend told me that someone found and gave it to you?” Tanyaku to the point

“Oh? yes!. I am sorry. I was driving the bus so I couldn’t pick up the phone directly when your friend was calling” Jawabnya ramah

“It is ok. Thanks for calling my friend back”

“No worries. This is the phone.. and.. If you are the owner, you know the password of this phone right?” Tanyanya sembari mengeluarkan handphoneku dari sakunya dan menekan tombol Home sehingga layar handphoku menyala, meminta password untuk membukanya

“Sure! The password is my fingerprint” Ujarku sembari meletakkan jempolku di tombol Home. Dan lock screen pun terbuka.

“Ah great! So that is yours. Next time please be more careful of your belonging!” Ia menasehatiku dengan ramah

“Thanks. I will!. Have a good day, Sir!” Jawabku senyum.

Hari itu benar-benar salah satu hari dramatis yang pernah kulalui. Pada hari itu Allah mengujiku dengan perasaan sedih dan depresi. Tapi pada hari itu juga Allah membalik hatiku. Ia membuatku sangat bahagia ketika aku berhasil mendapatkan handphoneku kembali. Aku pun merenungi kejadian itu. Banyak sekali yang dapat kujadikan pelajaran. Pelajaran pertama, jika Allah sudah menentukan bahwa sesuatu adalah rezeki kita maka tidak akan kemana. Jadi tidak usah khawatir. Seperti yang termuat dalam QS. Al Isra’: 30

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.

Kedua, untuk mendapatkan rezeki tersebut, kita harus berdoa dan berikhtiar. Kita tidak tahu ikhtiar dan doa mana yang akan Allah ijabah, namun kewajiban kita adalah tidak berhenti memohon. Jika aku hanya kembali ke dorm tanpa berusaha untuk minta tolong Oya untuk miscall, mungkin ceritanya akan berbeda. Hal ini yang tertulis dalam surat An-Najm

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ . وَأَنَّ سَعْيَهُۥ سَوْفَ يُرَىٰ . ثُمَّ يُجْزَىٰهُ ٱلْجَزَآءَ ٱلْأَوْفَىٰ . وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلْمُنتَهَىٰ

Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya (39). Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya) (40). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna(41). Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu) (42)

Kenapa harus berdoa juga?. Karena usaha tanpa doa adalah sombong. Dan Doa tanpa usaha adalah malas.

Karena itu, jangan pernah lelah meminta pada Allah dan berikhtiar. Jika sesuatu itu baik maka Allah tidak mungkin tidak memberikannya untuk kita. Jika Allah tidak memberikan saat ini mungkin Allah punya pengganti yang lebih baik atau Allah masih ingin kita berdoa dan berikhtiar. Intinya, yang ketiga, pastikah bahwa niat kita selalu baik dalam berbuat apapun. Maksudnya baik adalah dengan meniatkan segala sesuatu untuk Allah. Mencari pekerjaan, mencari teman atau mencari jodoh. Karena jika tujuannya hanya duniawi semata, seperti ingin bekerja supaya jadi orang terkaya di dunia,  ketika target tersebut tidak tercapai, hancur sudah hidup kita. Tiba-tiba hilang arah, entah harus melangkah kemana. Jika tujuannya Allah insyaAllah kita akan selalu ikhlas menerima keputusanNya dan hidup akan menjadi lebih berkah. Jika memang yang kita perjuangkan tidak baik, tinggalkanlah. InsyaAllah Allah akan memberi ganti yang lebih baik. Karena Allah berjanji:

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih)

Dan yang terakhir, teruslah berbaik sangka pada keputusan Allah. Saat handphone penulis hilang, kemungkinan untuk su’udzon kepada Allah sangatlah besar. Karena kadang kita tidak tahu bahwa Allah sedang menguji kita. Kita sering berfikir bahwa kekayaan, kecantikan, dan kesehatan adalah sebuah bukti bahwa Allah sayang pada mahluknya, dan kemiskinan, kejelekan, dan sakit berarti Allah tidak sayang. Padahal tidak seperti itu. Keduanya adalah ujian. Yang dinilai Allah adalah bagaimana cara kita menyikapinya. Masihkah kita mengingat hak Allah yang ada pada kita saat kita diatas, dan masihkah kita bersyukur saat kita dibawah.

Wassalam

 

Reconnect with Qur’an – Ust. Nouman Ali Khan

Gw selalu suka denger ceramahnya Ustad Nouman Ali Khan (NAK) di youtube. Menurut gw ceramah dia bisa diterima oleh semua lapisan, terutama bagi yang baru-baru berhijrah karena beliau selalu menekankan asas-asas toleransi, Terus, pas denger Ust. NAK mau ke Indonesia gw senengnya bukan main. Sampe gw mengorbankan hari terkhir acara outing kantor buat izin ke Istiqlal buat denger ceramahnya secara langsung.

Sampe di Istiqlal gw amazed melihat besarnya antusiasme muslim Indonesia terhadap acara itu. Banyak banget yang dateng, sampe ada bus-bus dengan plat luar kota. Well, suasananya udah mirip banget sama umroh. Sepanjang jalan padet diisi sama orang-orang menuju masjid.

Sampe di dalam masjid, tempat udah penuh. Terutama bagian cewek, yes cewek. I don’t know why shaf cewek udah keisi sampe belakang, sampe -sampe harus naik ke lantai 2 dan 3, sedangkan shaf cowok, baru keisi setengahnya doang. Gw sedikit miris melihatnya. Pada kemana ini para ikhwan?. Yasudahlah. Mungkin sedang meyiapkan kerjaan untuk kerja hari Senin #Khusnudzan.

Karena di tempat cewek penuh, akhirnya gw dan temen gw solat di barisan cowok (Sebelah kanan), dan berharap kita bisa duduk disitu selama ceramah. Tapi begitu kelar solat kita disuruh pindah ketempat cewek, tepatnya keatas (lantai 2 dan 3). Akhirnya kita ke lantai 2. Disitu disediakan karpet merah agak tipis sebagai alas, tapi mostly udah penuh, dan udah ga ada tempat yang keliatan kearah panggung/layar. Gw dan temen gw pun kembali berhijrah buat nyari tempat yang lebih baik. Akhirnya kita ke lantai 3. Lantainya cukup kotor dan ga ada alasnya, cuma memang masih banyak tempat kosong. Gapapa deh akhirnya kita duduk. Eh ternyata pas panitia ngumumin sesuatu (pake bahasa Indonesia) kita cuma denger gemanya doang, ga kedengeran dia ngomong apa. Gimana nanti ustad NAK yang pake bahasa Inggris.  Waktu kuliah di Ausi aja yang suara dosennya kedengeran jelas gw sering missed, apa lagi ini. Akhirnya kita pun berencana pindah lagi. Seketika kita iseng nengok ke lantai satu, eh ternyata di lantai satu bagian cewek ada beberapa tempat yang bisa buat nyempil di bagian depan. Dan dengan ambisiusnya gw dan temen gw mengincar tempat itu.

Ketika sampe di lantai satu, dan bergegas ke tempat itu, tiba-tiba seorang panitia ngehadang kita. Katanya di lantai satu udah ga ada tempat dan kita disuruh naik. Lalu gw langsung drama-drama dikit. “Ada temen kita kok disitu udah ngetag tempat” Ujar gw pura-pura. Terpaksa banget gw harus drama. Soalnya jelas-jelas tadi kita liat dari atas masih ada renggang. Dan yes, gw udah izin acara kantor buat kesini. Kalo gw cuma disuruh denger gemanya doang, what for??. Terus panitianya nanya “Yang mana?”. Terus gw pun melanjutkan drama dengan mengeluarkan handphone. “Bentar aku telpon dulu”. Terus akhirnya temen gw bilang “Ning itu ning” sambil menunjuk sembarang orang yang disebelahnya ada tempat agak renggang. Kami pun permisi ke panitia. Wkwkk.

Dan Alhamdulillah, kami dapet spot enak. Keliatan ke arah panggung, keliatan layar, dan suara speakernya juga kedengeran jelas. Pelajaran mencari tempat duduk ini mengajarkan gw tentang “Keep move on until you find the best that suits you. Be ambitious and don’t give up”. Jangan cuma go with the flow, sometimes you need to not listen other that try to deviate you from your goal. Sama kayak cari kerja, cari jodoh.. Kalo kriterianya (terutama keimann) masih jauh dari yang diharapkan, keep move on. Jangan cuma berharap “ya mungkin lama-lama dia bisa berubah” atau “mungkin lama-lama gw bisa enjoy kerja disini”. Jangan gambling dengan sesuatu yang ga jelas. Kalo itu bertentangan dengan nuranimu. Tinggalkan lah. Kayak yang disampein Ust.NAK di awal ceramahnya “You need to have a great strength to leave a bad friend”. Karena, well, teman akan mempengaruhi lo. Merubah lo, kearah yang baik atau buruk. Jadi pintar-pintar lah dalam memilih teman. Apalagi teman hidup. Uhuk-uhuk..

Oke finally, lets go to Ceramah Ust. NAK. Tema yang dibawakan tahun ini adalah Reconnect with Qur’an. Kenapa temanya itu?. Karena Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan. Dan mengingat bahwa pada bulan ramadhan Allah melipat gandakan nilai ibadah, dengan memperbaiki hubungan kita dengan Al-Quran kita bisa memperbaiki ibadah kita secara keseluruhan di bulan yang penuh berkah ini.

Sesuai dengan temanya ‘Reconnect with Qur’an’, pada ceramah kali ini Ust.NAK menyampaikan pentingnya sebagai muslim kita harus selalu connect dengan Al-Qur’an. Connect disini bukan hanya sekedar membaca dan hatam berulang-ulang. Namun juga memahami dan mengamalkannya.

Al-Qur’an, kata ust.NAK, bukanlah sebuah undang-undang atau rule yang kaku. Al-Qur’an adalah advice dari Allah yang diturunkan karena Allah sayang (Rahman) pada kita, manusia. Kata Rahman sendiri dalam bahasa Arab digunakan untuk mengungkapkan rasa dan perilaku seorang ibu pada anak yang masih di dalam kandungannya. Saat mengandung selama 9 bulan, seorang ibu merasakan sakit. Tidak nyaman beraktifitas, mual, sulit tidur, dan sebagainya. Namun ibu tetap menyayangi buah hatinya. Ibu berusaha memakan makanan yang bergizi agar buah hatinya selalu sehat di dalam perut. Walaupun kadang sebenarnya sang Ibu tidak suka. Sang buah hati tidak mengerti pengorbanan ini. Ia hanya merasa nyaman menerima semua kebaikan sang Ibu. Seperti itulah kasih sayang Allah. Kita tidak menyadari bahwa Allah selalu menyayangi dan menjaga kita.

Sebutan lain dari Al-Qur’an adalah Nur yang artinya cahaya. Al-Qur’an menyinari hati orang yang sedang dalam kegelapan. Didalamnya terdapat solusi dari berbagai permasalahan di dunia. Semakin baik hubungan seseorang dengan Al-Qur’an, semakin baik pula orang itu dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan hidup. Hatinya akan selalu tentram, dan hidupnya akan selalu bahagia.

Lalu bagaimanakah hubungan dengan Al-Qur’an itu dibangun? Apakah artinya orang yang membaca Al-Qur’an dengan tartil dan fasih berbahasa Arab hubungannya akan lebih baik dibandingkan dengan yang tidak begitu mahir berbahasa Arab?.

Tidak Juga

Jarak tersebut bukan diukur dari kriteria diatas. Namun bagaimana sikap kita terhadap Al-Qur-an itu sendiri. Yang pertama, kita harus sadar bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai bentuk kasih sayang Allah seperti yang disebutkan diatas. Allah memang pernah marah didalam Al-Qur’an, namun hanya pada orang yang terlampau batas. Misalnya seperti ketika Allah murka terhadap Fir’aun. Dengan kisah itu, kita bisa mengetahui bahwa kita tidak selayaknya bersikap sombong dan dzalim seperti Fir’aun.

Kita juga harus paham bahwa Al-Qur’an adalah bentuk komunikasi Allah pada kita. Tepatnya, 2 way communication. Pertama Allah berkomunikasi dengan kita dengan Al-Qur’an dan dari Al-Qur’an pula kita mengetahui cara berkomunikasi denganNya, yaitu dengan berdoa. Seperti ketika Allah menceritakan kasus fir’aun, Allah juga mengajarkan kita berdo’a. ‘Ya Allah jangan jadikan aku sebagai orang yang tidak mau menerima kebenaran, seperti Fir’aun menolak kebenaran yang diturunkan melalui Nabi-nabimu’. Jadi semakin baik hubungan kita dengan A;-Qur’an, semakin baik komunikasi kita dengan Allah, semakin Allah akan mengijabah do’a kita. Aamiin.

Inti dari Al-Qur’an adalah mengajarkan kita untuk memiliki hati yang baik. Karena itu, yang bisa menerima Al-Qur’an adalah orang yang berhati baik. Itu lah orang yang memiliki hubungan baik dengan Al-Qur’an. Bukan orang yang merasa dirinya paling benar dan kemudian memandang remeh orang lain  yang mungkin baru belajar membaca Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah tentang yourself, not other people. When Allah speak, He speak to you. Jangan menggunakan Al-Qur’an untuk mencemooh orang lain. Misalnya saat kita memiliki masalah dengan seseorang, lalu tiba-tiba kita memposting ayat mengenai adzab bagi orang munafik atau dzalim atau apapun yang kita anggap cocok dengan dia. Tujuannya mungkin ada sedikit untuk mengingatkan, tapi tujuan lain?. Apapun itu, tentu akan membuat orang yang bersangkutan tersinggung. Tidak ada orang yang senang dikritik secara kasar. Bukannya sadar, orang malah akan lari menjauh. Maka dari itu, berilah contoh yang baik. Perbaiki akidah dan ahlaq dengan Al-Qu’an.

Kita pernah menyaksikan ada orang yang sampai menangis ketika membaca Al-Quran. Itu terjadi ketika seseorang benar-benar merasakan bahwa Allah sedang berbicara dengannya. Ia menyadari segala kesalahannya di masa lampau. Tiba-tiba pada relung hatinya yang gelap ada secercah cahaya yang menuntunnya pada harapan baru. Itu lah saat-saat seseorang benar-benar terhubung dengan Al-Quran.

Saat kita mengalami hal seperti itu, berbagilah pada saudara kita yang lain. Yang mungkin saat ini juga membutuhkan obat bagi hatinya yang sedang sakit. Karena muslim itu bersaudara dan saling menguatkan. Semakin kita mengajak orang lain kepada kebaikan. Semakin istiqomah kita pada hijrah yang kita lakukan.

Insya Allah.

 

Forgiving

Forgiving is not something that we do easily. People cannot force us to forgive someone, and also we cannot force ourselves to do it immediately. It needs time. It needs effort. It needs a braveness to accept our part of mistake and to give a chance to other, to change and to do better in the future.

Forgiving is being so much harder if the mistake involving so much things to be sacrificed. And especially those intangible things; Trust, hope, and love.

Yet, whether we are aware or not, forgiving and it’s progress can teach us many things. Especially to live with more positive mind.

I have one example of my disappointment to someone that actually influence my behavior. And this is happened because I haven’t really able to forgave someone and make a peace with myself.

When I was child I have one best friend named A. Until junior high school, I always spent my time with her. Actually my parents warned me to not to play with her since her family has a bad reputation in the society. But I did not care since I though she was a good person. But the strange things happened. That was my second time when I was with her and I lost my cell phone. At that time a cell phone is still luxury thing, and my parents punished me for loosing it. I cried.. and cried in front of her. I told her how sad I am. I told her that I though my parents will hate me forever because I lost my phone. She then tried to cheer me up.

My mother once asked a question to me

“Don’t you realize that you always loose your phone when you are with her?”

And that question made me so mad. I could not accept it. She is one of best friend that I ever had at that time. I did not want to listen to my mother.

Then in a short, I got new phone from my father. It was quite expensive.

And in one occasion I go out with her to a shopping mall brought my new phone. And the strange thing happened again. I lost my cell phone. I was just so fucking panic. It was brand new phone that my father give to me despite i just lost my previous phone. I asked her to help me to find it. We were searching it at every corner of the Mall. But we could not find. I said to her that I could not go back to my house. My parents will not forgive me and punish me. Then she gave me an idea. That I should buy new phone with my saving and told my parents that I sold the previous phone because I would like to change to another phone. And stupidly, I agree and I did it.

I did not have so much money, so I bough it by crediting it. And you know it was so damn difficult to make a seller can trust an junior high school student to pay the phone in credit. I need to check every cellular phone counter one by one to find the one who want to help me.

Of course, when I tell the scenario to my parents, they did not believe. They kept asking me so many questions. Until they found out that my phone was lost. I did not tell her that I go out with her. I told that I lost it in public transportation.

Until one day, I saw one of my neighbor sat in the park chair not far from my house, and he hold a phone that was exactly the same with my phone. The type, the casing, and the sticker!. I was really sure that it was mine.

“Hey. Whose phone is that?!” I asked him with high pitch voice

“This? Of course it is mine?” He answered with no hesitation

“How did you get that?”

“I bought it from A”

And I was just silent and frozen for a moment. That is the most impossible thing that I need to face. I continue my question.

“How did you buy it?”

“A just offer me this phone with very cheap price”

Then I went home, went straight into my bed room and cried by myself. Why? Why? Why? What is my mistake that make her so cruel?. If she need money, why she choose her best friend as her target?. She saw me cry, she saw me desperate, she cheered me up. I did trust her!!. But why??????.

Then at that time. I decide to erase her from list of my friend. No. I did not want to take a revenge. I am not that kind of person. But I will just act like I never know her. I put her phone number into my black list contact, I unfriend her in Friendster, and I blocked her Facebook.

I am just so fucking disappointed.

When I was around my home, once, I saw her and she saw me. I pretend not to see her and just go. I did not care anymore. She was the one who made me have a very bad trauma. Who though me until now, to not trust people so easily, and even not to trust people at all.

One thing that I realize now is, actually it is not really good idea to just go away without really confronting it. I was a too conflict-avoidance person.  You know, even until now, no one know that A stole my phone 3 times except me and my mother. I did not tell her, I did not tell another friend to make her being disliked and hurt. I just simply do not want to have any relationship with her at all.

Yes, I am sure she know what is her mistake. But maybe she did not know how I figured it out and how it made me sooo angry. And, actually If I did not say, she basically can flip the table and said that I am too arrogant because I break the relationship with her without reason.

I told to one of my friend, that if I mad at someone and I still care with him/her, I will say what make me angry at him/her. But if I cannot tolerate it, i just simply go away and pretend that I don’t know him/her.

However,

Avoiding someone, somehow is really tiring, especially when we are still in the same circle. Not only that, hate just made us run out of our energy and turn our day into a really bad day. Avoidance is not a good decision.

Forgiving is not for the sake of people who made mistake, but more importantly for ourselves. It eliminates negative feeling and allow us to focus to a good one.

Forgiving sometimes does not need direct verbal declaration. It starts from a conversation within ourselves. Remembering and reviewing again what have happened, what is the mistake, what make us so mad, then try to make a peace with that bad memory.

Forgiving does not mean forgetting what have happened or compromising the mistake. It is a learning point for the future. How the mistake can be avoided, and how you will react.

Yes, sometimes the wound just so deep, until you just feel so much pain. Until you are not sure whether it will heal or not. Just take a deep breath and take your time. No one can force you to forgive someone.

But I just want to say, as a person that still have a difficulty to forgive someone. Your day is too valuable to be wasted hating someone. You have so much energy to be spent for something you like, something you want to achieve. If you still cannot forgive him/her, it is okay. I also still cannot really fully forgive someone despite I try so hard.

But keep trying and keep learning

This kind of thing is a process of being ‘mature’.

Sesat Sesaat

Aku pernah merasakan kejayaan yang sangat besar. Kejayaan yang meringankan langkahku. Menghilangkan keraguanku. Melembutkan hatiku. Merekahkan senyum diwajahku.

Ya itu adalah saat-saat dimana aku menetapkan bahwa Allah adalah tujuan utamaku, dan setiap detik hidupku adalah persiapanku untuk menghadap kepadaNya. Setiap hembusan nafasku adalah upayaku mengingatNya. Setiap lelahku adalah pencarianku atas ilmuNya agar selalu lurus langkahku kepada jalan yang Ia ridhoi.

Rasanya sudah cukup lama

Memori tersebut sudah hampir terkubur

Setiap orang termotivasi oleh hal yang berbeda-beda. Ada orang yang termotivasi ingin menjadi orang terkaya. Ada orang yang termotivasi untuk menjadi wanita tercantik. Ada orang yang termotivasi untuk mengalahkan orang lain. Ada orang yang termotivasi membuat orang lain bahagia. Macam-macam. Lalu apa motivasiku?. Pertanyaan ini mungkin tidak bisa kujawab jika kau tanyakan padaku kemarin, sebulan yang lalu, atau setahun yang lalu.

Karena rasanya aku baru benar-benar tersadar pagi tadi

Aku sempat mengalami..

Dimana rasanya ada banyak suara yang harus kudengarkan. Saking banyaknya sampai aku merasa tidak berhak untuk mendengar suaraku sendiri. Bahwa setelah aku lulus S2 aku harus segera mendapat pekerjaan yang layak, yang minimal memberiku gaji 10juta perbulan. Bahwa setelah aku lulus aku harus segera menikah karena bagi orang Indonesia 24-25 tahun adalah usia layak menikah bagi wanita. Dan sebagainya.

Bukan hal yang buruk memang.

Hanya saja bisa menjadi jebakan jika tidak disikapi dengan baik.

Apa maksudnya tidak disikapi dengan baik?

Maksudnya, menghalalkan segala cara agar tujuan tersebut tercapai. Misalnya pasrah mendapat pekerjaan apa saja tanpa benar-benar sesuai dengan keinginan atau lebih parahnya KKN saat melamar kerja, lalu menikah dengan siapa saja karena dikejar deadline.

Memang kenapa kalau menempuh dengan jalan yang tidak baik? yang penting hasilnya baik?

Karena jalan yang ditempuh tadi bisa mempengaruhi hasil. Misalnya, kita kerja asal kerja. Pergi pagi pulang pagi, setiap hari. Gaji cukup. Tapi in the end merasa pekerjaan tersebut sia-sia. Dan kalau KKN misalnya, bisa saja itu adalah awal langkahmu untuk berbuat korupsi yang lebih besar kedepannya. Atau misalnya kamu menikah asal menikah. Sudah tau kamu tidak cocok dengan calonmu. Kamu tau calonmu tidak bisa dipegang omongannya. Setiap hari bawaannya bertengkar. Tapi karena sudah terlanjur dekat bertahun-tahun dan sudah usianya jadi kamu lanjutkan. Sadarkah kamu. Kamu yang tinggal terpisah dengannya saja sudah kacau begini, bagaimana kalau kamu harus tinggal bersama?. Sadarlah menikah itu bukan akhir dari segalanya. Sebaliknya, menikah adalah awal dari komitmen yang kamu buat di hari yang sakral itu

Sekitar 1.5 tahun yang lalu aku pernah menulis di Instagram, seperti dibawah.

IMG_1971.PNG

Namun agaknya aku belajar sesuatu. Bahwa ketika tersesat ada hal yang telah kusia-siakan. Yaitu kesempatan yang tidak bisa datang dua kali. Dimana ketika pintu sudah tertutup maka tidak bisa dibuka lagi, sehingga mau tidak mau aku harus berjalan lebih jauh lagi untuk mencari pintu lain.

Dan benar saja, ketika tujuanku memang serendah itu. Kekecewaan dan putus asa datang ketika aku gagal. Bodoh sekali kalau diingat-ingat. Bahkan aku melupakan Penguasa yang bisa saja mencabut nyawaku besok pagi. Karena memang hatiku sudah terlanjur mendingin. Pikiranku dekililingi tembok sempit yang menutupku dari kebahagiaan yang ada di sekitarku.

Sesat bukan hanya berarti masuk kedalam jurang maksiat atau pelanggaran terhadap undang-undang negara. Tapi sesat juga berarti mengabaikan tujuan dan berbelok kearah yang yang tidak kau kehendaki. Mungkin kau bilang “tidak apa, mungkin jalan ini bisa membawa kebahagiaan yang lain”. Tapi sadarlah ketika kau sudah memilih untuk belok kau harus siap untuk tidak komplain ketika jalan yang kau pilih penuh halangan dan rintangan. Dan itulah yang membuat banyak orang menyesal seumur hidup. Tidak bisa bangkit ketika terlanjur terjatuh. Karena itu memang bukan jalanmu, tujuanmu tidak ada disana.

Sudahlah. Yang lalu memang sudah tidak bisa diapa-apakan. Tapi kali ini aku akan lebih tegas pada diriku. Untuk tidak semudah itu “Chasing Pavement”. Mengikuti kemana jalan beraspal membawa dan lupa bahwa tujuanku bukan kesana.

Kamu tidak perlu mengubah dirimu kok. Sudahlah jangan berpura-pura lagi didepanku.

Kalau kamu ingin jadi orang terkaya, lanjutkan. Kalau kamu ingin jadi orang paling terkenal, silahkan. Memang uang dan pujian yang menuntunmu. Mau bagaimana lagi?.

Hanya saja kali ini aku akan membuat batasan yang jelas. Bahwa tujuan kita berbeda.

Maaf kalau aku tidak cukup diplomatis. Aku hanya manusia berhati lemah yang mudah terbawa dan sulit untuk sembuh ketika tersakiti. Karena itu aku ingin lebih bisa menjaga hatiku.

Tidak ada yang menang dan kalah. Tidak ada yang lebih baik.

Aku juga manusia yang tidak luput dari salah. Aku hanya ingin berbenah diri. Aku ingin mulai mengejar apa yang kucari.

Kuharap kau juga mendapatkan apa yang kau cari.

 

Ikhlas dan Sabar dalam Mencari Rezeki

Di project yang gw kerjain saat ini. Ada satu cewek yang menurut gw keren banget. Dateng pagi banget dan pulang paling malem. Kerja beyond the expectation, bukan cuma ngerjain bagian dia in excellent way, tapi juga turun tangan bantuin kerjaan yang lain. That is why pengetahuan dan skillnya di kerjaan luas banget. And that is why she is promoted faster than others.

She is one of examples that proves kalo promosi bisa pure dari kerjaan, karena dia juga bukan orang yang pinter jilat atasan.

Sampe suatu saat dia akhirnya ngeluh juga.

“Gila ya” Dia bilang “Tadi gw baru tau gajinya bapak X” Lanjutnya. Bapak X adalah salah seorang manajer di perusahaan client. “Gajinya setahun udah bisa buat beli rumah mewah di Jakarta!”

“What??. Kerjanya santai banget gitu?” Timpal gw

“Iya! Yang kerja anak buahnya. Dia cuma ngobrol ama nyuruh2. Jam 5 udah pulang. Sedangkan kita kerja kayak begini. Gaji ga seberapa” Ujarnya sambil menghela nafas.

Gw paham sih. Dibanding dia, kerjaan gw mah masih cemen. Dia saat ini megang 3 project despite jabatannya yang belum manajer. Soalnya emang culture di tempat kerja gw gitu. Semakin rajin dan berprestasi, semakin di utilize untuk kerjaan yang lain. Gw sendiri kadang kalo udah ngerasa di over utilize, gw tiba-tiba menurunkan performa in some side, supaya gw juga ga hedon2 banget kerja. Karena physically gw ngerasa ga sekuat temen gw ini. Minimal gw demam dan magh kalo udah kurang istirahat dan kurang makan.

Rumput tetangga emang selalu kelihatan lebih hijau. Iya sih memang si bapak ini keliatan kerjanya santai banget. But we actually don’t know before this, when he was at our age. Bisa jadi itu adalah buah kerja kerasnya dulu. Bisa jadi dia sebenernya pekerja keras, tapi karena udah berumur dan berkeluarga dia pengen hidup lebih balance. Who knows?.

Saat temen gw envy ke bapak X, sebenernya gw envy ke dia. Kenapa dia bisa serajin dan sekuat itu. Dia ga cuma pinter, dia juga emotionally always full controlled. Secapek dan lagi se bad mood apapun, dia masih bisa tenang dan bercanda. Terus kesehatannya juga. Jam kerjanya diitung-itung selalu yang paling panjang di project gw. Everyday. Makan juga, udah berapa kali dia lupa makan sampe sore gara-gara sibuk. Tapi all of that does not make her drop. Kalo gw ngebandigin diri gw sama dia, gw berasa lemah banget.

But I want to make a note to myself. That sometimes, it is understandable to envy others who seems more fortunate than me. But does not means I allow myself to forget being grateful of what I have.

Di lingkungan kerja yang cukup keras, ada kesempatan yang ga didapat yang lain. Kesempatan untuk belajar lebih cepet. Kesempatan untuk belajar sabar dimarahin karena doesn’t take enough action or taking too much initiative. Kesempatan untuk belajar dari orang-orang yang sudah lebih dulu dan terbiasa meghadapi pressure semacam ini. Dan yang paling penting kesempatan untuk menghargai usaha diri sendiri, not comparing yourself with others, because everyone have their own strength and weakness.

Ketika Allah memberi batasan ke gw, ya memang itu yang terbaik buat gw. Supaya gw lebih pandai bersyukur dan bisa lebih menghargai bantuan orang lain. Supaya gw juga inget bahwa dibalik duniawi yang selalu dikerjar ini, ada akhirat yang menjadi tujuan akhir. Yang menanamkan Tauhid bahwa Allah lah yang menciptakan gw dengan komposisi ingridient yang sebaik-baiknya.

Ketika rasa percaya itu sudah muncul, entah lah, segalanya terasa lebih ringan.

If you see my instagram photo always full of smile, believe me, that actually behind that, there is so much tears and sweat. I just choose to share my happy time rather than my blue time so people be happy too.

So seberat apapun hidupmu sekarang, bersyukurlah karena banyak pembelajaran yang bisa kamu dapat. Yang mengasahmu jadi orang yang lebih hebat.

Yakin lah Allah sudah mengatur rezekimu.

Kapan kamu akan naik jabatan. Kapan kamu akan lanjut sekolah lagi. Kapan kamu akan menikah. Kapan kamu akan punya anak. Semua sudah diatur oleh yang Maha pemberi yang terbaik.

Jika memang belum. Bersabarlah. Allah sedang menyimpan yang terbaik sembari melihatmu terus berusaha menjadi lebih baik, dan mencatatnya dibuku catatan amalmu.

Ada pepatah bilang

“Orang yang paling kuat adalah orang yang paling sering menderita. Orang yang terlihat paling bahagia adalah orang yang paling banyak menangis”

Yes, semakin orang itu diuji, semakin ia tahu bagaimana caranya bersyukur disetiap ujiannya

Semoga kita semua selalu jadi orang yang pandai bersyukur

Aamiin..

 

Give a Time for My Nerve to Heal

Ini adalah update dari kisah operasi gigi gw Desember lalu. Setelah melewati masa-masa pahit dan kelam, akhirnya gw udah bisa makan dengan normal. Walaupun ba’al dibagian bibir kiri gw belum sepenuhnya hilang.

Oke, mari kita mulai ceritanya dari post-surgery ya.

Jadi seminggu awal post surgery, makan adalah hal yang paling menyiksa. Disitu gw baru sadar, bahwa ketika makan, selain ngunyah, mulut melakukan aktivitas penarikan makanan untuk masuk ke tenggorokan. Dan karena daerah operasinya kayaknya belum bener-bener kering,  setiap mau narik makanan sakitnya bukan main. Akhirnya gw cuma makan bubur sambil ndangak (posisi kepala menengadah ke langit) supaya buburnya masuk straight into my throat. Bahkan untuk minum pun gw perlu ndangak, karena bibir dideket area operasi ga bisa merapat kegelas, wal hasil kalo ga ndangak airnya akan berceceran.

Kayaknya gw memang meremehkan kasus gigi gw. Memang impaksi yang di dagu bukan impaksi biasa. Bahkan pas gw searching tentang kasus impaksi gigi pre-mollar (gigi di depan gigi geraham), mostly yang keluar adalah jurnal. “Metode bla bla bla untuk menangani impaksi gigi pre-mollar” dan lain sebagainya. Gw pikir emang rare case dan sekalinya ada layak to be published. Tapi gw ga nyangka aja akan segininya proses post surgerynya. Gw sampe mendadak cuti kerja 2 hari gara2 proses recovery ini.

Setiap makan gw nangis. Ya selain sakit gw sedih aja. Ngebayangin sampe kapan gw kayak begini. Nyokap gw sampe gemes ngeliatin gw nangis terus.

“Kamu kenapa sih ning? Cowok masih banyak kali” Celetuk nyokap gw yang mengira gw nangis gara-gara putus cinta.

“Bukan ma.. ini gigi yang sakit. Itu juga sakit, tapi ini lebih sakit.. Hiks hiks” ujar gw

“Yaudah minum pain killernya kalo udah sakit gitu. Jangan kayak anak kecil lah masa nangis sampe sesengukan gitu”

Lalu gw pun minum pain killer untuk meredakan rasa sakit.

Akhirnya di hari keempat gw udah bisa makan dengan kepala tegak. Masih sakit buat nyedot. Tapi jauh lebih mending daripada sebelumnya.

Kira-kira di hari kedelapan, setelah rasa sakit mulai menghilang perlahan, gw pun mulai menyadari bahwa bibir gw sebelah kiri bawah (dekat area operasi) mati rasa. Gw coba taro es batu ga berasa. Pas pake gincu juga ga berasa, jadi gw ga bisa gincuan tanpa ngaca lagi, soalnya bisa belepotan.

Gw mulai mencari-cari info di Internet how could that happen. Dan ternyata mati rasa itu kemungkinan besar diakibatkan trauma atau kerusakan saraf saat proses operasi bedah mulut. Kalau trauma katanya sih bisa sembuh, kalo rusak, harus operasi apa gitu. Gw langsung panik, amit-amit kalo sampe rusak. Mesti cuti kerja terus dong gw buat operasi.

Gw pun dateng ke dokter orto gw buat menceritakan tentang bibir kiri gw yang mati rasa. Dengan santai dia bilang bahwa itu normal. Gw disuruh sabar dan nunggu sambil rutin minum Vitamin B12 (200mcg), yaitu neurobion warna biru. Setelah itu gw pun menunggu. Sampe 2 minggu-an ga ada perubahan yang signifikan, akhirnya gw ke dokter lain untuk minta second opinion. Gw ke Siloam Semanggi, dan ketemu dokter bedah mulut. Setelah gw cerita keluhan gw, jawabannya sama aja ternyata. Gw disuruh nunggu sarah gw pulih. Baiklaah. Emang kayaknya gw aja yang kurang sabar. Tapi kali itu gw dikasih obat yang dosisnya lebih tinggi dari yang dokter orto gw kasih. Gw dikasih Methycobal dan Neurobion warna merah (B12 5000mcg). Setiap habis minum itu, rasanya ada kesemutan di daerah operasi dan sedikit kedutan. Kalo kata dokternya itu tandanya obatnya bekerja,

Sekarang obat dari dokternya udah abis. Bibir gw juga udah lumayan bisa ngerasain sesuatu walau rasa kesemutannya masih ada. Tapi karena belum sembuh total gw tetep minum neurubion yang biru sesekali.

Pengalaman kecil namun menyadarkan gw pada hal penting. Bahwa sometimes I need give a time to my trauma to heal. Whatever trauma is that. I cannot just drink pain killer all the time to camouflage the feeling.

If it is hurt, let be honest that it is hurt.

So that when I say that I am healed. I am totally heal.

Sometimes God give us hurdles because he want to see if we are strong enough

Sama seperti ketika Allah memberi gw gigi lebih yang posisinya cukup rumit.

Kalo ga dioperasi bisa kista (udah ada yang mengalami dan harus operasi yang lebih kompleks). Kalo dioperasi ya kayak gw sekarang, mesti melewati tahap-tahap yang painful.

I feel like there is no good deal for me, huh?

Tapi itulah rahasia Tuhan ketika ingin menguji hambanya agar menjadi pribadi yang lebih kuat.

Semoga kita semua selalu lulus ujian dariNya

I want my kids proud to have well educated person as their best teacher

Well, that is quite long sentence to be a Title.. and definitely quite bold right?

Yupp, I want to make it as clear as possible.

I don’t mean to be offensive. I just want to share some of my experiences and a little bit of my view towards women and education.

When I was in junior high school, my parents put me in Islamic School. It is not so-modern school. Most of we learned is about religion. So we a little bit left behind in science, math and other general studies. The mindset of the student is really shaped by the teaching. Most of my friends believe that their biggest success is actually to marry after they finished high school and soon having a children. I just like “Whaaat?.. Is it just me who disagree with that?!”. I am thinking.. why it sounds so silly for me. I am really sorry if one of my junior high school friend read this. But I totally do not get it.

Ok, let me share one of my experience that actually quite fresh.

Around a month ago I met my friend’s younger sister-in-law. She is 18 years old. Her husband, which is my friend’s older brother, is far older than her. She married just after she graduated from senior high school, and have a baby girl already right now. She said to me

“We need to differentiate the way how we raise a girl and boy”.

“Like what?” I asked

“We should not give a girl an option, because they will follow her husband. But we need to always give a boy option, so that they can learn to take decision”

I actually really want to criticize her view. I totally disagree. But I think, it will just trigger a never ending debate. So I just silent at that moment.

And in a short, like a week after that. She watsapp me.

“Hi Haning. How are you?. Last time you told me that you are interested in makeup stuff. I would like to offer you a lipstick if you are interested to buy”

I replied “Sure! What brand is that?”

She sent me a picture. It is Kylie lipstic

“Wow. How much is that?”

“It is 200K rupiah each” She answered

And I just like “That is impossible!” The original one should be arround 550K rupiah! And if she sell the imitation version, it is too expensive anyway. If she know that I have interest in makeup she should know that i have quite good knowledge about makeup and its price. But what she does is selling it to me without check the price on the internet. Alright. And to make her to not feel bad, finally I said that Kylie lipstick is too dry on my lips, so i cannot take that.

But seriously. This makes me worried about how she will raise her children. She perhaps does not need to think about financial matter as her husband works. She could register her daughter to a good school. But I think, the education it self is not enough if the mother build mindset which hold the daughter for the advancement.

I remember the question that is really often asked to women in my country

“Why do you study until high degree? You will take care of your children anyway”

Please remember my answer!

“That is why! Because I will take care of my children, i would be the best teacher for them!. I will teach them how to be excellent student and work as best and as smart as they can to achieve their dream!”

And I can prove my answer. I have seen, most of successful student in my school is raised by well educated parents, include well educated mother. It is easier for children to success when they have reliable adviser to help them make a decision.

For example, from what I see, most of LPDP (scholarship from Indonesia Ministry of Finance) awardee have well educated mother. Their mother graduated from Master degree, or a specialist doctor, or successful career woman.

Yes there is also outlier case. Me is an example. Same with my friend’s case, my mother married just after she graduated from high school. Honestly, I feel I need to do extra work to study, get a good mark and decide what’s next. When I graduated from high school and thinking what university, what study should I take, and how to get there, I didn’t have good adviser from my family. I need to ask my friends, ask my teacher, googling it myself. So yeah, if the children does not have enough willingness, they cannot compete the children who raised by well educated mother.

Yes, i am still single. Perhaps you think it is not my capability to say this. However this is just my view as a girl who has a dream.

I would like to point out a thing for you to remember

There is no teaching in Islam that prohibit women pursue the education. Prophet Muhammad’s wife, both Khadijah RA and Aisyah RA, are very smart woman. Khadijah is one of the most successful entrepreneur, and Aisyah is the best transmitters (perawi).

Because, if you let women to be educated, you safe entire generation.

Father – The one who want to be loved too.

Bandara Internasional Soekarno Hatta, 2015

Akhirnya saat itu tiba. Saat dimana akhirnya aku harus berpisah dengan keluargaku untuk merantau ke negeri kangguru guna mencari ilmu.

Rasa sedih karena harus meninggalkan orang yang kucintai untuk waktu yang tidak singkat, khawatir karena aku harus beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar baru, dan senang karena akhirnya cita-citaku berkuliah diluar negeri hanya tinggal menunggu hari. Semua bercampur aduk jadi satu.

Aku ditemani Ayah, Ibu, dan kedua adikku, Seli dan Tatah. Kami berangkat cukup awal untuk menghindari kemacetan Bekasi-Jakarta yang tidak terduga.

Saat aku hendak masuk untuk check-in bagasi dan berpamitan dengan semuanya. Mata ibuku berkaca-kaca. Terlihat kesedihannya melepaskan salah satu anaknya ke negeri nan jauh sana.

“Jaga diri baik-baik ya ning. Jangan lupa sholat 5 waktu dan berdoa supaya selalu dimudahkan dalam mencari ilmu” Ujar ibuku yang membuatku jadi ikut berkaca-kaca. Setelah itu aku bersalaman mencium tangannya. Kemudian beralih menyalami ayahku. Dengan tegar dan tidak menunjukan kesedihan sedikitpun ia berpesan.

“Belajar yang rajin. Selalu sabar kalo ada kesulitan. Jangan gampang emosi. Jangan tidur habis subuh. Jangan boros-boros” Ujarnya simple. Seperti biasa. Banyak kata-kata ‘jangan’ pada kalimatnya.

“Iya. Haning ga pernah boros kok” Ujarku sambil cengengesan.

Lalu aku bersalaman dengan adik-adikku dan bergegas izin untuk masuk pintu checkin bagasi.

Sepanjang jalan aku teringat wajah ibuku. Matanya yang berkaca-kaca. Juga ayahku, yang kelihatannya selalu tegar dan keras, namun sebenarnya selalu mendoakan anaknya diam-diam.

Ya, dia yang sebenarnya juga ingin dicintai namun terlalu bingung untuk mengungkapkannya.

Harinya dimulai dari jam setengah tiga pagi. Ibuku bercerita, bahwa ayahku lah yang selalu membangunkannya untuk melaksanakan shalat tahajud. Namun karena tahu kalau ibuku lelah. Ayahku biasanya membangunkannya sekitar jam 4, setengah jam sebelum subuh. Setelah shalat biasanya ayahku berdzikir dan mengaji. Baru ketika hendak subuh ayahku bergegas ke masjid untuk shalat berjamaah.

Seusai shalat shubuh, ayahku mengadakan taklim keluarga di rumah. Dia biasanya membacakan 2-3 buah hadits dan menerangkannya. Aku sering sekali tertidur karena masih mengantuk akibat tidur larut malam. Begitu pula adik-adikku. Sesekali ia memanggil aku yang hampir tertidur dengan nada tinggi agar aku bangun.

“Makanya kalo tidur jangan kemaleman!. Rahmat Allah itu adanya di pagi hari!. Harusnya kamu jemput, bukan malah tidur habis subuh!” Ujarnya dengan nada galak seperti biasa. Mungkin karena sudah lelah juga setiap hari menegurku yang tidak kapok-kapok.

Setelah taklim, sekitar jam setengah 6 ayahku berangkat kerja. Karena memiliki usaha sendiri, ayahku bebas mengatur waktunya. Biasanya ia pulang sekitar jam 11 siang untuk Ishoma. Kadang setelah itu langsung kembali ke tempat kerjanya. Kadang kembali pada sore hari ketika usaha akan ditutup.

Biasanya ia tidur jam 9 malam agar bisa bangun tahajud. Namun tidak jarang juga tidur jam 11-12 karena harus mengurus beberapa hal. Namun aku selalu salut padanya. Tidur jam berapapun, ia selalu bangun jam setengah 3 pagi dan tidak tidur selepas subuh. Kadang aku malu. Aku masih muda. Namun sering sekali merasa waktu tidurku belum cukup dan karena itu butuh tidur seusai subuh.

Dia bukan robot atau malaikat. Tentu saja dia lelah atas perjuangannya sangat berat. Perjuangan untuk selalu memenuhi kebutuhan keluarganya. Agar istri dan anak-anaknya bisa makan makanan bergizi, berpakaian bagus dan tidak terhina di masyarakat. Perjuangan untuk menjadi sosok panutan bagi keluarganya. Untuk selalu konsisten beribadah dan berkerja dengan giat. Selelah apapun, ia selalu menjadi sosok yang kuat dan tegar. Ia tidak pernah berkata “lelah” sekalipun seumur hidupnya.

Kelelahan yang dipendamnya memang kadang membuatnya keras dan kaku. Ia lupa waktunya liburan dan bersenang-senang dengan keluarga. Di pikirannya hanya ada kewajiban untuk mencari nafkah. Baginya itu lah kebahagiaan terbesar yang bisa ia berikan.

Kadang kami lupa jerih payahnya. Dan melabelkan bahwa beliau adalah orang yang kaku dan keras. Aku lebih sering berbicara dengan ibuku. Menceritakan hari-hariku kemudian bergantian mendengar ceritanya. Tidak pernah aku atau saudaraku yang lain curhat pada ayah. Karena jawabannya seringnya mengkritisi.

Tujuannya baik. Hanya saja mungkin ayah terlalu terfokus pada hal yang harus kami perbaiki, tanpa benar-benar memberi suport secara emosional terlebih dahulu. Ayah bingung, sebenarnya ia ingin menjadi seperti ibuku, bisa menunjukan kasih sayangnya dengan leluasa. Tapi ia selalu tidak tahu bagaimana caranya.

Ia yang mendidik anaknya supaya menjadi anak yang tegar dan pemberani. Baik anak laki-laki maupun anak perempuannya. Berbeda dengan ibuku yang mudah cemas dan kadang overprotektif. Aku ingat awal-awal aku belajar menyetir mobil. Ayahku menyuruhku menyetir mobil dari Bekasi sampai Malang. Ibuku langsung cemas.

“Pa, beneran si haning yang nyetir?” Tanya mamaku

“Iya. Pokoknya papa percaya sama kamu ning” Jawabnya santai

Dan kepercayaannya bukan hanya sebatas kata-kata. Sepanjang jalan ia tertidur lelap. Membiarkanku menyetir dengan berberkal GPS yang di pasang di mobil. Beberapa kali aku hampir menabrak. Jantungku mau copot rasanya. Ibuku sudah marah-marah supaya ayahku menggantikanku menyetir. Tapi ayahku bersikukuh agar aku tetap menyetir.

Rute Bekasi-Malang bukan rute yang mudah. Kadang untuk menghindari kemacetan di jalur pantura, aku harus mengambil jalur agak ke tengah yang biasanya mimin pencahayaan dan berkelok tajam. Kadang harus berhadapan dengan bis malam yang supirnya punya 7 nyawa. Membuatku terus beristighfar sepanjang jalan.

Seperti itulah ayahku mendidik anaknya sedari dulu. Pendidikan semi militer yang menuntut anaknya untuk super mandiri dan tidak mudah menyerah. Kadang anak laki-lakinya saja kewalahan mengikutinya. Bersyukur ada ibuku yang mengingatkan ketika sudah dirasa kelewatan.

Sesampainya di Malang aku tertidur seharian dengan jantungku yang masih berdetak kencang. Sampai dalam mimpiku, aku seperti menyetir di jalan yang di kelilingi jurang. Rasanya aku cukup trauma.

Sedari kecil hidupnya memang sulit. Kakek nenekku hanyalah petani di lahan milik orang. Kadang dari bekerja pagi hingga petang mereka mendapat upah berupa uang, kadang hanya hasil tani yang hanya cukup untuk makan 1-2 hari. Beruntung ayahku tidak perlu membayar biaya sekolah karena mendapat beasiswa. Sembari sekolah ia berjualan opak. Aku ingat, ketika sedang menyetir di kemacetan sering ada orang berjualan makanan. Ayahku berkata.

“Dulu papa jualan itu” ujarnya sambil menunjuk orang yang berjualan opak

“Wah iya?” tanyaku penasaran

“Iya. Dulu mbokmu tiap pagi goreng opak. Papa yang yang jual di sekolahan. Kalo libur papa jualan sampe sore sama mbah. Dari lemah duwur  sampe alun-alun kota Malang”

“Jauh banget jualannya. Naik apaan pa?”

“Jalan kaki”

“Ha?! Itu jauh banget pa. 10 kilo lebih kali”

“Ya makanya sampe sore” Jawabnya sembari mengenang  masa lalu.

Kami anak-anaknya terdiam mendengar kisahnya. Sungguh beruntungnya kami terlahir di keluarga sudah berkecukupan, ditopang seorang pekerja keras yang tak pernah mengeluh. Tak pernah hitung-hitungan atas apa yang ia berikan.

Ia tak pernah meminta apapun dari anak-anaknya. Baginya, yang penting anaknya bisa hidup mandiri dan sukses. Itu sudah membuatnya lebih dari senang.

Setelah aku lulus dari UNSW dan mulai bekerja di tempat kerjaku yang sekarang ayah berkata padaku

“Pendidikanmu tinggi. Kamu kerja di tempat yang bagus. Bisa dibilang papa udah cukup lega ngeliatnya. Tapi sepanjang apapun titel kamu, segede apapun gaji kamu, jagalah ahlaq kamu. Jangan sombong. Semua itu amanah yang dititipin Allah yang akan dimintai pertanggung jawaban” Ujarnya. Lalu dia menyambung “Jangan lupa, cari jodoh yang lebih baik dari papa. Yang selalu bisa menuntun kamu pada kebaikan”

Aku terharu mendengarnya. Cukup jarang ayahku bisa berkata-kata dengan nada lembut dan tatapan sayu seperti itu. Artinya ia memang benar-benar meminta dengan setulus hatinya.

“Aamiiin doain terus ya pa” jawabku.

 

Ayah..

Sikapku kepadamu tidak semanis sikapku pada Ibu

Aku kadang meragukan keputusanmu

Aku kadang tidak bisa melihat kasih sayang mu

Maafkan aku..

Aku sadar, pundakmu yang kuat kini mulai rapuh

Kau juga butuh kawan untuk bercanda tawa

Kau juga ingin anak-anakmu mencintaimu seperti mereka mencintai ibunya

 

Kami melihat semuanya.

Keringatmu. Kelelahanmu. Ketegaranmu.

Kau tidak peduli. Kau hanya selalu ingin kami semua mendapat yang terbaik.

Maafkan aku yang terkadang kurang sabar berhadapan denganmu. Aku lupa kau sedang kelelahan.

Terimakasih atas doa-doa dan kasih sayang yang selalu kau curahkan diam-diam untuk kami semua.

Semoga Allah selalu membalas semua ketulusanmu, mengijabah doamu.

Semoga aku selalu bisa menjadi anak sholehah kebanggaanmu. Semoga kita semua selalu menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah , warrahmah.

 

 

Mother – Revealing the Hidden Salary

Malam itu, selepas rapat dengan client aku kembali ke ruangan yang berisikan teman-teman tim dari kantor. Mereka mengerubungi satu orang yang kelihatannya sedang bercerita sesuatu. Aku mendekati mereka untuk nimbrung.

“Kenapa kenapa sih?” Tanyaku penasaran

“Ini kasian banget ada temen gw lahiran tapi salah ngejen. Eh kerobek” ujarnya

“Kerobek?” Tanyaku tidak paham

“Iya kerobek kebawah gt”

“Aaaa.. Astagfirullah!!” Aku berteriak histeris sambil menutup telinga

“Iya. Katanya sakit banget”

Lalu project managerku yang sudah memiliki 1 anak membalas

“Yang ga ada sobek aja sakit banget” ujarnya

“Iya ya?” tanya ku

“Iya. Padahal udah diajarin cara-cara ngejen yang bener. Tapi saking sakitnya lupa semuanya. Karena itu disaranin pas lahiran ada suaminya nemenin buat ngasih aba-aba harus ngapain” jawabnya

“Sesar aja apa ya mendingan?” tanya temanku

“Kalo sesar setelahnya yang sakit. Jauh lebih lama proses recoverynya” Jawab project managerku.

Aku jadi teringat. Ketika mamaku sedang sangat marah dengan anaknya dia perna berkata “Kamu ga tahu apa susahnya mama ngeluarin kepala kamu?!”. Hmm.. sama sekali ga tau sih. Kan belum pernah. Tapi kalo denger cerita-cerita gini sepertinya memang antara hidup dan mati.

Aku juga jadi ingat. Waktu itu aku pernah akan disuntik dokter di lengan atas. Dokternya bertanya apa aku mau tiduran atau duduk saja disuntiknya. Lalu aku bertanya kenapa aku harus tiduran. Lalu dokternya menjawab, biasanya pasien cowok sangat takut disuntik, dan karena takut pingsan mereka ingin disuntuk sambil tiduran. Hmm aku jadi tersadar, mugkin memang wanita lebih tahan sakit dibanding pria. Dan dalam hidupnya, ada beberapa momen dimana wanita akan tersakiti by nature. Misalnya hamil dan melahirkan. Semoga cukup dua itu saja ya.

Aku menelisik kembali pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang harus kita hormati di dunia yang pertama adalah ibu, yang kedua adalah ibu, dan yang ketiga juga ibu, baru yang keempat adalah ayah. Karena memang besar pengorbanan seorang ibu, mulai dari kita dikandungnya sampai bisa sebesar ini. Dan itu juga mengapa Surga ada di telapak kaki ibu, bukan ayah.

Allah memang sudah mengatur segalanya dengan sebaik-baiknya. Karena beban yang wajib ditanggung seorang ibu, ibu tidak dibebankan untuk menafkahi keluarga seperti ayah. Karena memang walaupun tidak ada nafkah secara penghasilan, ibu lah yang bekerja mengurus rumah tangga. Mulai dari mengurus anak dari bayi sampai dewasa, membersihkan rumah, dan termasuk mengurus bayi besar baca:suaminya. Tidak usah merawat bayi. Bahkan merawat anak yang sudah berakal saja sudah aku sudah kesusahan. Kakakku kadang menitipkan anaknya yang masih balita di rumah ibuku. Kadang aku yang kebagian merawatnya. Mulai dari memandikan, masak, memberi makan, menemani mereka bermain, belajar, dan seterusnya. Rasanya harus ekstra sabar dan mau berkorban waktu dan pikiran.

Walaupun tidak berpenghasilan, banyak pekerjaan seorang ibu yang luput dari perhitungan. Jika kita mau list down, berikut adalah jobdesk yang tidak terhitung dalam payroll bulanan PT. Rumah Tangga Sejahtera:

  1. Mengandung 9 bulan (Beraktivitas jadi lebih sulit dari biasanya)
  2. Melahirkan (antara hidup dan mati)
  3. Menyusui (harus siap bangun malam untuk memberi asi dan menidurkan bayi)
  4. Memandikan anak
  5. Masak untuk anak dan suami
  6. Memberi makan anak
  7. Menjadi teman bermain anak
  8. Membersihkan rumah (pembantu saja hanya beres2 tarifnya sudah sekitar 3.5 jt perbulan)
  9. Menyuci dan menyetrika
  10. Mengantar jemput anak kalau sudah sekolah
  11. Menjadi guru bagi anak

Dan lain-lain.. ditambah lagi masih harus merawat kecantikan supaya selalu sedap di pandang.

List diatas bukannya berarti aku perhitungan terhadap pembagian pekerjaan dalam rumah tangga. Namun seyogianya, semua pihak menyadari, dibalik profesi sebagai ibu rumah tangga, ada jobdesk yang tak kalah sulitnya dibanding wanita karir.

Aku pernah menjadi saksi dalam konflik yang disebabkan ketidak pedulian pihak laki-laki atas list pekerjaan diatas. Tersebutlah Bapak Y yang sedari dulu meminta istrinya, Ibu X untuk berhenti bekerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga. Namun, bukannya menyadari bahwa ia yang telah merebut kesempatan Ibu X untuk memiliki penghasilan sendiri, malah pada suatu ketika, saat ada masalah dalam keluarga, bapak Y tiba-tiba memutuskan jatah bulanan yang harusnya ia berikan pada ibu X. Dipikirnya semua hartanya adalah hartanya. Oleh karena itu saat ada masalah, ia tidak ingat bahwa ada hak yang harus diberikannya kepada wanita yang selama ini mengorbankan mimpinnya untuk menemani perjuangan hidupnya.

Tentu kasus ini tidak bisa digeneralisir. Banyak juga kasus yang kutemui dimana pihak laki-laki memberikan hartanya sepenuhnya pada pihak wanita, agar kemudian pihak wanita yang mengelola. Tentunya laki-laki yang seperti ini yang diidamkan semua wanita. Hehe.

Dulu kakak kelasku yang sudah berkeluarga pernah menasehatiku.

“Ning, aku liat kamu orangnya kayak aku. Mandiri, dan loyal sama orang. Tapi pesenku yang mesti kamu inget baik-baik.. Kalau kamu berkeluarga nanti, jangan tawarkan kamu mau ngasih persentase berapa dalam nafkah keluarga. Karena kamu sama sekali ga berkewajiban. Nanti suamimu jadi lupa kodratnya. Kamu lihat aja setiap bulan gimana kemampuan suamimu, baru kalau ada yang kurang kamu bantu” Ujarnya, which turns out really useful for me to filter out which guy is really responsible and which one is not.

Sebenarnya keputusan itu kembali kepada keputusan masing-masing. Kalau kamu wanita dan memang mau ikut memberi nafkah dari penghasilanmu, itu hakmu. Namun entah lah, jika kamu laki-laki dan kamu yang terang-terangan meminta pasanganmu memberi nafkah rasanya cukup membuat ill feel. Sounds ga gentle dan ga cukup confident dengan kemampuannya.

So girls,

It is all yours to decide mau jadi ibu rumah tangga atau wanita karir. Tapi let be wise. Kamu harus ingat list diatas. Bahwa kamu berkewajiban untuk memelihara rumah tanggamu dan menjadi madrasah bagi anak-anakmu. Carilah karir yang mengizinkanmu untuk tetap menjalankannya.

And boys,

If you see your wife works, does not mean that your obligation to fulfill family needs is gone. Karena kamu lah yang berkewajiban. Jika istrimu berbaik hati mau menyumbangkan penghasilannya, hukumnya sedekah. Kamu mau seumur hidup jadi penerima sedekah?.

 

 

Wallahu’alambissawwab.